Minggu, 01 November 2015

DONGENG PUTRA “PILU LE LAHILOTE”


DONGENG “PILU LE LAHILOTE”
Pada zaman dahulu, di suatu tempat di tanah U Duluo Lo'u Limo Lo Pohite, hiduplah seorang pemuda bernama Lahilote. Perawakan tegap, badan tinggi besar dan suka berburu. Dengan pekerjaan mengejar binatang buruan, ia sering moleleyangi (mengembara masuk keluar hutan). Angan-angannya tinggi, hatinya keras, kemauannya kuat, sehingga tak ada satu pun yang tidak dapat dilaksanakannya.
Di suatu pagi, Lahilote seperti biasanya keluar rumah, mengembara mencari binatang hutan. Ia ttiba-tiba di kejutkan oleh suara ribut-ribut. Suara itu kadang melemah, kadang keras. "suara apakah gerangan itu?" tanya Lahilote dalam hati. Kemudian ia perlahan-lahan menuju ke tempat suara itu. Setelah tiba di dekat tempat suara itu, Lahilote lalu mengintip dari tempat yang jauh. Dilihatnya tujuh wanita sedang mandi di kolam. Semuanya cantik jelita. Selesai mandi, wanita-wanita itu kemudian memakai kembali pakaiannya dan segera terbang ke kayangan. Nyatalah baginya bahwa wanita yang dilihatnya itu adalah putri lo owabu (putri bidadari).
Setelah mengetahui bahwa putri-putri kayangan sering berdatangan mandi di kolam itu. Lahilote kemudian selalu datang dan mengintip untuk mencari tahu kapan mereka datang lagi. Tepat hari ke tujuh, tibalah nampak tujuh buah titik hitam dari angkasa, menuju kolam itu. Lahilote pun bersembunyi di semak-semak dan belum menampakkan dirinya. Ia khawatir jangan sampai kepergok oleh mereka dan menyebabkan mereka takut. Lahilote tidak ingin menyianyiakan kesempatan emas itu. Ia berupaya mencari akal untuk menahan salah seorang gadis dan akan mempersuntingnya. Dengan kesaktiannya, Lahilote mengubah dirinya menjadi seekor ayam hutan jantan dan segera mencuri salah satu dari tujuh sayap yang di letakkan tadi dan membawanya pulang.
Lahilote menyembunyikan sayap itu di dalam lumbung padi. Kemudian ia kembali ke kolam untuk melihat apa yang telah terjadi. Ternyata gadis-gadis itu segera berangkat ke kayangan satu demi satu. Betapa sedihnya gadis itu di tinggal sendirian. Ia menangis tersedu-sedu. Lahilote pun mendekati gadis itu dan mencoba merayunya. Gadis itu bernama Boilode Hulawa. Akhirnya, keduanya berangkat menuju rumah lahilote dan menikah. Lahilote setiap hari melaksanakan tugasnya sebagai petani dan berburu. Boilode Hulawa pekerjaannya memasak, mencuci pakaian dan urusan rumah tangga lainnya.
Setiap hari Boilode Hulawa mengerjakan pekerjaan yang berat, yang berbeda dengan kehidupan di kayangan. Ia pun menggunakan kesaktiannya sebagai putri kayangan, ia pun dapat memasak dengan satu butir padi bisa mencukupi makan dia dan suaminya, tanpa diketahui oleh suami.
Pada suatu hari, sang suami berfikir, "berapa bulan telah berlalu, aku diberi makan dengan secukupnya, tetapi apa sebabnya padi di lumbung tidak berkurang? dan mengapa pula isteriku tidak pernah menumbuk padi ketika akan memasak?". Demikian tanya Lahilote dalam hati. Oleh karenanya timbulah niatnya untuk mengamati keadaan isterinya sehari-hari.
Pada suatu hari, Boilode menjerangakan periuk ke atas tungku untuk memasak nasi, ke dalam periuk itu di taruh oleh Boilode sebutir padi kemudian ditutupinya rapat-rapat. Sambil menunggu masak Boilode pergi kesumur untuk mencuci pakaian. Kemudian Lahilote pun masuk ke dapur dan memerikasa periuk itu. Alangkah terkejutnya Lahilote melihat isinya. Hanyalah sebutir padi terendam di dalam air. Tahulah ia akan rahasia isterinya. Selesai mencuci pakaian, Boilode masuk ke dapur memeriksa nasi yang di masaknya. "wuh...celaka. masih tetap sebutir padi?" katanya. Ditunggunya beberapa saat juga tidak berubah. "ah...mungkinkah suamiku sudah melihat isi periuk ini?" pikirnya. Sambil termenung, Boilode menyesali nasibnya, kini ia harus bekerja keras. Lama kelamaan padi itu semakin berkurang. Akhirnya, habislah padi di dalam lumbung itu. Saat Boilode mengambil padi yang terakhir, tampaklah olehnya sayapnya yang dulu hilang. Dan hal itu dirahasiakan dari suaminya.
Pada suatu waktu, Boilode Hulawa meminta suaminya untuk mencarikan ikan di laut. Lahilote pun segera berangkat ke laut. Boilode sengaja melakukan itu agar ia mempunyai waktu memperbaiki sayapnya dan segera kembali ke kayangan. Sebelum berangkat, Boilode menemui lumbung padi dan selanjutnya berkata "wahai lumbung! jangan sekali-kali anda memberi tahu suamiku bahwa sayapku yang engkau simpan telah aku ambil". Kemudian ia menemui pintu, jendela, dapur, belanga, dan setiap perabot rumah tangga lainnya. Selanjutnya ia menemui tumbuh-tumbuhan, rumput-rumputan, pohon-pohonan untuk maksud yang sama. Kecuali di anntara tumbuh-tumbuhan itu hutia Mala yang tidak di hubunginya. Karena konon rotan termasuk satu-satunya yang tidak mau di pengaruhi oleh siapapun.
Setelah Boilode berpesan, berangkatlah ia terbang ke angkasa terlebih ia mengintip keadaan suaminya di pantai. Lahilote sedang tidur nyanyak di pantai. Ia kemudian meludahi suaminya itu dengan luwa lo pomama (air sirih pinang) yang kebetulan sedang di kunyahnya. Luwa tersebut jatuh tepat ke dada Lahilote. Lahilote terbangun dan merasakan adanya air hangat di atas dadanya. Diperiksanya ternyata air itu adalah luwa lo pomama. "apakah gerangan yang terjadi?" pikirnya. Timbul kecurigaan, ketika di teliti lagi dan diciumnya ternyata baunya harum, seperti luwa yang biasa keluar dari mulut isterinya. Setelah meyakini hal tersebut ia merasa bahwa isterinya telah menemukan sayapnya dan pergi meninggalkan dirinya. Lahilote pun bergegas kembali kerumahnya. Selama dalam perjalanan, Lahilote bertanya kepada batu,"wahai batu! tidakkah kau pernah melihat isteriku, kemana ia pergi?". Batu menjawab sebagaimana yang dipesankan oleh Boilode Hulawa. "wahai Lahilote, aku tidak pernah melihat isterimu dan belum pernah mendengar kabar beritanya". Lahilote pun meneruskan perjalanannya. Ia menemui segala makhluk dan tumbuh-tumbuhan yang ada di sepanjang jalan untuk ditanyainya, tetapi semua menjawab tidak pernah melihat dan mendengar kabarnya.
Dengan hati kecewa Lahilote terus mencari jejak isterinya, ia bertanya kepada pintu, namun ia pun tidak memperoleh jawaban yang menggembirakan. Akhirnya Hutia Mala adalah pohon yang terakhir yang ia datangi. "wahai hutia mala! tidakkah kau melihat isteriku, kemana ia pergi?". Hutia Mala menjawab," wahai Lahilote!, aku melihat isterimu dan tahu dimana ia berada". Lahilote pun bertanya kembali, "wahai Hutia Mala! bisakah kau memberi tahuku dimana ia berada dan mengantarku?". "ia telah kembali ke kayangan dan jika kau ingin ku antarkan maka penuhi tiga syarat dariku", jawab Hutia Mala. Akhirnya Lahilote pun menerima tiga syarat tersebut. Setelah syarat itu terpenuhi, akhirnya Hutia Mala memenuhi janjinya untuk mengantarkan Lahilote ke kayangan. Sesampainya di kayangan, Lahilote melihat gadis-gadis yang sama cantiknya dengan isterinya. Sehingga sulit untuknya mencari isterinya satu di antara gadis-gadis itu. Akhirnya Lahilote menemukan isterinya Boilode Hulawa. Namun, Boilode Hulawa tidak mengakui bahwa Lahilote adalah suaminya. Asal ada satu syarat, maka Lahilote akan di akuinya sebagai suami dan tinggal di kayangan. Lahilote pun telah memenuhi syarat dari Boilode Hulawa. Mereka pun menjalin hubungan kembali di kayangan.
Selama bertahun-tahun di kayangan, rambut Lahilote pun telah beruban dan di ketahui oleh isterinya. Konon di dalam kayangan tidak boleh ada yang beruban karena uban adalah tanda-tanda penuaan. Kayangan adalah kehidupan yang abadi maka jika di temukan orang yang beruban berada di kayangan, maka akan segera di lempar ke bumi. "kalau begitu cabutlah ubanku ini dan bakarlah" seru Lahilote."itu akan lebih berbahaya, orang-orang yang berada di dalam kayangan akan mencium baunya" sambung Boilode Hulawa. "jalan satu-satunya yaitu pergi ke bumi dengan rambut Boliode Hulawa yang akan di sambung-sambung. Lahilote pun mulai turun ke bumi dengan bergelantungan di rambut Boilode Hulawa. Namun belum sampai ke bumi, rambut Boilode Hulawa sudah habis dan ia menjadi gundul. Sedangkam Lahilote masih melayang-layang di antara langit dan bumi, di hempas-hempaskan oleh angin ke seluruh penjuru mata angin.
Pada suatu saat rupanya cuaca berubah, langit kini mendung, tiba-tiba kilat memancarkan sinarnya, petir dan halilintar saling menyambar. Angin sejuk berubah menjadi angin topan menghempaskannya ke semua penjuru. Dalam keadaan demikian, rambut tempat ia bergantung putus dan akhirnya Lahilote jatuh hancur terbelah di angkasa akibat terpaan petir dan angin topan.

Ia terbelah dua, tubuh kanannya jatuh di kelurahan Pohe, sehingga telapak kakinya berbekas di atas batu yang ada di pinggir pantai tersebut. Sedangkan tubuh sebelah kirinya jatuh di pulao Boalemo Sulawesi Tengah dan meninggalkan telapak kakinya di sana. Bekas tapak kaki pada batu yang terdapat pada dua tempat inilah yang di sebut oleh orang Gorontalo dengan nama Botu Liodu.

DONGENG PUTRI DEWI SRI


DONGENG DEWI SARI DARI PURWAGALUH
Di tengah kehidupan masyarakat Purwagaluh yang hanya menggantungkan sumber makanan dari hasil buruan, kehidupan berubah menjadi neraka ketika hutan tak lagi menyediakan binatang untuk diburu.Tanah kering kerontang dan sungai tidak lagi menyisakan air  yang memberi kehidupan pada hewan dan tumbuhan.Purwagaluh adalah satu wilayah yang tengah mengalami bencana kekeringan terparah.
Sadana, Adikara, dan Dewi Sri, tiga orang yang ditugaskan mencari jalan keluar untuk membebaskan warga dari kesulitan dan memperbaiki kehidupan Purwagaluh secara keseluruhan. Namun dalam perjalanan tugas yang pertama pun mereka sudah menemukan kesulitan yang datang dari musuh bebuyutan mereka sejak kecil.
Demi mendapatkan Adikara yang dicintainya sejak kecil, Nuridami tak pernah berhenti mengejar dan menghalalkan segala cara dengan memanfaatkan kesaktian sang nenek, NyiUlojuga kakaknya Sapi gumarang dan Singasatru. Dalam satu pertarungan, Dewi Sri yang menyamar menjadi Camar  Seta berhasil membunuh Singasatru yang saat itu memimpin kelompok Bajak Lautnya menyerang Pelabuhan Atas angin, pulau yang paling maju dan makmur kala itu dan menjadi tempat Dewi Sri, Sadana dan Adikara mempelajari sebab kemajuan Atas angin untuk diterapkan di Purwagaluh. Sapi gumarang sangat murka mengetahui kabar kematian adiknya, Singa satru di Atas angin oleh Camar Seta.Segera ia mendatangi Sadana untuk membalas dendam pada Camar  Seta. Namun Nyi Ulo menahannya dengan alas an Singa satru yang jauh lebih saktipun berhasil dikalahkan Camar  Seta.
Akhirnya Sapi gumarang mau berlatih secara khusus bersama Nyi Ulo untuk menyempurnakan ilmu Lebur saketinya.Dari situlah Sapi gumarang kemudian menyadari sumber kekuatannya yang besar, yaitu amarah yang bisa melipat gandakan kekuatannya hingga mampu menguasai Lebur saketi dengan sempurna.
Segera setelah itu Sapi gumarang mendatangi Sadana untuk membunuh Camar  Seta, Sadana beralih tidak mengenal Camar Seta.Sapi gumarang tak mau percaya dan menyangka Camar Seta adalah Adikara yang memakai nama palsu. Sadana yang berniat membantu dihajarnya hingga pingsan dan Adikara dibawa pergi setelah tidak berdaya karena Nuridami merayu Sapi gumarang untuk tidak membunuhnya. Dewi Sri sangat sedih mengetahui kekasihnya, Adikara ditawan oleh Sapi gumarang. Namun berkat kesaktian Malih warni yang diajarkan oleh kakeknya, Aki Tirem, Dewi Sri bisa merubah dirinya menjadi seekor harimau jadi sangat frustasi dan akhirnya bunuh diri. Sapi gumarang jadi murka dan gelap mata setelah Budug basu dan Kala buat menghasutnya dan menuduh Dewi Sri yang telah membunuh Nuridami karena cemburu. Sapi gumarang langsung menyusun kekuatan untuk membunuh Dewi Sri sekaligus menguasai Purwagaluh yang saat itu sudah berubah menjadi wilayah yang sangat makmur berkat Dewi Sri, Sadana dan Adikara yang berhasil menciptakan sawah padi di sana. Dan ketika Dewi Sri dan Adikara merayakan panen padi pertama bersama warga di Desa Cidamar, pasukan Sapi gumarang yang dipimpin Budug basu datang untuk merebut semua hasil panen dan menangkap Dewi Sri. Namun Dewi Sri yang sudah sangat sakti berhasil mengalahkan Budug basu dan semua pasukannya.
Sapi gumarang tidak menyerah, ia menunjuk Kala buat untuk menggantikan Budug basu dan memimpin pasukan yang lebih banyak. Kala buat yang licik bersiasat untuk menyerang malam hari dengan kekuatan penuh.Saat itu Dewi Sri dan Adikarahanya berjaga – jaga dengan pemuda dan warga yang jumlahnya sangat sedikit karena banyak diantara warga Cidamar yang terbunuh pada peperangan melawan Budug basu. Kala buat dan pasukannya yang besar datang dengan penuh percaya diri.Ketika mengepung sawah, tempat Dewi Sri memfokuskan penjagaan. Dewi Sri dan Adikara tak mau menyerah begitu saja, mereka melawan semua pasukan Kala buat dengan sepenuh tenaga. Saat itu Budug basu yang sangat dendam keluar dengan pasukannya karena ingin Dewi Sri dan Adikara hanya mati di tangannya. Kala buat sempat marah karena Bubug basu
Hanya memimpin pasukan bantuan dan seharusnya belum boleh keluar.Tapi Budug basu tak peduli dan segera menyerang Dewi Sri untuk membunuhnya.Dewi Sri dan Adikara sangat terdesak menghadapi jumlah pasukan yang semakin banyak. Saat itulah Dewi Sri mengeluarkan ajian Malih warninya dan merubah dirinya menjadi ratusan kelelawar besar yang sangat buas. Pasukan Kala buat dan Budug basu kalang kabut menghadapi serangan ratusan kelelawar, mereka semua terbunuh dan hanya sedikit yang berhasil melarikan diri.Sementara Kala buat dan Budug basu pun tak luput dari serangan kelelawar.Mereka pun kemudian melarikan diri dengan wajah dan bukan yang penuh luka gigitan.
Sapi gumarang sangat murka mengetahui Kala buat dan Budug basu kembali kalah oleh Dewi Sri, terlebih lagi semua pasukannya yang habis terbunuh.Ia dengan murka menghajar Kala buat dan Budug basu. Kala buat membeladiri dan menyalahkan Budug basu yang membawa keluar pasukan bantuannya hingga akhirnya semua pasukan habis terbunuh.Budug basu tak mau kalah, ia menyalahkan Kala buat yang bersiasat menyerang malam hari hingga mereka diserang kelelawar ganas ciptaan sihir Dewi Sri. Mengetahui Dewi Sri yang menguasai sihir Sapi gumarang segera meminta bantuan Nyi Ulo untuk menghadapi Dewi Sri. Namun Dewi Sri dengan cerdik mengalahkan semua sihir dari NyiUlo yang menyerangnya, bahkan Nyi Ulo pun tewas oleh serangan balik dari DewiSri.
Sapi gumarang murka dan menantang Dewi Sri untuk adu tanding dengannya. Dewi Sri melayani tantangan Sapi gumarang dan bertarung dengan tangan kosong. Sapi gumarang yakin mampu membunuh Dewi Sri dengan kekuatan penuh Lebur saketinya. Namun Dewi Sri yang sudah bersiap dengan ajian Sungsang buana berhasil mengembalikan pukulan dahsyat Lebur saketi. Sapi gumarang pun tewas oleh ajian Lebursa ketinya sendiri. Mengetahui kenyataan itu Kala buat dan Budug basu tak bisa berbuat apa-apa.Merekapun menyerah ketika pasukan Sadana tiba-tiba datang meringkusnya.
Semua warga dan pasukan bergembira menyambut kemenangan Dewi Sri.Mereka semua mengelu-elukan nama Dewi Sri dan menjulukinya sebagai Dewi Padi karena jasa terbesarnya yang telah menciptakan tanaman padi diseluruh wilayah Purwagaluh.

DONGENG SEJARAH KOTA BLITAR


DONGENG SEJARAH KOTA BLITAR
Pada zaman dahulu, di wilayah Kabupaten Blitar ada sebuah kadipaten(Kabupaten) bernama Kadipaten Aryablitar. Adipati-nya (bupatinya) bernama Adipati Nila Suwarna. Adipati ini mempunyai seorang wakil bernama Ki Ageng Sengguruh.
Ki Ageng Sengguruh pada mulanya sangat patuh dan setia pada Adipati Nila Suwarna. Isteri Ki Ageng Sengguruh yang bernama Nyai Ageng Sengguruh tidak suka pada kepatuhan dan kesetiaan suaminya. Apalagi Nyai Ageng Sengguruh sudah lama ingin menjadi permaisuri seorang adipati. Nyai Ageng Sengguruh merayu Ki Ageng Sengguruh agar mau merebut kekuasaan Adipati Nila Suwarna.
Ki Ageng Sengguruh termakan rayuan Nyai Ageng Sengguruh. Dia menjadi manusia bermuka dua. Di depan Adipati Nila Suwarna, Ki Ageng Sengguruh selalu menampakkan kepatuhan dan kesetiaannya. Di belakang, Ki Ageng Sengguruh selalu menjelek-jelekkan Adipati Nila Suwarna. Ki Ageng Sengguruh juga berhasil merayu beberapa punggawa kadipaten untuk diajak mencari kesempatan merebut kekuasaan.

Kesempatan yang ditunggu-tunggu Ki Ageng Sengguruh untuk merebut kekuasaan pun datang. Saat itu, permaisuri Adipati Nila Suwarna yang bernama Dewi Rayungwulan sedang hamil. Dewi Rayungwulan pun mengidam. Ia ingin sekali makan ikan bader abang asisik kencana (bader merah bersisik emas). Dewi Rayungwulan menyampaikan keinginannya pada Adipati Nila Suwarna.
“Aku sangat senang Dinda hamil. Sudah lama kurindukan untuk mempunyai anak. Kini keinginku akan segera terwujud. Namun, permintaan Dinda ingin makan ikan bader merah bersisik emas sangat aneh. Tapi biarlah! Aku akan minta bantuan Paman Patih Ki Ageng Sengguruh untuk mencarinya,” kata Adipati Nila Suwarna pada Dewi Rayungwulan.
Adipati Nila Suwarna segera memanggil Ki Ageng Sengguruh. Adipati Nila Suwarna menceritakan tentang permintaan permaisurinya pada Ki Ageng Sengguruh.
“Tolonglah, Paman! Carikan ikan bader merah bersisik emas itu untuk permaisuriku! Apa pun syarat dan berapa pun biayanya akan aku penuhi!” pinta Adipati Nila Suwarna.
“Baiklah, Gusti Adipati! Hamba akan berusaha mencari ikan bader merah bersisik emas itu. Izinkan hamba sekarang juga berangkat mencarinya!”
Mula-mula Ki Ageng Sengguruh memang mencari ikan bader merah bersisik emas. Dia bertanya pada para pencari ikan. Mungkin ada di antara mereka yang pernah melihat ikan bader merah bersisik emas. Namun, para pencari ikan tak seorang pun yang tahu. Ki Ageng Sengguruh pun pulang dengan gontai.
Saat pulang, Ki Ageng Sengguruh melewati sebuah kedung (bagian sungai yang lebar dan dalam) bernama kedung Gayaran. Kedung Gayaran adalah kedungyang sangat angker. Siapa pun yang berani masuk ke air di kedung itu pasti akan tenggelam dan meninggal dunia. Para pencari ikan tak ada yang berani mencari ikan di kedung Gayaran.
Tiba-tiba terlintas akal licik Ki Ageng Sengguruh. Timbul niatnya untuk mencelakakan Adipati Nila Suwarna dan merebut kekuasaan Kadipaten Aryablitar. Ki Ageng Sengguruh pun mempergunakan kesaktiannya. Dia mengubah sumping(hiasan) daun telinga kanannya menjadi ikan bader merah bersisik emas. Ikan itu lalu dilepas di kedung Gayaran.
Ki Ageng Sengguruh bergegas kembali ke kadipaten menghadap Adipati Nila Suwarna. Ki Ageng Sengguruh melaporkan bahwa telah mengetahui keberadaan ikan bader merah bersisik emas itu.
“Tempatnya di kedung Gayaran, Gusti Adipati!” lapor Ki Ageng Sengguruh.
“Mengapa Paman Patih tidak menyuruh orang untuk menangkapnya dan membawa kemari?” Tanya Adipati Nila Suwarna.
“Maafkan hamba, Gusti Adipati! Tak seorang pun yang bernai mengambil ikan itu. Ikan itu dipercaya sebagai ikan peliharaan dewa. Hanya para raja atau adipati saja yang dapat menangkapnya. Untuk itu, Gusti Adipatilah yang harus menangkapnya sendiri.
“Baiklah! Aku yang akan menangkap sendiri. Sebenarnya, aku tidak bias berenang. Namun, demi memenuhi permintaan isteri dan calon anakku, apa pun akan kulakukan,” kata Adipati Nila Suwarna. “Ayo, Paman! Tunjukkan di manakedung Gayaran tempat ikan itu berada!”
Adipati Nila Suwarna diiringi prajurit pengawal mengikuti Ki Ageng Sengguruh menuju kedung Gayaran. Sesampai di kedung Gayaran, Adipati Nila Suwarna memang melihat ada seekor ikan bader merah bersisik emas. Ikan itu sedang berenang ke sana kemari. Sisik emasnya memantulkan cahaya kemilauan terkena sinar matahari.
Hati Adipati Nila Suwarna sangat senang sekali. Dinda Rayungwulan pasti akan senang sekali karena keinginannya terkabul, pikir Adipati Nila Suwarna.
“Prajurit, siapkan jaring untuk menangkap ikan itu! Aku sendiri yang akan turun kekedung untuk menangkapnya” perintah Adipati Nila Suwarna pada salah seorang prajurit pengawalnya. Prajurit itu segera memberikan jaring penangkap ikan pada Adipati Nila Suwarna. Sang Adipati pun berisap-siap terjun ke air kedung.
Adipati Nila Suwarna berenang di air kedung sambil membawa jaring. Dikejarnya ikan bader merah bersisik emas yang berenang ke sana kemari itu. Ikan itu ternyata gesit sekali.  Berkali-kali Adipati Nila Suwarna berusaha menjaringnya. Namun, ikan itu behasil lolos.
Adipati Nila Suwarna menjadi kelelahan. Akhirnya, Adipati Nila Suwarna tak dapat menggerakkan badannya karena sangat lelah. Adipati Nila Suwarna pun tenggelam di kedung itu.
Ki Ageng Sengguruh segera menyuruh para prajurit pengawal menolong Adipati Nila Suwarna. Namun, terlambat sudah! Adipati Nila Suwarna sudah meninggal dunia. Jenazah Adipati Nila Suwarna dibawa kembali ke kadipaten dan dikuburkan dengan baik.
Ki Ageng Sengguruh kemudian mengambil alih kedudukan Adipati Nila Suwarna sebagai adipati di Kadipaten Aryablitar. Ia mengumumkan pada seluruh punggawa dan rakyat Kadipaten Aryablitar bahwa dialah sekarang yang menjadi adipati. Ia memakai gelar Adipati Nila Suwarna II.
Tak seorang pun yang berani membantah keputusan Ki Ageng Sengguruh. Dewi Rayungwulan yang tidak menyetujui keputusan Ki Ageng Sengguruh diusir dari kadipaten. Dewi Rayungwulan yang sedang hamil itu pun meninggalkan kadipaten dengan hati sedih. Dewi Rayungwulan tak tahu akan pergi ke mana.
Kesimpulan
Cerita ini tergolong legenda. Nama Blitar konon diambil dari nama Kadipaten Aryablitar dahulu. Legenda ini sangat dikenal oleh masyarakat Blitar. Makam Adipati Nila Suwarna juga masih dapat dijumpai hingga sekarang. Tempatnya di Desa Blitar, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.
Cerita ini memberi pelajaran kepada kita agar jangan mudah percaya dengan perkataan orang lain. Apa yang dikatakan orang lain perlu dibuktikan sendiri kebenarannya. Jangan sampai kepercayaan kita dimanfaatkan orang lain yang berniat tidak baik.



DONGENG MISTIS GUNUNG LAKAAN


DONGENG GUNUNG LAKAAN
Menurut cerita orang tua- tua di Belu, pada jaman dahulu kala, seluruh pulau timor masih di genangi air, kecuali puncak gunung lakaan. Pada suatu hari turunlah seorang putri dewata di puncak gunung lakaan dan tinggallah ia di sana.putri dewata itu bernama laka lorak mesak yang dalam bahasa belu berarti putri tunggal yang tidak berasal usul. Laka lorak mesak adalah seorang putri cantik jelita dan luar biasa kesaktian.
Karena kesaktiannya yang luar biasa itu, maka laka lorak mesak dapat melahirkan anak dengan suami yang tidak pernah di kenal orang. Itulah sebabnya laka lorak mesak di sebut pula dengan nama nain bilakan yang artinya berbuat sendiri dan menjelma sendiri.
            Beberapa tahun kemudian putri  laka lorak mesak berturut- turut melahirkan dua orang putra dan dua orang putri. Kedua putra di beri nama masing – masing, atok lakaan dan taek lakaan. Sedangkan kedua putrinya masing- masing di beri nama : elak loa lorak dan balak loa lorak.
            Setelah keempat putra- putri ini dewasa maka dikawinkan oleh ibunya karena di puncak gunung tidak ada keluarga lain. Atok lakaan kawin dengan elak loa lorak dan taek lakaan kawin  dengan balak loa lorak. Sementara itu air laut mulai surut dan pulau timor sudah terbentuk menjadi daratan yang luas. Atok lakaan dan istrinya elak loa lorak kemudian pindah dari lakaan ke bukit nanaet dubesi, lalu mendirikan kerajaan yang bernama naetenu.
            Dikisahkan pula bahwa salah seorang anak dari atok lakaan ini kemudian hari terus merantau ke timor – timur dan  mendirikan sebuah kerajaan di sana yang di beri nama mau katar. Nama mau katar ini masih ada hingga sekarang. Turunan atok lakaan  yang lain terus manetap di belu dan mendirikan kerajaan sendiri dengan nana kerajaan fehalaran. Sedangkan taek lakaan dan istrinya balak loa lorak memperanakkan 10 orang anak laki-laki. Semuanya kemudian menjadi pemuda yang gagah berani dan mereka merantau ke mana – mana.
            Seorang anak yang bernama dasi tuka mauk berlayar ke pulau flores lalu kawin dan menetap. Sedangkan 4 orang anak lainnya merantau di daerah timor tengah utara sekarang. Mereka yang merantau dan menetap di timor tengah utara ialah masing- masing:
v  Dasi boki mauk menetap di desa biboki
v  Dasi sana mauk menetap di insana
v  Dasi lida mauk menetap di lidak, dan
v  Dasi leku mauk menetap di lekuhun.
Kelima putra lain dari taek lakaan tetap tinggal dibelu dengan keturunannya hingga sekarang.
Dari kisah putri laka lorak mesak inilah timbul adat kebiasaan di belu hingga sekarang dimana anak-anak selalu mengikuti keluarga ibu. Juga dari kisah inilah orang belu, orang timor- timur, orang timor tengah utara maupun flores sampai hari ini tetap merasa bersaudara.
Klasifikasikan :

1.       Bentuknya:
·         Puisi seperti mantra
·         Prosa seperti legenda
2.      Isinya : Menceritakan tentang seorang putri dengan perjalanan hidup
3.      Pengaruh melayu kuno.
4.      Pesan / amanat : berbuatlah sesuai kehendak sendiri