Minggu, 01 November 2015

DONGENG SEJARAH ORANG NIAS


DONGENG SEJARAH ORANG NIAS
Asal usul orang Nias seringkali menjadi bahan polemik diantara orang-orang Nias, karena hingga saat ini terlalu benyak versi mengenai ASAL USUL ORANG NIAS, dan belum ada satupun diantara pendapat para ahli yang dapat dijadikan sebagai suatu yang mutlak kebenarannya yang dapat diterima dan dipercayai oleh orang-orang Nias. Oleh karena itu merasa terpanggil untuk menyajikan tulisan ini, yang merupakan rangkuman hasil pengalaman  dari tua-tua Adat Nias, sebagai pemicu semangat orang-orang Nias agar menelusuri terus tentang asal usulnya

Menurut Legenda yang sangat dipercayai oleh sebagian masyarakat Nias terutama yang tinggal di pedesaan, bahwa asal usul orang Nias adalah diturunkan dari langit (NIDADA MOROI BA LANGI). Hal ini dilatarbelangi oleh keterbatasan pemahaman / pengetahuan mereka mengenai ilmu pengetahuan, sehingga beranggapan bahwa didunia ini hanya ada satu daratan yaitu hanya daratan Pulau Nias atau TANÖ NIHA, itulah sebabnya orang Nias menyebut dirinya sebagai ONO NIHA.

Mengingat sebagian istilah dalam bahasa Niasnya kurang tepat apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka saya menuliskannya dalam Bahasa Daerah Nias, dan pada penekanan-penekanan tertentu saya juga akan menuliskan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Dan setiap tahapan tertentu saya akan memetik suatu makna yang terkandung didalamnnya, yang dapat menjadi bahan renungan / pembelajaran bagi kita.

CERITA SELENGKAPNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT

Ketika Raja Sirao sudah mulai tua, maka ia pusing tujuh keliling, karena ke 9 orang anak-anaknya semuanya ingin menjadi pengganti Sirao sebagai Raja.

Ke sembilan anak Sirao adalah sebagai berikut :
1. Tuada Bawuadanỡ
2. Tua Zangarỡfa
3. Tua Bela
4. Tua Simanga Buaweto Alitỡ
5. Tua Samadu Sonamo Dalỡ
6. Hia Walangi Adu
7. Gỡzỡ Hela-hela Danỡ
8. Daeli Sanau Talinga
9. Luo Mewỡna

Lalu Sirao memanggil / mengumpulkan ke-9 orang anak-anaknya, mengatakan bahwa : Siapa yang akan menggantikan posisinya sebagai raja, dia akan mempunyai tanda-tanda, yaitu “ Barang Siapa diantara ke-9 anak-anaknya, yang dapat menari seperti burung rajawali atau seperti burung elang diatas ujung tombak khusus sang Raja, maka dialah yang akan menggantikan Sirao sebagai Raja.


Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu menganggap dirinyaØ sebagai anak raja, sehingga sangat tersinggung dan marah apabila ada yang mengatakan orang Nias ada yang menjadi budak, karena prinsipnya adalah : “ FAOMA ITA ONO NAMADA”, artinya kita adalah sama-sama berasal dari keturunan orang terhormat. Hal ini membuat orang Nias selalu menjaga sikap / perilakunya dilingkungan dimana ia berada. Namun hal ini pula yang membuat kita kadang-kadang terkesan angkuh / sombong.

Tuan Bawuadanỡ putra Raja Sirao yang ke-1, menjawab bahwa karena ia putra yang pertama, maka dialah yang berhak menjadi raja menggantikan Sirao ayahnya setelah meninggal kelak. Lalu Sirao menyuruh Bawuadanỡ, menari diatas ujung tombak dan ternyata ia gagal, dan karena itu maka Bawuadanỡ diturunkan ke bumi yang luas, dan jatuh ditengah-tengah pusaran bumi, sehingga ia menjadi PENOPANG BUMI.

Itulah sebabnya dalam kepercayaan orang tua-tua dulu, melarang seseorang untuk mengucapkan Sumpah Palsu dengan menyebutkan nama Tuada Bawua Danỡ, sebab ia akan marah kalau seseorang melakukan sumpah palsu dengan menyebut namanya, sehingga orang tersebut dalam waktu yang tidak terlalu lama pasti akan mendapatkan hukuman yaitu Kematian.

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal dan mengutamakanØ kejujuran (tidak berdusta atau berkata bohong), sebab kalau tidak jujur maka akan mendapatkan hukuman yaitu Kematian.

Setelah Tuan Bawuadanỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-2 yaitu Tuan Zangarỡfa melompat sambil mengatakan bahwa karena ia putra ke-2, maka dialah yang berhak menjadi raja menggantikan ayahnya Sirao, apabila Sirao meninggal dunia kelak. Dan iapun gagal, sama seperti abangnya Bawuadanỡ, dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh ditengah-tengan air sehingga ia menjadi PENGUASA AIR.

Itulah sebabnya dalam kepecayaan orang tua-tua dulu, dilarang membuang air besar di sungai soalnya Tua Zangarỡfa akan marah karena sumber airnya kotor. Akibatnya dapat menyebabkan kecelakaan / hanyut (Ahani) kalau menyeberangi sungai saat banjir (Mangỡtỡ Molỡ) atau tidak mendapatkan ikan (Lỡ ahulu) kalau hendak memancing atau menjala atau mencari ikan di Sungai.

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal dan mengutamakanØ kebersihan, sebab kalau tidak maka akan mendapatkan hukuman yaitu Hidup Tidak beruntung (sial).

Setelah Tuan Zangarỡfa diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-3 yaitu Tuan Bela, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Zangarỡfa dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh diatas pohon yang besar sehingga ia menjadi PENGUASA POHON.

Itulah sebabnya dalam kepecayaan orang tua-tua dulu, Dilarang keluar rumah kalau sedang hujan campur panas (Teu Sino) dan setelah teu sino biasanya akan dilanjutkan dengan angina kencang dan hujan lebat, sebab Tuada Bela sedang marah karena hutannya banyak yang dirusak, sehingga ia kekurangan tempat berteduh. Orang yang keluar rumah saat itu bisa-bisa sakit atau Tesafo, dan akibat hujan deras beserta angin kencang maka menyebabkan pepohonan bertumbangan dan banjir.

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal masalahØ kesehatan dan menjaga kelestarian lingkungan sebab kalau tidak maka akan mendapatkan hukuman yaitu Penyakit dan Bencana Alam.

Setelah Tuan Bela diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-4 yaitu Tuan Simanga Bua Weto Alitỡ, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Bela dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh diatas batu yang besar sehingga ia menjadi GURU BLACK MAGIC di Nias.

Tuada Simanga Bua Weto Alitỡ dipercayai sebagai kakeknya Laowỡmaru, yang punya cita-cita menghubungkan dataran Nias dengan Dataran Sumatera namun tidak sempat karena dia keburu meninggal.

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu sudah dapat membedakanØ mana yang baik dan mana yang jahat, dan mengajarkannya kepada anak-anaknya sebab kalau berbuat jahat maka akan mendapatkan hukuman yaitu : Umur tidak panjang dan cita-cita tidak pernah tercapai.

Setelah Tuan Simanga Bua Weto Alitỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-5 yaitu Tuan Samadu Sonamo Dalỡ, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Simanga Bua Weto Alitỡ dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh diatas puncak Gunung Gui-gui (yang merupakan salah satu gunung tertingggi di Nias) sehingga ia menjadi GURU PARA DUKUN DAN TUKANG RAMAL di Nias.

Tuan Samadu Sonamo Dalỡ, dipercayai sebagai gurunya para Dukun dan Tukang Ramal dapat menyembuhkan orang sakit karena bala/guna-guna dan dapat meramal nasib seseorang

Makna / pelajaran yang dapat dipetik :
Nenek moyang orang Nias, sudah sejak dahulu mengenal cara-caraØ pengobatan tradisional dan cara meramal nasib, tapi harus digunakan untuk menolong sesama bukan untuk menyakiti orang lain.

Setelah Tuan Samadu Sonamo Dalỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-6 yaitu Tuan Hia Walangi Adu, Tuan Hia Walangi Luo, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Samadu Sonamo Dalỡ dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh daerah Gomo.Dan setelah Tuan Hia diturunkan ke bumi, maka bumi Nias di bagian Selatan menjadi miring.

Setelah Tuan Hia Walangi Adu, Tuan Hia Walangi Luo diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-7 yaitu Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Hia Walangi Adu, Tuan Hia Walangi Luo dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh daerah bagian Utara Pulau Nias. Dan setelah Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ diturunkan ke bumi, maka bumi Nias melengkung.

Setelah Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ diturunkan ke bumi, maka putra Raja Sirao yang ke-8 yaitu Tuan Daeli Sanau Talinga, Tuan Daeli Sanau Tumbo, mencoba namun iapun gagal, sama seperti abangnya Tuan Gỡzỡ Hela-hela Danỡ, dan karena itu iapun diturunkan ke bumi yang luas dan jatuh di Tỡla Maera Talu Nidanoi. Dan oleh karena Tuan Daeli merupakan anak kesayangan dari Tuan Sirao, maka ketika Tuan Daeli diturunkan ke bumi Tanỡ Niha bersamanya diikutsertakan Seperangkat Perhiasan Emas dan Perak, Peralatan Tombak dan Pedang serta berbagai Alat Timbangan. Dan setelah Tuan Daeli diturunkan ke bumi, maka bumi Nias menjadi rata dan tidak lagi melengkung.

Pada akhirnya satu-satunya Keturunan Tuan Sirao yang tinggal diatas langit yaitu Tuan Luo Mewỡna, yang dipercayai sebagai penguasa Matahari dan Bulan, sehingga kalau hujan turun berarti Tuan Luo Mewỡna sedang bersedih hati, dan kalau bulan purnama yang cerah berarti Tuan Luo Mewỡna sedang senang hati / bergembira.



DONGENG AIR DANAU TOBA


DONGENG ASAL USUL DANAU TOBA
Di Sumatera Utara terdapat danau yang sangat besar dan ditengah-tengah danau tersebut terdapat sebuah pulau. Danau itu bernama Danau Toba sedangkan pulau ditengahnya dinamakan Pulau Samosir. Konon danau tersebut berasal dari kutukan dewa.

Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. “Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar,” gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.

Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan. “Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku.” Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. “Bermimpikah aku?,” gumam petani.

“Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata,” kata gadis itu. “Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu,” kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.

Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut. “Dia mungkin bidadari yang turun dari langit,” gumam mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. “Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus! ” kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.

Setahun kemudian, kebahagiaan Petani dan istri bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.

Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. “Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!” kata Petani kepada istrinya. “Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik,” puji Puteri kepada suaminya.

Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. “Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan !,” umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu.

Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.


DONGENG SEJARAH KOTA KLATEN



DONGENG PUTRI AGENG BAGELEN



DONGENG NYAI AGENG BAGELEN
Nyai Ageng Bagelen mempunyai nama asli Rara Wetan, dia adalah putri yang cantik jelita, pintar di bidan kerajinan tenun, suka bertani, dan suka bersemedi atau tapa brata, dia merupakan putri dari salah satu toko yang sangat terkenal di kukuban Bagelen yaitu Jaka Panuntun.
Diceritakan Jaka Panuntun adalah Putra dari Raden Panularan salah satu jagal dan ahli deres / mengambil sari dari buah nira, Raden Panularan putra Prabu Kandhidawa dari Negara Karipan, sedang Prabu Kandhidawa adalah Putra Prabu Daniswara dari Negara Medhangkamulan, jadi Rara Wetan adalah memang masih keturunan dari trah Kerajaan yang dihormati.
Banyak para pemuda yang kasmaran kepada kecantikan Nyai Ageng Bagelen atau Rara Wetan, dan ingin mempersuntingya, Tumenggung Wingko adalah salah satu penguasa di daerah Wingko juga tertarik untuk mempersuntingnya, maka beliau mengutus utusan untuk melamarnya, akan tetapi lamaran Tumenggun Wingko ditolak oleh Ayahnya Rara Wetan yaitu Jaka Panuntun dengan alasan Rara wetan belum siap untuk berumah tangga, Tumenggung Wingko tidak terima dengan penolakan tersebut, sehingga dengan diam-diam menculik Rara Wetan untuk dibawa ke Wingko.
Begitu tau Rara Wetan diculik, Jaka Panuntun lalu menuduh Tumenggung Wingko sehingga terjadi peprangan, dalam perang tanding Jaka Panuntun melawan Tumenggung Wingko, Jaka Panuntun mengalami kekalahan, tubuhnya terlempar dan tak sadarkan diri, dikira Jaka Panuntun sudah tewas, lalu dibuang ke sungai yang dahulu menuju ke sebuah telaga, tubuh Jaka Panuntun  terbawa arus sungai ikut aliran air.
Jaka Awu-awu Langit dan Adipat Kayumunthu saat itu dengan menggunakan sampan dari arah selatan, melihat ada sesosok tubuh hanyut lalu dengan segera memberikan pertolongan, dan selanjutnya tubuh Jaka Panuntun di angkat ke sampan dan di beri pengobatan sehingga bisa tertolong.
Jaka Panuntun lalu menceritakan semua kejadian tersebut kepada Jaka Awu-awu Langit dan Adipati Kayumunthu, mendengar cerita dari Jaka Panuntun, Jaka Awu-awu Langit lalu mempunyai sebuah siasat untuk membunuh Tumenggung Wingko yang sudah menerjang aturan, diceritakan Tumenggung Wingko memang sakti mandraguna, sehingga Jaka Awu-awu Langit perlu siasat untuk menghabisinya yaitu dengan berpura-pura mengajak sabung ayam.
Di babak pertama belum terlihat siapa yang menang dan siapa yang kalah, ayam Jaka Awu-awu Langit mempunyai jalu yang cukup tajam, diceritakan tajamnya jalu ayam Jaka Awu -awu Langit mampu membelah batu yang di hantamnya, batu tersebut sekarang tersimpan di dalam masjid di Desa Awu-awu, sesudah istirahat pertama selesai, sabung ayam kembali di lanjutkan, di babak kedua suasana sabung ayam tersebut bertambah ramai oleh sorak sorai para warga dan punggawa yang memenuhi arena sabung ayam tersebut, dan saat – saat puncak keramaian tersebut, Jaka Awu-awu Langit menyerang Tumenggung Wingko dengan tiba-tiba, sehingga tanpa perlawanan yang berarti tumenggung Wingko tewas di arena sabung ayam tersebut, dan punggawa yang lain begitu melihat Tumenggung wingko tewas meraka tidak mampu untuk memberikan perlawanan karena memang tiada persiapan.
Rara Wetan lalu dikembalikan ke Bagelen ke pangkuan Jaka Panuntun, Jaka Panuntun merasa berhutang budi kepada Jaka Awu-awu Langit, lalu Rara Wetan di nikahkan dengan Jaka Awu-aw Langit, keduanya hidup berdampingan dalam kebahagiaan rumah tangga, dan diberikan tiga orang putra, yang pertama putra di beri nama Bagus Gentho, yang kedua putri di beri nama Rara Pitrah, dan yang terakhir juga putri di beri nama Rara Taker.
Dalam ceritanya Nyai Ageng Bagelen mempunyai payudara panjang, waktu Nyai Ageng sedang bekerja ( menenun ) payudaranya di hisap oleh anak sapi ( pedhet ) piaraan Bagus Gentho dari belakang, perasaan Nyai Ageng yang menghisap adalah salah satu dari puteranya maka dibiarkan saja, akan tetapi lama kelamaan di rasa oleh Nyai Ageng tidak seperti biasanya, maka Nyai Ageng menoleh kebelakang, dan terkejut bukan kepalang Nyai Ageng ternyata yang menete ternyata adalah pedhet ( anak sapi ), akhirnya karena saking marahnya, pedhet tersebut di pukulinya sampai mati.


DONGENG PUTRI TANGGUK BULAN


DONGENG KISAH PUTRI TANGGUK
Hari ini Putri Tangguk akan memanen sawahnya lagi. Sawahnya tidak besar, tapi hasilnya banyak sekali. Anehnya lagi, setiap habis dipanen, padinya selalu muncul dan siap untuk dipanen lagi. Tujuh lumbung milik Putri Tangguk pun hampir penuh menampung hasil panen.
Putri Tangguk hidup bersama suami dan ketujuh anaknya. Setiap hari ia dan suaminya pergi ke sawah untuk memanen padi. Hari ini adalah panen terakhir. Putri Tangguk mengajak semua anaknya. Setelah ketujuh Iambungnya penuh, ia bisa beristirahat untuk beberapa bulan ke depan. Putri Tangguk dan keluarganya memanen padi di sawah mereka. Hasil panen itu mereka masukkan ke gerobak besar.
"Nah, selesai sudah panen terakhir kita. Persediaan padi kita cukup untuk beberapa bulan," kata Putri Tangguk. Mereka mendorong gerobak bersama-sama. Mereka senang memiliki sawah yang subur dan menghasilkan banyak padi.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba Putri Tangguk terjatuh. "Aduuhh...," teriaknya. "Hati-hati Bu, semalam hujan deras sekali, makanya jalanan jadi licin," kata suaminya sambil membantunya berdiri.
"Hujan tak tahu diri! Gara-garanya jalanan ini jadi licin. Bisa-bisa aku terjatuh lagi nanti. Bukankah perjalanan ke rumah masih jauh?" omel Putri Tangguk. Putri Tangguk lalu mengambil padi yang baru dipanen dan diserakkan di jalanan.
"Apa yang Ibu lakukan? Mengapa padi-padi itu dibuang?" tanya anak sulungnya.
"Ibu bukan membuang padi. Ibu menyerakkannya supaya jalan ini tidak licin lagi. Padi ini kuanggap sebagai pengganti pasir." jawab Putri Tangguk.
"Istriku... bukankah padi itu untuk kita makan? Rasanya tidak baik jika kita membuang-buang makanan," nasihat suaminya.
"Ah... masa bodoh. Bukankah padi kita sudah banyak? Kau mau aku jatuh lagi dan tulangku patah?" jawab Putri Tangguk sambil terus menyerakkan padi-padinya. Suami dan anak-anaknya tak bisa membantah. Akhirnya padi di gerobak tinggal separuh.
Sejak panen terakhir itu, Putri Tangguk tak pernah lagi ke sawah. Ia lebih banyak berada di rumah, merawat anak-anaknya. Suatu malam, ketika Putri Tangguk tidur, anaknya yang bungsu merengek karena lapar. Putri Tangguk pergi ke dapur untuk mengambil nasi di panci.
"Aneh, kenapa panci ini kosong? Bukankah tadi masih ada sedikit nasi di sini?" katanya dalam hati. Karena si bungsu terus merengek, Putri Tangguk memutuskan untuk menanak nasi lagi. Putri Tangguk kembali terkejut. Beras yang disimpannya di kaleng juga lenyap tak berbekas. Ia ingat betul, sebelumnya di kaleng itu masih banyak beras.
"Ke mana perginya beras itu? Jangan-jangan ada orang yang mencurinya." Putri Tangguk tak bisa berpikir panjang. Ia sangat mengantuk. Dibujuknya si bungsu untuk tidur. Besok, ia akan mengambil padi di lumbung clan menumbuknya menjadi beras.
Pagi pun tiba, ketika ia mendengar teriakan suaminga. "Istriku.., istriku... cepat kemari!" Putri Tangguk segera Iari keluar menemui suaminga yang sedang berdiri di depan pintu lumbung. Lumbung itu kosong melompong! Putri Tangguk menghampiri suaminya. "Apa yang terjadi, Bang?" tanganya cemas. "Aku tak tahu. Lumbung ini sudah kosong saat aku membukanya," jawab suaminya. Putri Tangguk dan suaminya segera memeriksa lumbung yang lain. Mereka berdua terkulai lemas, karena mendapati semua lumbung telah kosong. Tak tersisa sebutir padi pun.
Putri Tangguk menangis "Apa yang terjadi padaku? Sejak semalam sudah terjadi keanehan. Nasi di panci hilang. Beras di kaleng hilang. Sekarang padi di lumbung pun hilang." Suaminya berusaha untuk menghibur, "Jangan cemas istriku. Bukankah kita masih memiliki sawah? Ayo kita tengok, siapa tahu padinya telah menguning," Dengan perasaan cemas, Putri Tangguk pun mengikuti suaminga ke sawah.
Tangis Putri Tangguk semakin keras saat melihat sawahnya. Sawah itu telah hilang dan berubah menjadi tumbuhan semak belukar. Putri Tangguk duduk bersimpuh di tanah, "Apa maksud semua ini? Apa salahku?" ratapnya. Seharian itu Putri Tangguk menangis. Ia tak mau pulang. Ia mencemaskan anak-anaknya yang belum makan.
Ia bersikeras untuk menunggui sawahnya dan berharap keajaiban terjadi. Suaminya mengalah dan pulang ke rumah untuk menjaga anak-anaknya. Karena kelelahan, Putri Tangguk tertidur di sawah. Dalam mimpi, ia didatangi oleh segerombolan padi yang bisa berbicara. "Hai Putri Tangguk, inilah buah kesombonganmu. Masih ingatkah kau ketika membuang kami begitu saja di jalanan?" tanya mereka. Putri Tangguk terkejut mendengar perkataan padi itu. Ia kemudian teringat perbuatannya. "Kau telah menghina kami karena menjadikan kami pasir untuk alas jalanmu. Kami ini dipanen untuk dimakan, bukan untuk diinjak. Dengan membuang kami, berarti kau tak membutuhkan kami untuk makananmu," kata padi-padi itu lagi.
Putri Tangguk diam tak menjawab. Ia menyesali kebodohannya membuang-buang padi di jalan. "Tidak bisakah kalian memaafkanku?" tanya Putri Tangguk. "Memaafkan itu perkara yang mudah. Tapi kami tak bisa lagi seperti dulu, tumbuh dengan mudah di sawahmu. Sekarang kau dan keluargamu harus bekerja keras untuk mendapatkan kami. Bersihkan tanah ini dari semak-semak, bajaklah, dan tanamlah kami. Setelah tiga bulan, kau baru akan memanen kami. Demikian seterusnya," jawab padi-padi itu. Putri Tangguk hendak menjawab ketika kemudian ia tersentak bangun dari tidurnya.
Lalu ia pulang ke rumah dan menceritakan mimpinya pada suaminya. Putri Tangguk sekeluarga bergotong-royong untuk menanam padi lagi. Dengan sabar mereka menunggu sampai padi itu siap dipanen. Sekarang, Putri Tangguk tak pernah menyia-siakan sebutir padi pun. Ia merawat sawah dan menjaga padinya dengan baik. Ia tak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Meskipun keadaannya sekarang susah, Putri Tangguk bersyukur telah mendapat pelajaran berharga.
Pesan moral dari Cerita Rakyat Jambi Putri Tangguk adalah Hargai segala hal yang kau miliki sekarang. Jangan pernah menyia-siakannya karena menyesal kemudian tak ada gunanya