Minggu, 01 November 2015

DONGENG MISTIS GERBONG MAUT


DONGENG GERBONG MAUT
            Jika anda melihat peta Pulau Jawa dan mengamati bagian timur dari pulau tersebut, anda akan mendapati sebuah kabupaten yang terletak bagian barat pegunungan Ijen, terapit antara kabupaten Situbondo di Utara dan kabupaten Jember di Selatan, itulah kabupaten Bondowoso. Sebuah kota kecil yang berhawa sejuk dan hijau.
            Berjalan menyusuri kota Bondowoso, anda akan menemukan sebuah monumen bersejarah yang terletak  di sebelah selatan alun-alun Bondowoso, tepatnya di depan kantor pemerintah daerah Kabupaten Bondowoso. Sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang pengorbanan para pejuang kemerdekaan yang gugur dalam sebuah tragedi, tragedi gerbong maut.
            Tragedi gerbong maut adalah sebuah tragedi yang mengakibatkan tewasnya 48 pejuang asal Bondowoso di dalam gerbong kereta api, yang pada saat itu mereka berstatus tahanan, ketika dipindahkan dari penjara di Bondowoso menuju penjara di Surabaya. Para pejuang tersebut dipindahkan dengan menggunakan gerbong barang yang tertutup rapat tanpa ventilasi. Dan dapat anda bayangkan bagaimana keadaan di dalamnya.
            Setelah Indonesia merdeka, Belanda tetap ingin Indonesia menjadi jajahannya. Belanda pun melakukan Aksi Militer I yang pada minggu ketiga bulan Juli 1947. Belanda mendaratkan tentaranya di pantai Pasir Putih, Situbondo. Dari sanalah mereka melancarkan aksinya ke beberapa wilayah, termasuk ke Bondowoso. Di Bondowoso sendiri rakyat telah mempersiapkan diri untuk melawan, akan tetapi pada akhirnya Belanda berhasil menangkap para pejuang tersebut. Belanda menangkap para orang-orang Bondowoso dengan sewenang-wenang, tanpa melihat apakah orang tersebut terlibat atau tidak di dalam aksi perlawanan. Hal tersebut membuat rumah tahanan di Bondowoso penuh dan dalam waktu singkat penjara tidak mampu lagi menampung tahanan. Pada saat itu jumlah tahanan mencapai 637 orang dan Belanda bermaksud mengadakan pemindahan. Maka diputuskan tahanan yang termasuk dalam “pelanggaran berat” akan dipindahkan ke penjara di Surabaya. Untuk mengangkut para tahanan, Belanda menggunakan angkutan kereta api.
            Dari stasiun inilah para pejuang Bondowoo dibawa menuju penjara di Surabaya. Pemindahan dilakukan dalam tiga tahap. Setiap tahap pengangkutan memuat sebanyak 100 orang. Pemindahan tahap I dan II berjalan dengan baik karena gerbong yang digunakan terdapat ventilasi udara seluas 10-15 cm dan di setiap stasiun para tahanan mendapatkan makanan dari rakyat sehingga tidak kelaparan. Namun pada saat pemindahan tahap ke-3, gerbong yang digunakan tanpa ventilasi dan para tahanan tidak mendapatkan makanan karena rakyat dilarang mendekati gerbong saat berhenti di stasiun. Sedangkan pada pemindahan tahap ketiga inilah tragedi gerbong maut terjadi.
            Subuh itu, sekitar pukul 04.00 wib tanggal 23 November 1947, Bondowoso masih diselimuti dingin dan heningnya malam. Namun terdengar teriakan tentara Belanda membangunkan para tahanan di penjara Bondowoso. Mereka dipaksa untuk bangun dan dikumpulkan di depan penjara. Mereka sudah menduga apa yang akan terjadi pada mereka, yaitu mereka akan dipindahkan menuju penjara di Surabaya. Pukul 05.30 tahanan sampai di stasiun kereta api Bondowoso dan mereka menunggu kedatangan kereta api dari Situbondo. Sementara menunggu kedatangan kereta, tanpa diberi kesempatan untuk sarapan pagi para tahanan dipaksa untuk masuk ke dalam tiga gerbong yang sudah ada. Gerbong 1 dengan nomor GR5769 diisi 32 orang, gerbong 2 dengan nomor GR4416 diisi 30 orang sedangkan 38 orang masuk ke dalam gerbong 3 yang bernomor GR10152. Menurut Moesappa, salah seorang pejuang yang selamat, diceritakan bahwa orang-orang berebut masuk ke dalam gerbong 3 karena panjang dan masih baru. Setelah semua tahanan masuk, gerbong ditutup dan dikunci dari luar. Pukul 07.00 kereta dari Situbondo tiba dan tepat pukul 07.30 kereta berangkat dari stasiun Bondowoso menuju Surabaya.
            Suasana di dalam gerbong gelap gulita dan udara terasa panas. Saat dalam perjalanan para tahanan mencoba menggedor-gedor dinding gerbong namun hal tersebut tidak digubris, malah cacian yang mereka dapatkan. Pagi berubah menjadi siang. Suasana di dalam gerbong bertambah menyiksa bagaikan di neraka. Terik matahari terus memanasi gerbong yang terbuat dari plat baja. Tentu saja hal tersebut membuat para tahanan merasa sangat kehausan hingga terjadi kejadian yang menyedihkan, yaitu salah seorang tahanan terpaksa meminum air kencing rekannya demi mempertahankan hidup. Sempat terjadi hujan cukup deras saat mendekati stasiun Jatiroto dan keadaan ini dimanfaatkan oleh para tahanan untuk menjilati tetesan air dari lubang-lubang kecil. Tetapi tidak demikian untuk gerbong 3. Karena masih baru, gerbong tersebut tidak terdapat lubang-lubang kecil sehingga para tahanan tidak mendapatkan tetesan air.
            Setelah menempuh perjalanan yang sangat menyiksa, sampailah mereka di stasiun Wonokromo, Surabaya. Jam menunjukkan pukul 20.00, para petugas pun mulai membuka gerbong dan menyuruh para tahanan untuk keluar. Namun tidak ada jawaban dari mereka. Setelah diperiksa ternyata sebagian besar dari mereka telah meninggal dunia. Terdapat 48 korban meninggal, dari gerbong 2 yang bernomor GR4416 ada 8 orang meninggal sedangkan gerbong 3 yang bernomor GR10152 semua tahanan meninggal. Para tahanan yang sehat dipaksa untuk mengangkut jenazah rekan-rekannya dan jenazah-jenazah tersebut harus diangkat dengan hati-hati karena jika tidak maka daging jenzah tersebut akan mengelupas akibat kepanasan.
            Begitulah sejarah dari tragedi gerbong maut yang telah memakan korban para pejuang asal Bondowoso. Oleh karena itu untuk mengenang jasa para pahlawan gerbong maut maka dibangunlah sebuah monument gerbong maut yang dicanangkan sejak tahun 1973 dan selesai pada 29 Desember 1976. Namun sayang, untuk stasiun Bondowoso kini sudah tidak dioperasikan lagi. Kini Monumen Gerbong Maut tersebut sudah menjadi ciri khas kota Bondowoso dan menjadi pelajaran bagi kita sebagai generasi muda haruslah bisa mempelajari dan mengambil hikmah dari pengorbanan para pahlawan yang telah gugur, khususnya para pejuang gerbong maut, agar berusaha dengan keras untuk membangun bangsa ini dan tercipta kesejahteraan bangsa. Berjalan-jalan ke suatu tempat dengan mengenal aspek sejarahnya terutama yang berkaitan dengan perjuangan bangsa Indonesia, selain mendapatkan manfaat rekreasi, tentu juga akan menambah kecintaan kita pada Indonesia.



DONGENG AIR SERAYU


DONGENG LEGENDA KALI SERAYU
Bagi masyarakat Banyumas sungai Serayu memiliki makna yang sangat penting. Kata "serayu" konon berasal dari kata "soroh" (menyerahkan) dan "hayu" (hidup), yang berarti totalitas penyerahan hidup manusia Banyumas terhadap alam semesta. Ini merupakan wujud pemahaman  masyarakat tradisional di wilayah ini, bahwa kehidupan manusia di dunia menjadi bagian tak terpisahkan dari alam semesta. Alam memiliki kekuatan yang teramat dahsyat, yang mampu memberikan pengaruh apapun terhadap kehidupan manusia, baik positif maupun negatif. Oleh karena itu, dalam usaha menjaga kontinuitas kehidupan dunia, manusia wajib secara total menyerahkan diri sebagai bagian integral perjalanan alam semesta.
Pada masa penyebaran agama Hindu, sungai Serayu digambarkan sebagai analogi dari sungai Gangga di India. Di wilayah Banyumas terdapat legenda bahwa sungai Serayu dibuat oleh Bima hanya dengan menggunakan penisnya. Sumber mata air sungai ini di pegunungan Diang bernama Tuk Bima Lukar. Menurut legenda yang berkembang, pembuatan sungai Serayu dilakukan merupakan acara lomba dengan para Korawa yang berjumlah 100 orang, dipimpin oleh Pendhita Drona. Bima membuat sungai Serayu, sementara Korawa membuat sungai Klawing.
Sesampainya di suatu tempat, Bima didampingi oleh punakawan menggelar tikar untuk istirahat makan. Namun belum sempat memakan bekal yang sudah disiapkan terdengar sorak-sorai Korawa yang merasa yakin akan memenangkan lomba itu. Akhirnya Bima batal istirahat, Tempat untuk menggelar tikar selanjutnya disebut kampung "Gelaran". Bima memandang (Jawa: nyawang) ke arah selatan dan tampak (Jawa: katon) para Korawa sedang berpesta merayakan kemenangan mereka. Tempat untuk memandang (nyawang) selanjutnya disebut kampung "Sawangan" dan tempat para Korawa tampak sedang berpesta disebut "Somakaton" (berasal dari kata para "Kusuma wus katon"). Ketiga tempat ini terdapat di wilayah Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas.
Khawatir mengalami kekalahan, maka Bima segera mempercepat kerjanya, dan akhirnya memenangkan perlombaan. Kekalahan Korawa menempatkan Pandhita Drona sebagai korban. Pandhita dari Sokalima itu dihukum dengan cara dipotong penisnya dan dibuang di tepian sungai Klawing. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Panembahan Drona, bertempat di Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. Di tempat itu masih tersimpan sebuah lingga yang konon penjelmaan dari penis Pandhita Drona.


DONGENG PUTRA JAKA UMBARAN


DONGENG JAKA UMBARAN
Jaka Umbaran lahir tanpa ditunggui seorang ayah. Semakin besar, Jaka Umbaran semakin ingin tau sosok ayah. Kakeknya, Ki Ageng Giring tidak mau member tau, begitu pula ibundanya. Suatu kali, Jaka Umbaran kembali bertanya untuk kesekian kalinya. “Ibunda, seperti apakah ramanda ku ? “
Ibunda Jaka Umbaran, Dewi Nawangsasi memandang anaknya yang sedih. Dia sadar tidak mungkin lagi menghindari pertanyaan Jaka yang terus- menerus belakangan ini. “ beliau lelaki yang gagah dan tampan seperti kamu, nak. Beliau juga berbudi luhur dan baik“ Dewi Nawangsasi berbinar masih menyimpan kekaguman. “ kalau ramanda orang baik pasti dia bersama kita. Paling tidak dia menengok kita satu purnama sekali. “ sergah Jaka Umbaran.
Selalu berakhir seperti itu. Jaka Umbaran menyemaikan bibit kebencian kepada orang tua sendiri. Dewi Nawangsasi berpikir tidak baik apabila hal ini dibiarkan terus. Tetapi, dia memang berjanji kepada suaminya untuk tidak menemui bahkan tidak member tahu si jabang bayi, juga kepada orang lain. Seuah janji suci yang tidak mungkin dilanggarnya.
Suatu kali, Ki Giring menemui anaknya, Dewi Nawangsasi untuk membicarakan ini. “ nduk, kemrin Jaka Umbaran kembali bertanya tentang ramandanya. Mungkin sudah saatnya kita harus memberitahukan ini semua, usianya semakin bertambah. Tidak baik seorang anak laki- laki kalau tidak mengetahu asal muasal dan jati dirinya.” Dewi Nawangsasi hanya menunduk patuh. “ ayahanda tidak lupa pada perjanjian kita dengan ramanda dari Jaka Umbaran,? “ “ tidak nduk, tentu tidak. Namun mungkin ini sudah garis hidup kita. Semua harus kita tanggung demi kebaikan Jaka Umbaran. Lagipula siapa tahu mungkin ini saat garis keturunan kita juga mendapatkan kemuliaan” “baiklah, ayahanda. Saya siap dengan segala kemugkinan yang terjadi. Semoga Jaka Umbaran mendapatkan yang terbaik dari yang Maha Kuasa.”
Dewi Nawangsasi memberitahukan semua yang dia tahu kepada Jaka Umbaran tentang riwayat kelahiran dan ramanda. Perasaan Jaka Umbaran bercampur baur. Sedih, gembira, kesal, marah, sayang, bangga, bercampur aduk dan berputar di hati. “ ibu, izinkan aku sekali saja untuk menemui ramanda di mataram. Saya berharap bisa diterima sebagai anak. Namun, andai tidak diterima saya akan kembali dan mengabdi pada ibu dan kakek seumur hidup disini. “
Dewi Nawangsasi tersentak. Namun dia sudah siap dengan segala resiko yang harus diterima karena sudah melanggar janji. Mungkin inilah jalan hidup dan cara Jaka Umbaran mendapat kemuliaan dari Ramandanya.
Sampailah jaka umbaran di mataram. Untuk menghadapi raja mataram saat itu yang bergelar Raden Ngabehi Loring Pasar.
“ anak muda, ada keperluan apa hendak menghadap paduka raja?.” Cegat salah seorang prajurit mataram. “ hamba adalah cucu Ki Ageng Giring sahabat Ki Ageng Pemanahan. Cukup katakana itu, hamba yakin kalau paduka pasti mengerti.
Benar saja dan tak lama Jaka Umbaran dipersilahkan menghadap pemegang kekuasaan tertinggi di mataram. Ada rasa gugup dan gemetar, maklum dia dari desa dan sekarang bertemu dengan orang nomer 1 di mataram. Namun, dia mampu menguasainya,
Danu Sutawijaya ( nama raja saat muda ) mengamati Jaka Umbaran dengan seksama. Sekilas dia melihat saat dirinya masih muda. Dari kaki hingga ujung rambut, perawakan yang tegap dan gagah, matanya penuh welah asih seperti mata Dewi Nwangsasi. Mata yang membuatnya jatuh hati bebeapa puluh tahun yang lampau. “ benarkah kamu cucu Ki Ageng Giring? Sahabat Ki Ageng Pemanahan?.” Tanya Danu Sutawijaya “benar paduka mulia. Hamba adalah Jaka Umbaran, cucu Kiageng Giring dan putra satu- satunya dari ibunda Nawangsasi.” “ apakah maksud kedatanganmu ke mataram, dan apakah ada sesuatu yang terjadi dengan ibu dan kakekmu?” “ mereka masih hidup dan semua bai- baik saja. Maksud kedatangan hamba adalah mencari kebenaran kalau…. “
Jaka Umbaran menelan Ludah mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan sesuatu yang sudah dipikirkan selama ini dan sudah dipikirkan selama perjalanan ke mataram. “ bagaimana nak?” Tanya raja.
Jaka Umbaran dengan berjongkok mendekat, kepalanya dicondongkan kearah raja. “ hamba mencari kebenaran seperti yang dikatakan ibunda. Apakah benar darah paduka adalah sama seperti yang mengalir dalam tubuh hamba?” “ apa makudmu?” “apakah benar kalau hamba ini adalah anak paduka raja?’” seketika air muka paduka raja berubah lalu tetawalah beliau. Sampai reda baru beliau kembali berbicara. “kamu memang anak pemberani. Sungguh sikap yang patut dipertahankan. Benar mirip sewaktu aku muda.” Paduka raja menepuk pundak Jaka Umbaran.
Senyum lembar mengembang diwajah Jaka Umbaran. Ramanda memang begitu baik dan luhur budinya yang dikatakan ibunda. Dia sangat bangga memiliki seorang ramanda yang juga penguasa mataram. “tinggalah disini. Hanya saja kamu harus memperkenalkan diri sebagai cucu Ki Ageng Giring sahabat Ki Ageng Pemanahan, ayahku.”
Jaka Umbaran senang tinggal di lingkungan kerajaan. Apalagi sambutan saudara-saudara anak Ramanda yang lain jugu baik. Sikap Jaka Umbaran juga baik dan mudah menyesuaikan diri dengan adat dan kesopanan di kerajaan. Setiap hari Jaka Umbaran belajar berkuda, memanah, juga melempar tombak dari para prajurit kerajaan. Jaka Umbaran sangat pintar dan menyerap semua yang diajarkan.
Setelah melalui beberapa hari pasar, Jaka Umbaran berpamitan kepada Raja. Baginda Raja menginginkan agar Jaka Umbaran tinggal di Mataram saja dan tidak usah kembali ke desa. “ Paduka, ijinkan hamba kembali sejenak kepada Ibunda dan kakek untuk memohon ijin untuk tinggal dan mengabdi pada Raja di sini.” “ Baiklah, Namun jangan terlalu lama di sana. Bawalah keris yang belum ada warangka ini. Buatkanlah sarung keris dari kayu Purwosari yang berasal dari desamu” pesan Raja.
Lalu kembalilah Jaka Umbaran ke desa dengan menaiki kuda yang dipinjamkan oleh Raja. Berlinang air mata ibunda menyambut Jaka Umbaran dengan sangat bahagia. Dibuatkannya makanan kesukaan Jaka Umbaran. Sesudah makan, berceritalah semua yang terjadi di Mataram dari awal hingga akhirnya.
“ jadi apa pesan ramanda bagi kami?”Dewi Nawangsasi begitu penasaran.
Jaka Umbaran membuka pembekalan dan dikeluarkannya sebuah keris. “ inilah pesan dari ramanda bagi ibunda dan kakek. Ramanda meminta dibuatkan warangka keris ini dari kayu Purwosari yang ada di desa ini”
Sebenarya pesan itu adalah pesan tersembunyi dari Danu Sutawijaya. Pada saat dia akan meninggalkan Dewi Nawangsasi, raden Danu Sutawijaya berhasil membuat sumpah agar Ki Ageng Giring dan Nawangsasi tidak lagi mengganggunya juga berjanji agar tidak memberitahukan jabang bayi bahwa dia adalah ayahnya. Kalau sampai janji terlanggar maka kematian adalah ganjarannya.
Keris yang dibawa Jaka Umbara adalah senjata untuk membunuh Ki Ageng Giring dan Dewi Nawangsasi. Waranka adalah tempat keris ditancapkan atau disimpan. Kayu bersal dari kata ‘kayon’ yang bermakna kehidupan. Purwa bermakna permulaan sari adalah inti. Jadi, makna warangka dari kayu purwosari adalah keris itu harus ditancapkan pada inti permulaaan kehidupan kalau inti permulaan kehidupan (jantung) ditancap keris maka kematianlah yang ada.
Jaka Umbaran tidak diberitahu dan tidak mengerti maknanya. Ki Ageng Giring membuat warangka yang diminta. “nak, karena kamu akan menetap di mataram, maka kami juga tidak akan tinggal lagi di sini. Kami akan mencari tempat baru di sebelah barat. “
Sesudah perpisahan yang mengharu biru, pergilah Jaka Umbaran membawa keris yang bersarung indah ke mataram. Sedangkan sesudah semua itu, Kiageng Giring dan Dewi Nawangsasi  pindah kea rah barat bersama para pengikutnya.
Di dalam pencarian tempat disebelah barat, Ki Ageng Giring melalui sungai yang membuat banyak pengikutnya mati tenggelam. Sejak saat itu wilayah sungai itu dinamakan Gumelem yang berasal dari kata kemelem yang berarti tenggelam.
Kondisi Ki Ageng Giring semakin lemah karena usia dan perjalanan. Sehingga dia berpesan apabila suatu saat tandu yang digunakan untuk mengangkat tidak bisa lagi diangkat 10 orang, maka saat itu haruslah mereka berhenti. Pada suatu kali mereka melalui sebuah longsoran tebing. Tiba tiba tandu Ki Ageng Giring menjadi sangat berat dan tidak bisa diangkat. Saat dilihat ternyata Ki Ageng Giring sudah tidak ada lagi. Akhirnya ditempat dekat situ mereka memakamkan tandunya. Tempat itu dinamakan Girilangan, tempat Ki Ageng Giring menghilang.
Pengikut Ki Ageng Giring mengabarkan lenyapnya Ki Ageng giring pada pengikut Nawangsasi. Sementara Nawangsasi sedang bertapa di atas pohon Elo di tepi kali Sapi. Baru saja kabar itu disampaikan terdengarlah suara keras seperti sebuah benda jatuh ke dalam kali sapi. Menghilang juga Nawangsasi dan hanya tempat sirihnya yang dinamakan bogem. Tempat sirih itu dimakamkan disebuah bukit dekat kalisapi tempatnya disebut panembahan bogem. Tempatnya masih ada sampai sekarang di daerah gumelem, banjarnegara.






DONGENG SEJARAH KABUPATEN BANDUNG


DONGENG SEJARAH  KABUPATEN BANDUNG
Awalnya diceritakan di kahyangan ada sepasang dewa dan dewi yang berbuat kesalahan, maka oleh Sang Hyang Tunggal mereka dikutuk turun ke bumi dalam wujud hewan.  Sang dewi berubah menjadi babi hutan (Celeng) bernama celeng Wayung Hyang, sedangkan sang dewa berubah menjadi anjing yang bernama Si Tumang. Mereka harus turun ke bumi menjalankan hukuman dan bertapa memohon pengampunan agar dapat kembali ke wujudnya dewa-dewi kembali.
Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara tengah pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang ttertampung dalam daun caring (keladi hutan), dalam versi lain disebutkan air kemih Sang Raja tertampung dalam batok kelapa. Seekor babi hutan betina bernama celeng Wayung Hyang yang tengah bertapa sedang kehausan, ia kemudian tanpa sengaja meminum air seni Sang Raja tadi. Wayung Hyang secara ajaib hamil dan melahirkan seorang bayi cantik, karena pada dasrnya ia adalah seorang dewi. Bayi cantik itu ditemukan di tengah hutan oleh Sang Raja yang tidak menyadari bahwa ia adalah putrinya. Bayi perempuan itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang amat cantik jelita. Banyak para raja dan pangeran yang ingin meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima.
Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permintaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik menenun kain, totompong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah bale-bale. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir terlebih dahulu, dia berjanji siapa pun yang mengambil torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan saudarinya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Akibat perkataannya tersebut, dayang Sumbi harus memgang teguh persumpahan dan janjinya, karena malu, kerajaan mengasingkan Dayang Sumbi ke hutan untuk hidup hanya ditemani Si Tumang. Pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya sebgai dewa yang tampan, dayang Sumbi mengira ia bermimpi bercumbu dengan dewa yang tampan, yamg sesungguhnya adalah wujud asli Si Tumang. Maka Dayang Sumbi akhirnya hamil dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang kuat dan tampan.
Suatu ketika Dayang Sumbi tengah mengidamkan makan hati menjangan, maka ia memerintahkan Sangkuriang ditemani Si Tumanguntuk berburu ke hutan. Setelah sekian lama Sangkuriang berburu, tetapi tidak nampak hewan buruan seekorpun. Hingga akhirnya Sangkuriang melihat seekor babi hutan yang gemuk melarikan diri. Sangkuriang menyuruh Si Tumang untuk mengejar babi hutan yang ternyata adalah celeng Wayung Hyang. Karena Si Tumang mengenali celeng  Wayung Hyang adalah nenek dari Sangkuriang sendiri, maka Si Tumang tidak menurut. Karena kesal Sangkuriang menakut-nakuti Si Tumang dengan panah, akan tetapi secara tak sengaja anak panah terlepas dan Si Tumang terbunuh, tertusuk anak panah. Sangkuriang bingung, lalu karena tak dapat hewan buruan maka Sangkuriang pun menyembelih tubuh Si Tumang dan mengambil hatinya. Hati Si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati Si Tumang, suaminya sendiri, mka kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sendok yang terbuat dari tempurung kelapa, sehingga terluka.
Sangkuriang ketakutan dan lari meninggalkan rumah. Dayang Sumbi yang menyesali perbuatan telah mengusir anaknya, mencari da memanggil-manggil Sangkuriang ke hutan memohonya untuk segera pulang, akan tetapi Sangkuriang telah pergi. Dayang Sumbi sangat sedih dan memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar kelak dipertemukan kembali dengan anaknya. Untuk itu Dayang Sumbi menjalankan tapa dan laku hanya memakan tumbuh-tumbuhan dan sayuran mentah (lalapan). Sangkuriang sendiri pergi mengembara mengelilingi dunia. Sangkuriang pergi berguru kepada banyak pertapa sakti, sehingga Sangkuriang kini bukan bocah lagi, tetapi telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat, sakti, dan gagah perkasa. Setelah sekian lama berjalan kearah timur akhirnya sampailah diarah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi-ibunya. Karena Dayang Sumbi melakukan tapa dan laku hanya memakan tanaman mentah, maka Dayang Sumbi menjadi tetap cantik dan awet muda. Dayang Sumbi pun mulanya tidak menyadari bahwa Sang Ksatria tampan itu adalah putranya sendiri. Lalu kedua insan itu berkasih mesra. Saat Sangkuriang tengah bersandar mesra dan Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang, tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah putranya, dengan tanda luka di kepalanya, bekas pukulan sendok Dayang Sumbi. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi sekuat tenaga berusaha untuk menolak. Maka ia pun bersiasat untuk menentukan syarat pinangan yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai citarum. Sangkuriang menyanggupinya.
Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh diarah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung bukit tanggul. Rantingnya ditumpukan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang dengan bantuan para guriang (makhluk halus), bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar niat Sangkuriang tidak terlaksanakan. Dayang Sumbi menebarkan helai kain boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), maka kain putih itu bercahaya bagai fajar yang merekah di ufuk timur. Para guriang makhluk halus anak buah Sangkuriang ketakutan karena mengira hari mulai pagi, maka mereka pun lari menghilang bersembunyi di dalam tanah. Karena gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi, sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Di puncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sang Hyang Tikoro di jebolnya sumbat aliran sungai Citarum delemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi gunung Tangkuban Perahu. Dengan hancurnya bendungan, air yang tertampung dalam danau mengering dan menjadi sebuah dataran yang luas sehingga sekarang menjadi sebuah kota yang disebut BANDUNG (dari kata bendung, yang artinya dam atau bendungan atau waduk).
Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang lari menghindari kejaran anaknya yang telah kehilangan akal sehatnya itu, Dayang Sumbi hampir tertangkap oleh Sangkuriang di Gunung Putri dan ia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar menyelamatkannya, maka Dayang Sumbi pun berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang stelah sampai disebuah tempat yang disebut dengan Ujung Berung dan akhirnya menghilang ke alam gaib (Ngahiyang).