Rabu, 23 Maret 2016

DONGENG SEJARAH KOTA MADIUN




Dongeng Sejarah Kota Madiun
 Sultan Trenggono adalah Sultan Demak ketiga, sekaligus juga yang terakhir. Beliau mangkat pada tahun 1546 di medan perang dalam usahanya menaklukkan daerah Pasuruan di Jawa Timur. Peristiwa tersebut membawa akibat timbulnya perang saudara antar keturunan daerah Demak untuk memperebutkan tahta kerajaan.
Sultan Prawata, putra sulung Sultan Trenggono gugur dalam perebutan tahta itu. Tinggallah Pangeran Hadiri dan Pangeran Adiwijaya. Keduanya sama-sama menantu dari Sultan Trenggono. Yang keluar sebagai pemenangnya adalah Pangeran Adiwijaya.
Atas restu Sunan Kudus, Pangeran Adiwijaya ditetapkan sebagai Sultan dan menetapkan Pajang sebagai pusat kerajaan. Bersamaan dengan penobatan Sultan Adiwijaya, dilantik pula adik ipar sultan, yaitu putra bungsu Sultan Trenggonoyang bernama Pangeran Timur sebagai Bupati di Purabaya yang sekarang disebut Kabupaten Madiun.
Setelah Pangeran Adiwijaya mangkat karena usianya yang sudah tua, pusat pemerintahan berpindah ke Kerajaan Mataram yang didirikan oleh Danang Sutowijoyo atau yang lebih populer disebut Panembahan Senopati. Ia adalah putra sulung Pangeran Adiwijaya. Konon, Panembahan Senopati berwajah tampan, kemauannya keras dan pandai berperang. Sebagai seorang raja besar, Panembahan Senopati bercita-cita hendak menaklukkan para bupati di seluruh Tanah Jawa di bawah panji-panji Mataram.
Terkisahlah Pangeran Timur setelah menjadi bupati di Purabaya. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana. Rakyatnya aman dan makmur. Ia disenangi oleh para bupati di Jawa Timur. Dalam memerintah, ia dikenal dengan sebutan Pangeran Ronggo Jumenoatau panembahan Mediyun. Dari kata Panembahan yang berasal dari kata adsar sembah sudah jelas bahwa Pangeran Timur memiliki kedudukan yang lebih dibanding para bupati yang lain karena kepadanya orang menghaturkan sembah. Mungkin karena Pangeran Timur masih keturunan Raja Demak Bintoro.
Beberapa bupati yang bersekutu dengan Pangeran Timur di Purabaya yang tidka tunduk pada kekuasaan Mataram adalah Surabaya, Ponorogo, Pasuruan, Kediri, Kedu, Brebek, Pakis, Kertosono, Ngrowo (Tulungagung), Blitar, Trenggalek, Tulung (Caruban), dan Jogorogo.
Panembahan Senopati pernah menyerang Purabaya dua kali, namun gagal. Dalam penyerangannya yang ketiga, Panembahan Senopati mengambil langkah-langkah yang menyangkut siasat dan strategi. Para prajurit dibekali dengan kemampuan dan keterampilan dalam mempergunakan senjata (keris, pedang, tombak, panah) dan ketangkasan menunggang kuda serta mengendalikan kuda.
Pasukan Panembahan Sneopati dibagi menjadi pasukan inti dan pasukan kelas dua. Untuk mengecoh lawan, pasukan kelas dua dilengkapi dengan segala atribut kebesaran perang: genderang, panji-panji, dan umbul-umbul. Pasukan ini tugasnya mengepung Purabaya dan datang dari arah yang berlawanan.
Dalam penyarangan yang dijalankan oleh Panembahan Senopati dibantu oleh dua orang penasihat ahli perang, yaitu Ki Juru Mertani dan Ki Panjawi.
Siasat pertama yang dijalankan oleh Panembahan Senopati adalah mengutus seorang istri/selirnya yang amat dikasihinya untuk berpura-pura tunduk pada pemerintahan Pangeran Timur di Purabaya. Tentulah Pangeran Timur bergirang hati. Diterimanya tanda tunduk dari Mataram. Melihat peristiwa itu, beberapa bupati yang menjadi sekutu Purabaya lengkap dengan prajuritnya yang telah lama bersiaga di Purabaya mulai pulang ke daerah masing-masing. Kabupaten Purabaya dinyatakan dalam keadaan aman dan tenang oleh Pangeran Timur.
Dalam suasana seperti itu, prajurit sandi Mataram segera menghadap Panembahan Senopati di Mataram. Akhirnya dengan pertimbangan yang masak, Panembahan Senopati memimpin prajurit Mataram untuk menyerang Kabupaten Purabaya dari berbagai arah.
Mendapat serangan tiba-tiba dari Mataram, Raden Ayu Retno Jumilah segera mengangkat senjata memimpin para prajurit Purabaya untuk melawan prajurit Mataram, ia masih putri Pangeran Timur. Purabaya yang telah ditinggalkan oleh para sekutunya menghadapi serbuan Panembahan Senopati dipertahankan sepenuhnya oleh pasukan sendiri, itupun yang mereka lawan adalah pasukan kelas dua.
Tanpa mendapat perlawanan yang berarti, pasukan inti Mataram segera menyerbu pusat pertahanan terakhir yang berada di kompleks istana Kabupaten Purabaya. Pasukan pertama bertugas melindungi keluarga dan istana. Mereka bertempur dengan gagah berani melawan pasukan inti Mataram. Pertempuran yang sangat sengit itu terjadi di sekitar sendang di dalam kompleks istana.
Kabupaten Purabaya akhirnya runtuh pada tahun 1590. Untuk mengenang peristiwa itu, Panembahan Senopati mengubah nama Purabaya menjadi Mbedi Ayun (Mbedi = mbeji = beji dalam bahasa Jawa berarti sendang. Ayun berarti depan atau dapat juga berarti perang. Mbedi Ayun berarti perang di sekitar sendang). Kata Mbedi Ayun akhirnya mengalami perubahan ucapan menjadi Mbediyun, kemudian berubah lagi menjadi Mediyun dan yang terahir adalah Madiun. Konon perang besar itu berakhir pada hari Jumat Legi tanggal 16 November 1590 Masehi, sekaligus ditandai sebagai penggantian nama Purabaya menjadi Madiun.

DONGENG MISTIS SUNGAI KANDANGAN



Dongeng Naga Sungai Kandangan
        Kisah ini berasal dari  masyarakat kota Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Provinsi Kalimantan Selatan, Masyarakat disana rata-rata hampir mengetahui kisah keberadaan sang Naga penghuni sungai Kandangan. Penulis sendiri lahir di desa Simpur kota Kandangan, sehingga sedikit banyak mengetahui kisah tersebut, dan ingin berbagi cerita kepada teman-teman semua untuk lebih mengenal kisah daerah langsung dari Kota Kandangan.

        Konon di sungai Kandangan , dulu ada sebuah jembatan gantung dan dibawahnya dipercaya ada sebuah liang Naga, sehingga tidak ada satupun tiang jembatan yang bisa dibangun sampai sekarang, dan konon juga air sungai tersebut tidak pernah kering.

        Kisah ini bermula, ada sepasang suami istri yang ketika itu mencari ikan di sungai dengan cara tradisional yaitu “tangguk”, mereka menangguk ikan-ikan tersebut untuk keperluan hidup sehari-hari.

        Namun suatu ketika, mereka mendapatkan dua butir telur yang sangat besar, mereka kebingungan karena itu jelas bukan telur yang wajar. Mereka membuang telur itu dan pindah ketempat lain untuk encari ikan, tapi apa yang didapat? Ternyata itu dua butir telur yang serupa, sungguh aneh tapi karena bujukan/rayuan sang istri sebab hari itu mereka tidak mendapatkan ikan, maka telur tersebut akhirnya dibawa pulang kerumah, dan berniat untuk memakannya saat malam hari, tanpa memberitahukan anak mereka.

        Saat malam hari, sepasang suami istri tersebut merebus dua butir telur itu dan memakannya tanpa fikir panjang, tiba-tiba setelah memakan telur itu, seluruh tubuh mereka tumbuh sisik dan membesar sehingga rumah mereka tidak sanggup menahan pertumbuhan tubuh mereka, kemudian pintu depan rumah mereka dihancurkan untuk keluar dan meloloskan diri, dengan tali blaran mereka langsung pergi kesungai, dan pada saat itu banyak masyarakat sekitar mengetahui peristiwa itu termasuk anak mereka.

        Mereka menjadi siluman jadi-jadian, namun disungai tersebut masih ada satu kehidupan yaitu naga asli yang menghuni, akhirnya naga tersebut terjadi perselisihan antara naga jadi-jadian, memperebutkan alam mereka masing-masing, naga asli menantang duel apabila kalah maka akan pergi jauh meninggalkan sungai tersebut untuk selamanya.

        Setelah itu naga sepasang suami istri tersebut, meminta anaknya untuk dibuatkan tanduk seperti naga asli, dan berpesan kepada anaknya kalau dalam pertarungan seandainya darah berwarna biru yang keluar itu berarti naga yang asli kalah tapi apabila darah tersebut berwarna merah berarti orang tuanya kalah, akhirnya waktu duel pun terjadi, dan darah yang keluar ternyata berwarna merah, maka dapat diketahui pemenangnya adalah naga yang asli, maka sesuai perjanjian naga yang kalah akan pergi jauh meninggalkan tempat itu.

        Peristiwa tersebut menjadi kisah dari dulu sampai sekarang, bahkan keturunan-keturunan dari anak mereka sampai saat ini masih hidup dan konon katanya salah satu dari keturunannya pernah didatangi oleh naga tersebut namun dalam wujud lain yang sangat kecil pada malam hari. Demikianlah kisah ini, untuk membuktikannya Allahualam bissawab, hanya Allah yang Maha Tahu.

DONGENG SATWA KURA DAN KERA



Dongeng Kura-Kura dan Si Kera
       Pada zaman dahulu, tatkala semua binatang masih bisa berbicara tersebutlah sebuah kampung penuh dengan berbagai binatang. Dua di antaranya ialah Kera dan Kura-kura. Keduanya sering bermusuhan tetapi cepat berbaikan kembali. Sehingga binatang lain menyebutnya dua sekawan.
       Kera sangat pandai tetapi sangat malas. Sedangkan Kura-kura amat rajin tetapi agak dungu. Suatu hari Kura-kura sedang mencari ikan di telaga. Perutnya amat lapar, tetapi ia tak mendapat seekor ikan pun. Karena capai ia lalu naik ke darat. Kebetulan Si Kera sedang asyik tidur di bawah pohon beringin.
       "Hai sobat! Enak betul hidupmu. Kau bisa istirahat dengan tenang di situ. Sedangkan aku jangankan tidur untuk makan pun aku harus mencari dulu," kata Kura-kura.
       "Jangan mengeluh, kemarilah. Aku sedang mimpi indah! Sayang kau mengejutkan aku hingga terbangun," jawab Kera.
       Kura-kura terperanjat lalu cepat-cepat menghampiri Kera.
       "Kau terganggu olehku? Mimpi apakah kamu?" kata Kura-kura merasa bersalah.
       "Aku bermimpi mendapatkan tiga ekor ikan besar di telaga itu. Lalu kau membakar ikan itu. Tapi, ketika aku hendak menyantapnya aku terkejut mendengar suaramu," kata Kera sedih.
       "Maafkan aku Kera, aku mohon kau jangan bersedih! Biarlah aku mencari ikanmu yang berada dalam mimpi itu. Tidurlah kembali di sini! Aku akan kembali ke telaga dan menyerahkannya bila telah matang. lstirahatlah," kata Kura-kura. Kemudian ia beringsut turun tergesa-gesa ke telaga.
       Si Kera tersenyum gembira karena siasatnya berhasil. Lalu ia meneruskan tidurnya.
       Tidak lama kemudian Kura-kura datang kembali membawa tiga ekor ikan dan segera memanggangnya. Baunya menyebar ke mana-mana sehingga Si Kera yang tertidur pun menjadi bangun.
       "Hm, bukan main enaknya masakanmu sobat. Sama harumnya dengan ikan panggang yang berada dalam mimpiku tadi. Bawalah kemari ikan itu," kata Kera memerintahkan.
       Kura-kura tersenyum mendengar pujian itu. la segera menyerahkan ikan panggang tersebut. Kera pun menyantapnya sampai habis. Kura-kura terperanjat karena ia tidak mendapat bagian, padahal ia sedang kelaparan.
       "Terima kasih Kura-kura, sekarang perutku sudah terisi. Ikanmu sungguh lezat. Besok atau lusa kalau kau mendapatkan ikan lagi jangan lupa padaku."
       Kura-kura amat kesal mendengar perkataan Kera yang tidak lucu itu. Walau hatinya jengkel, ia tetap menunjukkan muka biasa.
       "Tentu sobat, aku akan selalu ingat padamu! Tapi sekarang tolonglah aku."
       "Apa yang harus kutolong? Aku sudah tak punya waktu lagi. Sang Kancil tadi memesanku untuk pergi ke rumahnya. Ia hendak mengadakan kenduri. Aku tidak boleh datang terlambat kalaudiundang, apakah kamu tidak diundang?" tanya Kera,
       "Tentu saja aku juga diundang. Tapi mana bisa aku pergi ke sana tanpa kau?" kata Kura-kura. Dalam hatinya ia hendak memperdaya si Kera yang telah menipunya.
       "Apa maksudmu? Aku sendiri sudah siap hendak berangkat," kata Kera marah.
       "Boleh saja kalau kau bisa. Tapi, tadi Dewa Air berpesan padaku sewaktu menangkap ikan yang kau makan."
       "Dewa Air? Apa pesannya?" tanya Kera cemas.
       "Barang siapa yang memakan ikan tadi, umurnya tak kan lama. Karena dalam daging ikan itu menempel racun kematian."
       "Kau jangan menakut-nakutiku Kura-kura. Ikan itu gurih dan harum, aku tidak yakin ikan itu mengandung racun," kata Kera sinis.
       "Kau boleh tidak percaya, Kera! Tapi aku tahu kau akan menyesal tidak memperdulikan omonganku. Selamat...."
       "Tunggu! Aku belum mau mati, katakan bagaimana caranya agar aku tidak mati sekarang," Kera memohon.
       Kura-kura cepat menggelengkan kepalanya. Wajahnya berduka.
       "Berat sekali Kera," kata Kura-kura sedih.
       Kera tercengang lalu menangis.
       "Tolonglah aku, katakan cepat, seberat apapun akan kulakukan," jawab Kera.
       "Kau harus mengambil setandan pisang masak, biar aku yang menyerahkannya."
       "Untuk siapa?" tanya Kera.
       "Dewa Air. Dia punya penawar racun dalam ikan yang kau makan tadi."
       "Baiklah kalau begitu aku segera mencari pisang itu! Tunggulah kau di sini."
       Tak lama kemudian Kera datang membawa setandan pisang dan menyerahkannya kepada Kura-kura. Kura-kura segera terjun ke dalam telaga membawa pisang tersebut.
       Lama si Kera menunggu di tepi telaga tetapi Kura-kura tak juga muncul. Akhirnya ia sadar dirinya ditipu. Tetapi, ia tak bisa marah karena ia pun telah menipu si Kura-kura.
       Baru si Kera melangkahkan kakinya, ia mendengar si Kura-kura memanggil.
       "Jangan dulu pergi, ini penawar racun tadi," kata Kura-kura.
       "Tidak perlu Kura, aku tahu kau bohong. Tidak ada racun dalam ikan tadi. Aku rela kau makan pisang yang kuberikan tadi. Sekarang tidak lapar lagi bukan?" tanya Kera sambil tersenyum.
       "Terima kasih Kera, perutku sudah terisi! Tapi, ini memang sengaja kubawa untukmu. Tiga ekor ikan tidak cukup untuk perutmu,ambillah kelapa ini!" kata Kura-kura sambil menyerahkan sebutir kelapa muda yang ditemukannya di tepi telaga.
       Keduanya tersenyum lalu berjabatan tangan dan kembali bersahabat.

DONGENG SATWA TUTUT DAN SI NANGKA



Dongeng Tutut & Nangka
Pada suatu hari Si Kabayan disuruh oleh mertuanya untuk mengambil tutut disawah. Tutut adalah sejenis siput-siput kecil di sawah. Biasa tutut-tutut sawah dimasak menggunakan bumbu-bumbu dengan cara direbus. Si Kabayan menuruti perintah mertuanya untuk mencari tutut disawah. Ia pergi ke sawah tapi malas-malasan. Setibanya di sawah, Si Kabayan bukannya mencari tutut tapi malah duduk-duduk santai di pematang sawah.
Mertua Kabayan lama menunggu di rumah tapi Si Kabayan tak juga kunjung datang. Akhirnya mertua Kabayan menyusul ke sawah. Sesampainya di sawah, mertua Kabayan marah bukan main. Ia mendapati menantunya tengah duduk-duduk santai di pematang sawah. “Hai Kabayan! Aku suruh mencari tutut tapi engkau malah enak duduk-duduk. Dasar pemalas!” teriak mertuanya.
“Aduh Abah, aku takut mau turun ke sawah, soalnya sangat dalam. Coba lihat Abah! Saking dalamnya, langit sampai terlihat di air sawah.” kata Kabayan beralasan.
Karena kesal melihat kemalasan menantunya, Mertua Si Kabayan kemudian mendorong tubuh menantunya hingga terjatuh ke sawah. Si Kabayan terjatuh ke sawah sambil tersenyum-senyum. “Aduh Abah, tenyata sawahnya dangkal ya.” Ia kemudian mengambil siput-siput kecil di sawah.
Hari lainnya, Si Kabayan disuruh mertuanya memetik buah nangka matang. Pohon nangka tersebut terletak di pinggir sungai, dimana tangkainya menjorok di atas sungai. Si Kabayan memanjat pohon nangka dengan malasnya. Ia takut mertuanya marah besar jika ia tak menuruti perintahnya. Diatas pohon ia melihat ada buah nangka telah matang. Dipetiknya buah nangka matang tersebut. Tapi sayang, karena cukup sulit, buah nangka tersebut jatuh ke dalam sungai. Si Kabayan membiarkan buah nangka matang hanyut di sungai. Ia kemudian pulang ke rumah mertuanya.
Di rumah, mertuanya nampak kesal ketika melihat menantunya pulang tanpa membawa buah nangka matang yang ia minta. “Mana buah nangka matang yang aku minta petik?” Tanya mertuanya.
“Loh, bukannya buah nangka yang aku petik tadi sudah sampai duluan? Waktu kupetik, buah nangka itu jatuh ke sungai. Nampaknya ia ingin berjalan sendirian. Makanya aku biarkan ia berjalan sendirian. Sudah aku perintahkan agar ia cepat pulang ke rumah, tapi ternyata belum sampai juga nangka itu ya? Dasar nangka tak tahu diri, dia tidak mau menuruti perintahku.” Dengan santainya Si Kabayan menjawab.
“Apa-apaan kamu Kabayan? Mana bisa buah nangka berjalan sendirian ke rumah. Dasar pemalas banyak alasan.” mertuanya berteriak kesal.
Si Kabayan hanya hanya tertawa-tawa dimarahi oleh mertuanya.