Rabu, 23 Maret 2016
DONGENG AIR RORO KUNING
BUDAYA AIR TERJUN RORO KUNING
Roro Kuning yaitu nama air terjun yang ada di Desa Bajulan, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Air terjun Roro Kuning ada di ketinggian 600 m dpl dan tingginya dari 10 – 15 meter. Air terjun ini mengalir dari 3 sumber, dari gunung Wilis, yang merambat di sela – sela batu padas dibawah pohon – pohon hutan pinus. Kemudian menjadi air terjun yang membentuk trisula. Selanjutnya proses mengalirnya itu menjadi orang – orang di desa Bajulan menamakannya air terjun merambat Roro Kuning.
Ada cerita, nama Roro Kuning ini berasal dari Ruting dan Roro Kuning, putri raja Kadiri Dan Dhoho yang punya kuasa dai abad 11 – 12. Ruting yang aslinya bernama Dewi Sekertaji yaitu putri dari Lembu Amiseno dari Kerajaan Dhoho.
Ketika dua itu sakit, serta merta kerajaan tidak ada yang bisa menyembuhkan. Runting sakit kuning dan Roro Kuning sakit gondok dan kulit. Untuk mencari kesembuhan dua putri raja itu keluar masuk hutan besar, naik turun gunung dan selanjutnya istirahat di lereng Gunung Wilis desa Bajulan. Waktu mau merenungi nasibnya, putri ketemu sama Resi Darmo dari Padepokan Ringin Putih desa Bajulan.
Disitu, dua putri raja disembuhkan dan diberi obat ramuan tradisional sama Resi yang sakti. Karena ramuan dari daun – daun itu, dua putri raja akhirnya bisa sembuh. Dalam proses menyembuhkan tadi, putri Runting dan Roro Kuning kebiasaannya mandi di air terjun yang selanjutnya diabadikan menjadikan nama air terjun Roro Kuning
BUDAYA ADAT RUMAH BETANG
BUDAYA RUMAH BETANG
Pasir Panjang merupakan sebuah desa yang berada di Kota Pangkalan Bun. Dilihat dari letaknya, desa ini terletak di tempat yang sangat strategis karena keberadannya di tengah-tengah antara Kota Pangkalan Bun dan Pelabuhan Kumai. Di desa ini mengalir Sungai Kumai yang menjadi sumber pemberdaharaan air desa.
Berbicara tentang asal-usul desa tidak bisa lepas dari peran Kerajaan Kotawaringin. Menurut cerita penduduk, awal dibukanya desa diprakarsai oleh seorang utusan Kerajaan Kotawaringin yang mengemban sebuah tugas. Utusan tersebut bernama Ranggae yang merupakan seorang bersuku dayak yang merupakan orang kepercayaan raja pada masa itu. Tidak jelas kapan perintah tersebut turun. Setelah beberapa lama mengemban tugas, maka Ranggae ingin kembali ke kerajaan. Namun, raja memerintahkan Ranggae untuk tetap tinggal di daerah tersebut. Akhirnya, Ranggae pun menetap dan mulai membangun desa tersebut. Keberhasilannya membangun desa menjadikannya disegani sebagai komunitas Dayak.
Setelah Ranggae berhasil membangun sebuah desa yang cukup makmur, maka raja pun menghibahkan tanah tersebut kepadanya. Desa tersebut kemudian diberi nama dengan Desa Pasir Panjang karena daerahnya yang memiliki daerah pasir yang cukup luas dan memanjang dari daerah aliran sungai sampai ke arah Kota Pangkalan Bun. Mata pencaharian penduduk desa Pasir Panjang adalah petani dan nelayan yang sesuai dengan tanahnya yang subur dan aliran sungai yang kaya dengan ikan pada masa itu. Kepala adat Desa Pasir Panjang yang pertama dikenal dengan Renggawa bagi pria dan wanitanya dikenal dengan Renggawi.
Jika dilihat dari periodisasinya, kemungkinan turunnya perintah ini terjadi pada masa awal berdirinya Kerajaan Kotawaringin. Kerajaan ini baru dibangun oleh Pangeran Adipati Anta Kesuma, putra raja Banjar Sultan Musta’in Billah (1650-1678), yang pergi ke arah Barat pada 1679. Di masa pemerintahan sultan pertama inilah disusun undang-undang kerajaan Kotawaringin yakni Kitab Kanun Kuntara. Selain membangun Istana Luhur sebagai keraton kerajaan Kotawaringin, Sang pangeran juga membangun Perpatih (rumah patih) Gadong Bundar Nurhayati dan Perdipati (panglima perang) Gadong Asam. Selain itu untuk keperluan perang dibangun pula Pa'agungan, sebagai tempat menyimpan senjata atau pusaka, membangun surau untuk keperluan ibadat, dan membangun sebuah paseban sebagai tempat para bawahan dan rakyat menghadap sultan. Kemungkinan pada masa inilah raja mengutus beberapa orang untuk memperluas dan menjaga daerah milik kerajaan.
DONGENG PUTRA SI PAHIT LIDAH
Dongeng “Si Pahit Lidah”
Dahulu kala ada anak muda yang namanya “Pagar Bumi” mereka enam bersaudara yang telah mengembara jauh tak tentu arahnya.
Pada suatu hari ahli ramal kerajaan bertemu dengan Pagar Bumi selintas saja dia sudah dapat menilai besok lusa Pagar Bumi itu akan menjadi orang yang sakti, tapi kesaktiannya dapat membahayakan kerajaan. Dari hari itu juga Pagar Bumi dengan orang tuanya mendapat perintah untuk menghadap ke istana kerajaan. Disana Pagar Bumi mendapat perintah dari Raja, dia harus meninggalkan kerajaan jawa, ia juga diasingkan ke Pulau Sumatera. Ibunya menangis tersedu-sedu
Suatu hari ia sampai di desa yang memegang permaisuri orang sebai yang sakti dan memiliki ilmu ghaib.
Di desa itu dia berkenalan dengan pemuda sebayanya. Mereka mendengar pengumuman yang dikeluarkan oleh Ratu, siapa saja dapat belajar ilmu kesaktian dengan dia.
Yang mendapat giliran yang pertama adalah temannya. Pagar Bumi menunggu gilirannya dia duduk di ruang tunggu pendopo. Karena terlalu lama dia tertidur, sampai gilirannya dia tidak bangun. Celakanya temannya juga tidak membangunkan dia, padahal namanya di sebut-sebut oleh Ratu.
Ratu pun tidak sabar, dia mendekat ke Pagar Bumi, dia membangunkan si Pagar Bumi, tapi sia-sia, Pagar Bumi tetap tidak bangun, si Ratu tadi akhirnya mengambil air minum segelas dan dibacakan mantra, sampai Pagar Bumi sadar dari tidurnya.
Dia kaget karena Ratu sudah di hadapannya dengan segala hulu balangnya. Dia bingung karena temannya sudah tidak disan dan pengawal pun memberi tahu kalau temannya tidak ada lari waktu kamu tidur, si Pagar Bumi pun melanjukan jalan ke barat, sampai di tepi ujung kulon.
Pagar Bumi niat mau nyebrang ke selat sunda, akhirnya dia sampai di Pulau Sumatera,ia sampai di sebuah dusun di sumatera selatan. Karena letih dia pun tidur dibawah pohon dengan alas kepalanya kayu besar yang sudah mati. Berhari-hari dia duduk, melihat orang berlalu lalang, tapi tidak ada orang yang memperhatikannya, seolah-olah tidak ada Pagar Bumi yang duduk disana.
Tapi sudah mau malam baru penduduk beranjak ke rumah mereka, ada kijang yang lewat di hadapannya dia tersentak, dengan berkata “Batu”, ajaibnya kijang itu langsung jadi batu, sejak itu dia jadi sombong. Dia pun dijuluki “ Si Pahit Lidah”. Berita itu sampai kedaerah Lampung.
Pada waktu itu Lampung ada sebuah kerajaan yang namanya “Danau Maghrib”, awalnya di perintah dengan Raja yang arif dan bijaksana. Raja itu memiliki tiga anak, mereka adalah Dewi Sinta, Gunawan Suci, dan Gunawan Sakti. Tapi sayang sesudah Raja wafat tahta kerajaan diambil ole saudara raja yang lalim.
Kedua anak Raja tadi mau tewot mendengarkan si Pagar Bumi yang ada kelebihannya, dia dapat membuat orang yang di sapanya jadi batu. Kabar nasib kedua putra Raja tersebar keseluruh penjuru dunia. Kakaknya yang tua Dewi Sinta nangis tersedu-sedu karena duka yang mendalam. Selama beberapa hari Dewi Sinta tidak makan tidak tidur. Pada hari ke 5 sesudah kepergian ayahnya Dewi Sinta tidur enak sekali, didalam pedomannya dia mimpi dia didatangi kedua orang tuanya, mereka memberi petunjuk cara-cara menghadapi si Pahit Lidah dan nmembebaskan adik mereka yang terkena sihir.
Keesokan harinya dia menghadap pamannya yang sekarang ini menjadi raja, dia meminta izin mau ke Bukit Pesagi unuk membebaskan kedua adiknya.
Akhirnya Dewi Sinta naik kuda menuju Bukit Pesagi, dia menutup telinganya dengan kapas, si Pahit Lidah menggoda, tapi Dewi Sinta tidak terpengaruh, dia mengingat apa yang dipesankan oleh orang tuanya.
Sampai diatas Bukit Pesagi, Dewi Sinta heran, dia melihat burung yang pintar menyanyi ada juga pohon yang dapat mengeluarkan bunyi-bunyian bak musik alami. tapi dia cepat sadar, kalau kedatangannya bukan untuk ngehibur dia, melainkan membebaskan kedua adiknya yang sudah menjadi batu. dia cepat turun dari kuda sesuai apa yang diucapkan oleh orang tuanya, dia mendekat ke pangkal pohon beringin, disalah satu celah batang pohon dia mengambil sebuah peti kayu yang didalamnya ada abu.
Sampai tempat si Pahit Lidah, tiba-tiba burung ajaib hinggap di bahu si Pahit Lidah, dia pun tidak dapat bergerak lagi, sang putri langsung menyumbat mulut si Pahit Lidah dengan kapas. Sesudah itu dia menaburkan abu dari kotak ke muka orang-orang yang sudah membatu. Saat itu juga patung-patungnya berubah jadi manusia, cepat-cepat mereka lari, karena diberi tahu oleh burung itu sebentar lagi si Pahit Lidah dapat bergerak.
Si Pahit Lidah sakit hatinya karena dia malu karena dikalahkan dengan gadis baik yang lemah lembut. Sesudah itu dia meninggalkan daerah Bukit Pesagi. Si Pahit Lidah sampai di atas sungai ogan, dekat tepi yang berbatuan yang terlihat tertata untuk tempat pemandian. Sampai suatu hari dia sampai di kerajaan tanjung menang, nama rajanya adalah Nurrullah atau si Pak Mata. Si Pahit Lidah lewat kebun milik Raja yang di jaga dengan tiga puluh tentara, karena dia haus dia meminta jeruk, tidak diberi oleh penjaga kebun, dia takut dimarah dengan Rajanya, si Pahit Lidah pun marah “ ah, jeruk pahit seperti itu saja tidak boleh diminta, kikir sekali”. besoknya Raja marah “karena tadi biasanya mikmik itu sudah jadi pahit”, akhirnya pengawal menceritakan tentang si Pahit Lidah. Si Pahit Lidah terkejut karena sang Raja adalah kakak si Pahit Lidah. Yang akhirnya si Pahit Lidah jadi baik dia tidak lagi marah, dendam, bahkan dia bahagia. Si Pahit Lidah akhirnya dia nikah dengan gadis baik yang namanya Dayang Merindu.
DONGENG PUTRA SI PITUNG
Dongeng : Si Pitung dari Betawi
Tersebutlah seorang pemuda gagah serta pemberani yang tinggal di daerah Rawa Belong pada zaman dahulu. Pitung nama pemuda gagah itu. Sejak kecil si Pitung telah belajar agama dan juga belajar silat dari Haji Naipin. Semakin bertambah usianya, kemampuan dalam soal agama dan kepiawaiannya bermain silat semakin tinggi. Pada zaman itu sulit dicari orang yang dapat menandingi kemampuan si Pitung dalam ilmu beladiri. Selain mengaji dan beladiri, si Pitung pun dibekali dengan berbagai kesaktian. Salah satu kehebatan yang membuat lawan tarungnya bertekuk lutut adalah tubuh si Pitung kebal terhadap senjata apapun. Bukan hanya senjata tajam yang tidak dapat melukai tubuhnya, pelurupun mental tidak mempan jiga bersentuhan dengan tubuhnya. Si Pitung menjadi pendekar yang disegani kawan dan ditakuti lawan.
Selain dikenal sebagai orang ahli mengaji dan pandai bermain silat, si Pitung juga dikenal sebagai orang berakhlak baik, pemberani dan selalu membela yang lemah teraniaya. Maka, betapa marah dan gusarnya dia ketika melihat kesewenang-wenangan Kompeni Belanda memperlakukan rakyat Betawi. Begitu juga dia marah terhadap para tauke (Majikan) dan juga tuan-tuan tanah yang hidup senang karena memeras rakyat. Rakyat Betawi yang miskin tambah miskin dan menderita.
Si Pitung tidak bisa membiarkan kejadian menyedihkan itu kian berlarut-larut. Dia merasa harus melakukan sesuatu demi memperbaiki rakyat disekitarnya. Dia juga ingin meberi pelajaran keras terhadap kompeni, Para takue dan para tuan tanah. Langkah pertama yang dia lakukan adalah mencari orang-orang yang sependirian dengannya. Dua orang sahabatnya Rais dan Ji’i, ternyata juga sepaham dengannya. Mereka pun menggagas tindakan untuk menolong rakyat miskin.
Si Pitung, Rais dan Ji’i melakukan perampokan terhadap tauke dan tuan-tuan tanah kaya yang berpihak pada kompen Belanda. Hasil rampokannya itu lalu dibagikan kepada rakyat miskin. Rakyat miskin dan mereka yang tertindas serta teraniaya amat berterima kasih mendapat bantuan dari Pitung dan teman-temannya. Namun demikian, sepak terjang si Pitung sangat meresahkan para Tauke dan Para tuan tanah.
Untuk menghadapi aksi perampokan Si Pitung, Para tauke dan tuan-tuan tanah lantas menyewa centeng-centeng atau tukang pukul bayaran. Mereka mencari para centeng yang dikenal mempunyai kemampuan silat tingkat tinggi dan bersedia membayar tinggi jika para centeng itu mampu menjaga harta benda mereka agar tidak dirampok. Mereka mencari hingga kedaerah-daerah yang jauh. Meski demikian, para centeng yang terkenal mempunyai kemampuan silat tinggi itu tidak berdaya juga menghadapi si Pitung dan kawan-kawannya. Harta kekayan para tauike dan Para tuan tanah jahat itu tidak mampu mereka jaga.
Para tauke dan tuan tanah akhirnya melaporkan kejadian yang mereka alami itu kepada pemerintaha Kompeni Belanda. Pemerintah Kompeni Belanda lantas mengirimkan pasukan bersenjata untuk memburu si Pitung. Akan tetapi menangkap si Pitung dan kawan-kawannya bukanlah perkara mudah. Selain serangan-serangan mendadaknya sangat merugikan pasukan Belanda, rakyat pun membantu perlindungan bagi pitung dan kawan-kawan sehingga sulit ditemukan.
Pemerintah Kompeni Belanda lalu menerapkan siasat lain. Mereka menyatakan.” Siapa saja yang bersedia memberikan keterangan perihal dimana keberadaan si Pitung akan diberikan hadiah yang sangat besar.”
Iming-iming hadiah besar itu tidak menarik minat rakyat Betawi, terutama mereka yang miskin, menderita dan teraniaya. Selama itu mereka telah mendapatkan berbagai bantuan dari si Pitung dan kawan-kawan, tentui saja mereka tidak bersedia membantu pemerintahan Kompeni belanda. Si Pitung dan kawan-kawannya merupakan pahlawan bagi rakyat miskin dan tertindas. Bagaimana mungkin mereka bersedia membantu pemerintah kompeni Belanda yang menjajah dan membuat kehidupan mereka menjadi menderita. Meskipun sebagian dari mereka disiksa pemerintah kompeni Belanda untuk menunjukan keberadaan si Pitung, tetap saja mereka enggan menyebutkannya.
Sementara Pemerintah Kompeni Belanda tersu disibukan mencari keberadaan si Pitung. Si Pitung dan kawan-kawan terus melakukan aksi mereka. Mereka melakukan perampokan dengan target Para Tauke dan Para Tuan tanah kejam dan jahat. Hasil rampokannya tetap mereka bagikan kepada rakyat miskin yang mebutuhkan.
Apa yang harus dilakukan pemerintah belanda?
Seperti yang dilakukan di daerah-daerah lain di Indonesia, pemerintah Kompeni Belanda melakukan siasat licik. Mereka menangkap orang tua si Pitung dan memenjarakannya. Selain itu mereka menangkap Haji Naipin dan memenjarakannya. Mereka menyiksa orang tua si Pitung dan Haji Naipin agar bersedia memberitahu keberadaan si Pitung dan rahasia kesaktian terutama ilmu kebalnya.
Betapa kejinya mereka menyiksa kedua orang tua si Pitung dan juga Haji Naipin dengan siksaan yang melewati batas-batas kemanusiaan. Tidak tahan dengan siksaan yang sangat pedih itu, orang tua si Pitung akhirnya memberitahu dimana si Pitung dan kawan-kawannya bersembunyi. Haji Naipin yang sangat menderita karena siksaan yang dialaminya akhirnya juga memberitahu rahasia kesaktian si Pitung.” Jika tubuh si Pitung terkena telur busuk, maka kekebalan tubuhnya akan menghilang.”
Pemerintah Kompeni Belanda lantas mengirimkan pasukan bersenjata yang lebih besar jumlahnya untuk menangkap si Pitung dan kawan-kawan di tempat persembunyian mereka. Pasukan yang lengkap bersenjata itu juga membawa banyak telur busuk untuk menghilangkan kekebalan tubuh si Pitung.
Pertarungan yang sengit terjadi di daerah yang menjadi tempat persembunyian si Pitung. Semula si Pitung dan kawan-kawannya masih mampu merepotkan pasukan bersenjata Kompeni Belanda itu. Amukan mereka mampu menimbulkan banyak korban di pihak pasukan bersenjata. Hingga pasukan bersenjata itu melempari tubuh si Pitung dengan telur-telur busuk sebelum menghujaninya dengan tembakan.
Si Pitung, pahlawan besar Betawi pembela kebenaran itu, akhirnya menghembuskan napas terakhirnya terkena tembakan-tembakan. Si Pitung meninggal dunia sebagai pembela rakyat miskin dan tertindas akibat kekejaman dan kesewenang-wenangan penjajah.
Pesan Moral dari Kisah Rakyat Nusantara : Si Pitung dari Betawi adalah kita seyogyanya menghargai jerih payah para pahlawan karena pahlawan itu telah rela berkorban jiwa dan raga demi menegakan keadilan dan kebenaran yang telah dirusak oleh para penjajah.
DONGENG AIR TELAGA WARNA
DONGENG TELAGA WARNA
Pada zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja. Prabu, begitulah orang memanggilnya. Ia adalah raja yang baik dan bijaksana.
Tak heran, kalau negeri itu makmur dan tenteram. Tak ada penduduk yang lapar di negeri itu.
Semua sangat menyenangkan. Sayangnya, Prabu dan istrinya belum memiliki anak. Hal itu membuat pasangan kerajaan itu sangat sedih.
Penasehat Prabu menyarankan, agar mereka mengangkat anak. Namun Prabu dan Ratu tidak setuju. "Buat kami, anak kandung adalah lebih baik dari pada anak angkat," sahut mereka.
Ratu sering murung dan menangis. Prabu pun ikut sedih melihat istrinya. Lalu Prabu pergi ke hutan untuk bertapa. Di sana sang Prabu terus berdoa agar dikaruniai anak.
Beberapa bulan kemudian, keinginan mereka terkabul. Ratu pun mulai hamil. Seluruh rakyat di kerajaan itu senang sekali. Mereka membanjiri istana dengan hadiah.
Sembilan bulan kemudian, Ratu melahirkan seorang putri. Penduduk negeri pun kembali mengirimkan putri kecil itu aneka hadiah. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang lucu. Belasan tahun kemudian, ia sudah menjadi remaja yang cantik.
Prabu dan Ratu sangat menyayangi putrinya. Mereka memberi putrinya apa pun yang dia inginkan. Namun itu membuatnya menjadi gadis yang manja. Kalau keinginannya tidak terpenuhi, gadis itu akan marah. Ia bahkan sering berkata kasar. Walaupun begitu, orangtua dan rakyat di kerajaan itu mencintainya.
Hari berlalu, Putri pun tumbuh menjadi gadis tercantik di seluruh negeri. Dalam beberapa hari, Putri akan berusia 17 tahun. Maka para penduduk di negeri itu pergi ke istana. Mereka membawa aneka hadiah yang sangat indah. Prabu mengumpulkan hadiah-hadiah yang sangat banyak itu, lalu menyimpannya dalam ruangan istana. Sewaktu-waktu, ia bisa menggunakannya untuk kepentingan rakyat.
Prabu kemudian mengambil sedikit emas dan permata. Ia membawanya ke ahli perhiasan. "Tolong, buatkan kalung yang sangat indah untuk putriku," kata Prabu. "Dengan senang hati, Yang Mulia," sahut ahli perhiasan. Ia lalu bekerja sebaik mungkin, dengan sepenuh hati. Ia ingin menciptakan kalung yang paling indah di dunia, karena ia sangat menyayangi sang Putri.
Hari ulang tahun pun tiba. Penduduk negeri berkumpul di alun-alun istana. Ketika Prabu dan Ratu datang, orang menyambutnya dengan gembira. Sambutan hangat makin terdengar, ketika Putri yang cantik jelita muncul di hadapan semua orang. Semua orang mengagumi kecantikannya.
Prabu lalu bangkit dari kursi-nya. Kalung yang indah sudah dipegangnya. "Putriku tercinta, hari ini aku berikan kalung ini untukmu. Kalung ini pemberian orang-orang dari penjuru negeri. Mereka sangat mencintaimu. Mereka mempersembahkan hadiah ini, karena mereka gembira melihatmu tumbuh jadi dewasa. Pakailah kalung ini, Nak," kata Prabu.
Putri menerima kalung itu. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. "Aku tak mau memakainya. Kalung ini jelek!" seru Putri. Kemudian ia melempar kalung itu. Kalung yang indah itu pun rusak. Emas dan permata-nya tersebar di lantai.
Itu sungguh mengejutkan. Tak seorang pun menyangka, Putri akan berbuat seperti itu. Tak seorang pun bicara. Suasana hening. Tiba-tiba terdengar tangisan Ratu. Tangisan-nya diikuti oleh semua orang.
Tiba-tiba muncul mata air dari halaman istana. Mula-mula membentuk kolam kecil. Lalu istana mulai banjir. Istana pun dipenuhi air bagai danau. Lalu danau itu makin besar dan menenggelamkan istana.
Sekarang, danau itu disebut Telaga Warna. Danau itu berada di daerah puncak. Di hari yang cerah, kita bisa melihat danau itu penuh warna yang indah dan mengagumkan. Warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman, bunga-bunga, dan langit di sekitar telaga. Namun orang mengatakan, warna-warna itu berasal dari kalung Putri yang tersebar di dasar telaga.
DONGENG PUTRI DEWI TANI
DONGENG PUTRI DEWI TANI
Sejauh ini cerita lengkap
tentang Siraso ditemukan dalam buku Fondrakö Ono Niha, Agama Purba –
Hukum Adat – Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias (1981) karya Sökhiaro
Welther Mendröfa (Ama Rozaman).
Dalam bab IV buku tersebut
diceritakan tentang Atumbukha Ziraha Wangahalö (Lahirnya Dewa Dewi Pertanian)
dalam bentuk narasi dan hoho.
Buruti
Siraso (Siraso) adalah putri dari Raja Balugu Silaride Ana’a di Teteholi Ana’a. Balugu Silaride Ana’a
adalah keturunan lebih dari sepuluh setelah Balugu Luo Mewöna. Siraso memiliki
saudara kembar laki-laki bernamaSilögu Mbanua (Silögu).
Di Teteholi Ana’a, Siraso rajin mendatangi
rakyat saat penaburan bibit sehingga tanaman subur dan berbuah lebat. Sedang
Silögu gemar mendatangi rakyat saat panen sehingga bulir-bulir panenan banyak
dan bernas.
Ketika memilih
jodoh, Siraso mengidamkan
suami yang mirip kembarannya, demikian pula Silögu ingin beristri seorang
wanita persis Siraso. Untuk
mencari jodohnya, Silögu pergi berkelana. Sementara Siraso diturunkan ayahnya
ke muara sungai Oyo. Anak kembar itu dipisah agar tidak terjadi incest (kawin sumbang). Dari muara
sungai Oyo, Siraso meneruskan perjalanan ke hulu, tiba di suatu dataran rendah
yang kemudian bernama Hiyambanua, dan bermukim di situ.
Setelah setahun berkelana Silögu pulang. Di rantau dia tidak
menemukan idamannya, di Teteholi Ana’a dia juga tidak bertemu kembarannya.
Menurut ayahnya, Siraso telah meninggal dunia. Betapa gundah-gulana hati
Silögu. Akhirnya, Silögu mohon diturunkan ke bumi. Silögu kebetulan diturunkan di muara sungai Oyo. Dia berjalan
ke hulu sungai, dan tiba di Hiyambanua. Di sana dia bertemu seorang wanita yang
mirip adik kembarnya. Sang wanita itu juga melihat Silögu mirip abang kembarnya.
Dua insan itu akhirnya
kawin. Setelah menjadi pasangan suami-istrii barulah Silögu dan wanita itu
(yang ternyata adalah Siraso) mengetahui bahwa mereka saudara kembar. Apa boleh
buat, Maha Sihai Si Sumber Bayu telah menjodohkan mereka.
Di bumi Nias Siraso dan
Silögu tetap gemar mengunjungi para petani. Doa dan berkat mereka dibutuhkan
untuk bibit dan untuk panen. Setelah mereka meninggal dunia, orang-orang
membuat patung Siraso (Siraha Woriwu)
dan patung Silögu (Siraha Wamasi)
untuk memanggil arwah mereka pada waktu para petani turun menabur bibit dan panen.
Siraso dikenal sebagai Dewi Bibit (Samaehowu
Foriwu), Silögu dikenal sebagai Dewa Panen (Samaehowu Famasi).
Pada waktu mulai menabur
bibit, masing-masing petani membawa bibit tanaman, diserahkan kepada ere (ulama
agama suku) agar bibit tersebut diberkati oleh Dewi Bibit. Upacara pemberkatan
ini mengorbankan babi. Ere memimpin doa pemujaan Siraha Woriwu. Syair hoho
Memuja Dewi Bibit (Fanumbo Siraha Woriwu)
diawali:
He le Siraso samo’ölö, he le Siraso samowua;
soga möi moriwu tanömö, möiga mangayaigö töwua;
mabe’zi sarasara likhe, matanö zi sambuasambua.
(Hai Siraso Sumber hasil, hai Siraso sumber buah.
Kami tiba, menyemai bibit, kami tiba menyemai tampang.
Kami semai tunggal berlidi, kami semai biji satuan.)
Setelah itu syair hoho berisi harapan agar bibit tanaman:
1.
diberi akar menembus
bumi, diberi batang naik mengatas
2.
mayangnya dimatangkan
oleh terik, buahnya dimatangkan oleh panas
3.
terlindung dari
serangan: tikus, walang sangit, celeng, monyet, hama, pipit
4.
tidak diganggu arwah
orang mati dan tidak dihanyutkan banjir
Selain harapan, syair hoho
juga berisi janji (ikrar) yang harus ditepati:
Mabé wabaliŵa mbalaki, mabé wabaliŵa zemoa;
sumange woriwu tanömö, sumange woriwu töwua.
Andrö faehowu ya mo’ölö, andrö faehowu ya mowua.
(Akan kami bayar emas murni, dan kami membayar emas perada.
Persembahan bagi Dewi Bibit, persembahan bagi Dewi tampang.
Berkatilah agar ganda hasil, berkatilah agar berganda buah.)
Tidak dijelaskan bagaimana janji tersebut dilaksanakan, namun dalam pemujaan Dewa Panen disebutkan bahwa sebagian hasil panen harus dibagikan kepada: kaum miskin atau melarat, janda, anak yatim, dan anak yatim-piatu. Bila dilanggar akan membuat dewa marah dan merusak hasil pertanian.
Demikianlah cerita Dewi
Bibit (dan Dewa Panen) dalam buku Ama Rozaman. Kisah Siraso dan Silögu ini pada
zamannya merupakan mite. Para ahli menyebutnya mitos teogonis (mite terjadinya
dewa-dewi), dianggap benar-benar terjadi, dianggap suci (sakral), dan
diwariskan turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Nias tempo dulu.
Keturunan
Siraso
Mitos teogonis dewa-dewi
pertanian kini menjelma menjadi legenda (dianggap benar-benar terjadi, tapi
tidak sakral). Ketika agama modern datang, terjadi iconoclasm (pemusnahan patung-patung berhala) di Nias.
Masyarakat diharamkan menyembah patung (fanömba
adu), sehingga mite dewa-dewi pertanian kehilangan sarana pewarisannya.
Dewa-dewi pertanian tidak dianggap sakral lagi oleh orang Nias, kini diganti
mitos modern bertema teknologi: traktor, pestisida, pupuk, dan bibit unggul.
Bagi folk (orang Nias
zaman sekarang) cerita itu bukan lagi sebuah lore (kebudayaan yang diwariskan). Cerita itu hanyalah sebuah
mite kuno (mite milik orang Nias kuno, bukan milik orang Nias kini) yang
lambat-laun kian dilupakan. Namun keturunan Siraso yang telah tersebar di Tanö
Niha tentu tidak mudah dilupakan.
Generasi ketiga dari
Siraso-Silögu adalah anak kembar: Silaheche
Walaroi dan Silaheche
Walatua. Mereka pindah dari Hiyambanua ke Gomo. Hanya Silaheche Walaroi (Falaroi) yang
selamat sampai di Börönadu Gomo. Falaroi menetap di sana bersama keturunan Hia
Walangi Adu. Dia mendapat gelar Sebua
Moroibalangi. Dari nama gelar itulah asal mado Zebua yang dipakai
keturunannya (Fries, 1919: 106-8;
Zebua, 1996: 6).
Menurut Faondragö Zebua (Ama Yana),
anak Falaroi bernama Lari SumölaIagö Tanömempunyai anak dua:
dan Börödanö. Iagö Tanö berputera Ba’usebua. Ba’usebua kawin denganBuruti Lama, saudari baginda Gea
(keturunan Daeli) di Tölamaera, anaknya empat: Lafoyolatio,Lanö, Hinou Manofu, Manofugabua. Keturunan mereka menyebar: Lafoyolatio tinggal di Ononamölö, Lanö
kembali ke Hiyambanua dan sebagian keturunannya pergi ke Laraga, Hinou Manofu
dan Manofugabua berdomisili di Luaha Moro’ö mendirikan Ononamölö dan Mazingö.
SedangBörödanö menjadi leluhur
mado Zebua di Tetehösi Idanögawo (Zebua,
1996: 16-7).
Cerita versi Faogöli
Harefa agak berbeda. Cucu Siraso-Silögu yang tinggal di Hiyambanua bernama Lari
Sumöla mengembara hingga ke Tölamaera. Di sana dia kawin dengan Buruti Lama,
anaknya dua: I’agötanö dan Börönadö. Anak I’agötanö bernama Ba’u Sebua mempunyai
anak empat: Lafoyo Latio, Lanö, Manofu Gobua, Hino Manofu. Keturunan mereka
menyebar: Lafoyo Latio tinggal di Ononamölö, Lanö pergi ke Oyo, Manofu Gobua
pergi ke Luaha Moro’ö, Hino Manofu pergi ke Sowu. Cucu dari Ba’u Sebua menjadi
asal-usul mado Zebua (Harefa, 1939:
18).
Dalam kedua cerita
tersebut tersimpan sebuah misteri. Suami Buruti Lama menurut Faondragö Zebua
(1996) adalah Ba’usebua, sedang Faogöli Harefa (1939) mengatakan Lari Sumöla.
Untuk menyingkap misteri tersebut, tampaknya perlu penelusuran yang lebih luas
dan teliti terhadap silsilah keluarga (zura nga’ötö) para keturunan Sang Dewi
Bibit, meliputi: Zebua, Zega, Zai, Ziliwu, Hawa, dan lainnya.
DONGENG MISTIS GUNUNG BONGKOK
Dongeng
Gunung Bongkok
Zaman dahulu, di
sekeliling daerah Jatiluhur masih banyak hutan belantara. kemudian di hutan –
hutan tersebut beserta gunung – gunung disekitarnya, ada siluman penunggu yang
sudah ada dari jaman Sangkuriang. Namanya adalah Jonggrang Kalapitung. Badannya
tinggi besar sebanding dengan besarnya gunung. Kulitnya hitam pekat, rambut
kumisnya sebesar tambang sapu dan rambutnya sangat lengket. Suaranya nya pun
sangat menggelegar. Kemudian suaranya tersebut tidak bisa dibedakan apakah dia
sedang lemas atau sedang marah.
Suatu hari,
Jonggrang Kalapitung ingin memancing di Sungai Citarum, karena dia sangat ingin
makan ikan bakar. Setelah keinginannya itu muncuk, kemudian dia berfikir dan
dia menyimpulkan bahwa tidak ada cara lain selain meminta bantuan warga kampung
disekitar sungai tersebut, yaitu Kampung Cisarua. Ketika sampai ke kampung tersebut, Jonggrang Kalapitung pun
berteriak “ hai warga kampung ! ayo berkumpul dihadapanku !”. mendengar suara
tersebut, semua warga kampung langsung berkumpul tumpah ruah di hadapannya.
Jonggrang
Kalapitung meminta bantuan untuk dibuatkan alat pancing yang sangat besar.
Permintaanya tersebut pun dilaksanakan oleh warga kampung. Alat pancingnya
sangat besar, dan diberi umpan kepala sapi. Jonggrang Kalapitung memancing
sembari dikeliling dan disaksikan oleh seluruh warga kampung di sekitar sungai
tersebut. Jonggrang Kalapitung berdiri begitu gagahnya, badannya yang besar
memenuhi tempat tersebut. Kakinya yang sebelah menginjak gunung, dan yang
satunya lagi menginjak pohon bungur yang sangat besar. Selama sebulan, dia
berdiam di tempat itu sambil memancing. Sampai – sampai gunung yang diinjak
tersebut menjadi bongkok serta pohonnya pun hampir mati. Akhirnya gunung
teersebut dinamai Gunung Bongkok.
Di hari ke 40,
pancinggannya bergerak, Jonggrang Kalapitung langsung menarik pancingannya
sekencang mungkin. Karena terlalu kencang, akhirnya pancingan tersebut sampai terlempar
ke belakangnya dan menyangkut ke hutan. Kemudian ketika ditarik kembali oleh
Jonggrang Kalapitung, pancingannya tersebut terangkat namun membuat hutan
dibelakangnya tersebut menjadi rata karena terangkut oleh pancingannya sangat
besar tersebut. Hingga akhirnya hutan tersebut diberi nama Haurpapak.
Jonggrang
Kalapitung penasaran, ikan apa yang menyangkut dipancingannya hingga bergerak
tersebut ?. ketika dilihat, ternyata hanya ikan kecil yang menyangkut di
telinga kepala sapi yang sudah menjadi tengkorak tersebut. Karena begitu
kesalnya, ikan itu pun dilempar dan jatuh di Kampung Cilélé, desa Cisarua
Jatiluhur.
Karena tidak
mendapatkan ikan besar, lama kelamaan Jonggrang Kalapitung pun kelaparan.
Tadinya dia ingin meminta orang kampung lagi untuk membatunya, tetapi tidak ada
satupun orang didekatnya. Semuanya sudah pergi karena ketakutan melihat
Jonggrang Kalapitung yang marah – marah tidak mendapatkan ikan besar. Kemudian
Jonggrang pun melihat pohon jengkol yang sanagt besar dan buahnya sangat
banyak. Akhirnya tanpa berpfikir panjang, jengkol tersebut pun iya habiskan
dari pohonnya. Dia melahap semua jengkolnya. Ketika dia membuang air kecil, dia
kesakitan karena terkena “jengkolan” disebabkan oleh terlalu banyak makan
jengkol.
Jonggrang Kalapitung guling – guling karena
kesakitan. Akhirnya dia pun mengucapkan sumpah serapah kepada pohon jengkol
agar tidak pernah tumbuh ditempat tersebut karena sudah membuatnya kesakitan.
Setelah mengucapkan sumpah serapah tersebut, akhirnya Jonggrang Kalapitung pun
pergi mengilang entah kemana. Dan didaerah Gunung yang akhirnya bernama Gunung
Bongkok itu pun sampai sekarang tidak pernah tumbuh pohon jengkol.
Langganan:
Postingan (Atom)
