Kamis, 14 April 2016

DONGENG PUTRI BANYUMAS



DONGENG PUTRI BANYUMAS         
Sepintas lalu pohon ini tampak seperti pohon biasa, namun demikian bila anda cermati lebih dekat secara langsung pohon ini mempunyai warna yang khas coklat kekuningan layaknya logam tembaga.
Pohon ini merupakan “prasasti” hidup sejarah Banyumas, karena menurut babad dan cerita sejarah Banyumas dari sini titik tonggak sejarah dimulainya / dibangunnya Kabupaten Banyumas . Pohon ini terletak di daerah yang pertama kali dibangun sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas di hutan Mangli daerah Kejawar dan sekarang terletak di Desa Kalisube Grumbul Mangli, Kecamatan Banyumas. Tempat awal pemerintahan dan nama Banyumas.
Menurut penelitian, maka hutan Mangli daerah Kejawar sebagai tempat pertama dibangunnya pusat pemerintahan Adipati Wargo Oetomo II (Djoko Kahiman / Adipati Mrapat) setelah meninggalkan Wirasaba.

Menurut riwayat yang juga dipercayai masyarakat, beliau menerima wisik supaya pergi ke suatu tempat tumbuhnya pohon Tembaga. Di hutan Mangli inilah diketemukan pohon Tembaga yang dimaksud ; yaitu di sebelah Timur pertemuan sungai Pasinggangan dan sungai Banyumas. Kemudian mulailah dibangun tempat tersebut sebagai pusat pemerintahan dengan dibiayai oleh Kjai Mranggi Semu di Kejawar.
         
Ketika sedang sibuk-sibuknya membangun pusat pemerintahan itu, kebetulan pada waktu itu ada sebatang kayu besar hanyut di sungai Serayu. Pohon tersebut namanya pohon Kayu Mas yang setelah diteliti berasal dari Desa Karangjambu (Kecamatan Kejobong, Bukateja, Kabupaten Purbalinga), sekarang sebelah timur Wirasaba. Anehnya kayu tersebut terhenti di sungai Serayu dekat lokasi pembangunan pusat pemerintahan.            








                  
Gambar 2. Batang Pohon Tembaga yang sekarang masih ada

Adipati Marapat tersentuh hatinya melihat kejadian tersebut, kemudian berkenan untuk mengambil Kayu Mas tersebut untuk dijadikan Saka Guru. Karena kayu itu namanya Kayu Mas dan hanyut terbawa air (banyu), maka pusat emerintahan yang dibangun ini kemudian diberi nama Banyumas (perpaduan antara air (banyu) dan Kayu Mas)).

*********



Riwayat singkat Raden Djoko Kahiman (Adipati Marapat).
Riwayat Djoko Kahiman atau Raden Djoko Semangoen adalah putra Raden Harjo Banjaksosro Adipati Pasir Luhur yang sejak kecil diasuh dan diambil anak angkat oleh Kjai dan Njai Mranggi Semoe di Kejawar. Kjai Mranggi sebenarnya namanya adalah Kjai Sambarta dan Njai Mranggi adalah Njai Ngaisah.
Setelah Raden Djoko Kahiman dewasa lalu mengabdikan dirinya pada Kjai adipati Wirasaba yang bernama Adipati Wargo Oetomo I dan akhirnya Raden Djoko Kahiman menjadi menantu Wargo Oetomo I, dinikahkan dengan putri sulungnya yang bernama Rara Kartimah.
Suatu ketika Adipati Wirasaba mendapat titah Sultan agar mempersembahkan salah seorang putrinya untuk dijadikan garwa ampean. Oleh Sang Adipati dipersembahkan putri bungsunya yang bernama Rara Soekartijah, yang pada masa kecilnya pernah dijodohkan dengan putra saudaranya yaitu Ki Ageng Tojareka, namun setelah dewasa Rara Soekartijah menolak untuk berumah tangga dan bercerai sebelum berkumpul.
Sakit hati Ki Ageng Tojareka kemudian membuat fitnah yang menyebabkan murka Sultan Pajang dan menyuruh Gandek supaya membunuh Adipati Wirasaba dalam perjalanan pulang tanpa penelitian terlebih dahulu. Tetapi sesudah diteliti menyesallah Sultan Pajang, kemudian menyuruh Gandek untuk menyusul Gandek terdahulu supaya membatalkan rencana membunuh Adipati Wargo Oetomo I, namun sudah terlambat. Tempat terjadinya di Desa Bener, maka Adipati Wargo Oetomo I juga terkenal dengan sebutan Adipati Sedo Bener, sedangkan makam beliau di pasarehan Pakiringan, sebelah timur kota Banyumas, sekarang masuk wilayah  Purworejo Klampok.
Penyesalan Sultan Pajang kemudian menitahkan memanggil putra Adipati Wirasaba supaya menghadap ke Kesultanan Pajang, namun semua putra Wargo Oetomo I tidak ada yang berani menghadap, akhirnya dengan jiwa heroik dan patriotis karena anggapannya akan dibunuh juga, berangkatlah Raden Djoko Kahiman menghadap Sultan Pajang. Di luar dugaan Raden Djoko Kahiman malah diangkat menjadi Adipati Wirasaba VII dengan gelar Adipati Wargo Oetomo II untuk menggantikan Adipati Wargo Oetomo I yang telah wafat karena kesalahpahaman. Sultan Pajang memberikan segala kebijaksanaan Kadipaten Wirasaba kepada Wargo Oetomo II.
Dengan kebesaran jiwanya Adipati Wargo Oetomo II tidak ingin mementingkan dirinya sendiri (mukti sendiri), karena beliau adalah anak mantu, maka mohon restu agar diperkenankan untuk membagi daerah kekuasaan Wirasaba menjadi 4 daerah.
Menurut penelitian dan hasil seminar, hari, tanggal, bulan, tahun diangkatnya Raden Djoko Kahiman menjadi Adipati Wirasaba VII yang bergelar Adipati Wargo Oetomo II adalah : Jumat Kliwon, tanggal 12 Rabiul awal 990 H bertepatan dengan tanggal 6 April 1582 M.
Sekembalinya dari Pajang maka Raden Djoko Kahiman yang telah diangkat menjadi Adipati Wirasaba VII, beliau membagi daerah
kekuasaannya menjadi empat, yaitu :
1.   Banjar Pertambakan diberikan kepada Kjai Ngabehi Wirojoedo.
2.   Merden diberikan kepada Kjai Ngabehi Wirokoesoemo.
3.   Wirasaba diberikan kepada Kjai Ngabehi Wargowidjojo.
4.   Sedangkan beliau merelakan kembali ke Kejawar dengan maksud mulai membangun pusat pemerintahn yang baru.
Berdasarkan penelitian sejarah ditetapkan Hari  Jadi Kabupaten Banyumas adalah hari Jumat Kliwon, tanggal 12 Rabiul awal 990 Hijriyah bertepatan dengan 6 April 1582 Masehi.


(sumber : sejarah Banyumas)

Selasa, 12 April 2016

DONGENG SEJARAH KOTA GARUT



DONGENG SEJARAH KOTA GARUT
Tahun 1811 oleh Daendles dengan alasan produksi kopi dari daerah Limbangan menurun hingga titik paling rendah nol dan bupatinya menolak perintah menanam nila(indigo). Pada tanggal 16 Pebruari 1813, Letnan Gubernur di Indonesia yang pada waktu itu dijabat oleh Raffles, telah mengeluarkan Surat Keputusan tentang pembentukan kembali Kabupaten Limbangan yang beribu kota di Suci. Untuk sebuah Kota Kabupaten, keberadaan Suci dinilai tidak memenuhi persyaratan sebab daerah tersebut kawasannya cukup sempit. 

Berkaitan dengan hal tersebut, Bupati Limbangan Adipati Adiwijaya (1813-1831) membentuk panitia untuk mencari tempat yang cocok bagi Ibu Kota Kabupaten. Pada awalnya, panitia menemukan Cumurah, sekitar 3 Km sebelah Timur Suci (Saat ini kampung tersebut dikenal dengan nama Kampung Pidayeuheun). Akan tetapi di tempat tersebut air bersih sulit diperoleh sehingga tidak tepat menjadi Ibu Kota. 
Selanjutnya panitia mencari lokasi ke arah Barat Suci, sekitar 5 Km dan mendapatkan tempat yang cocok untuk dijadikan Ibu Kota. Selain tanahnya subur, 
tempat tersebut memiliki mata air yang mengalir ke Sungai Cimanuk serta pemandangannya indah dikelilingi gunung, seperti Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Galunggung, Gunung Talaga Bodas dan Gunung Karacak. 

Saat ditemukan mata air berupa telaga kecil yang tertutup semak belukar berduri (Marantha), seorang panitia "kakarut" atau tergores tangannya sampai berdarah. Dalam rombongan panitia, turut pula seorang Eropa yang ikut membenahi atau "ngabaladah" tempat tersebut. Begitu melihat tangan salah seorang panitia tersebut berdarah, langsung bertanya : "Mengapa berdarah?" Orang yang tergores menjawab, tangannya kakarut. Orang Eropa atau Belanda tersebut menirukan kata kakarut dengan lidah yang tidak fasih sehingga sebutannya menjadi "gagarut". 

Sejak saat itu, para pekerja dalam rombongan panitia menamai tanaman berduri dengan sebutan "Ki Garut" dan telaganya dinamai "Ci Garut". (Lokasi telaga ini sekarang ditempati oleh bangunan SLTPI, SLTPII, dan SLTP IV Garut). Dengan ditemukannya Ci Garut, daerah sekitar itu dikenal dengan nama Garut. Cetusan nama Garut tersebut direstui oleh Bupati Kabupaten Limbangan Adipati Adiwijaya untuk dijadikan Ibu Kota Kabupaten Limbangan.










Rabu, 23 Maret 2016

DONGENG PUTRA ANDE-LUMUT

DONGENG “ ANDE ANDE LUMUT ” Ande - ande Lumut adalah cerita yang menceritakan suatu negeri yang kaya akan alam, nyaman, tentram dan sejahtera. Panji Asmarabangun yang kehidupannya sudah serba enak , kemewahan, kecukupan , menjadi putra mahkota. Pada saat itu Pangeran memiliki keinginan untuk pergi mencari pengalamandan mencari istri yang cantik hati dan cantik wajahnya, Akan tetapi Pangeran itu tadi tidak puas dengan kehidupannya yang serba kemewahan. Pangeran ingin pergi, melewati hutan. Pangeran ingin mencari jati dirinya dan pengalaman hidup. Oleh sebab itu, dimulailah perjalanan kehidupannya. Pangeran ingin menemukan pendamping hidup yaitu wanita yang cantik hatinya dan cantik wajahnya. Bersama dengan tiga orang muda melewati hutan yang lebat, melihat ke kanan dan ke kiri siapa tau ada hewan atau burung yang bisa di buru. Ketiga anak muda tersebut pergi untuk mencari jati dirinya. Ditengah hutan, Pangeran menyamar menjadi Ande – ande Lumut , putra dari seorang Janda dari desa Dadapan. Ande – ande Lumut mengumumkan kalau dia akan mencari seorang istri. Karena ketampanannya Ande – ande Lumut, menjadikan seluruh gadis jatuh cinta termasuk saudara – saudara klenting kuning. Dipagi hari yang cerah Ibu dari Klenting mengumpulkan anak – anaknya. Anak – anaknya sangat cantik wajahnya, yaitu : Klenting Merah, Klenting Hijau dan salah satu anak tirinya yang bernama Klenting Kuning. Ibu dari Klenting sangat menyayangi anak – anak perempuannya, namun tidak dengan Klenting Kuning. Menjadi anak tiri, ia sangat dibedakan kasih sayangnya. Klenting Kuning disuruh nyapu, membersihkan rumah dan bekerja di sawah, sangat memprihatinkan. Dalam perjalanan menuju rumahAnde – ande Lumut. Klenting Kuning, Klenting Merah, Klenting Hijau harus melewati sungai yang besar. Saat harus menyebrangi sungai, ada penjaga sungai tersebut yang berwujud Yuyu ( Kepiting) yang sangat besar, yang bernama Yuyu Kangkang. Yuyu Kangkang mau menyebrangkan tapi dengan upah yaitu dicium. Karena terburu – buru Klenting Merah dan Klenting Hijau mau menyetujui. Tapi hanya Klenting Kuning yang tidak mau dicium. Disaat Yuyu Kangkang memaksa Klenting Kuning untuk dicium. Klenting kuning mengeluarkan kesaktian yang berwujud bintang sakti, air sungai menjadi kering, Lalu Klenting Kuning dapat menyebrang sungai dengan mudah. Setelah sampai dirumah Ibu Janda Dadadapan, Klenting Merah dan Klenting Hijau berkata kalau mereka akan melamar Ande – ande Lumut. Klenting merah berkata “ Bu, saya datang kesini akan melamar Ande – ande Lumut”. Jawab Ibu Janda tersebut “ Ooh..mau melamar Ande – ande Lumut? Saya tanyakan Ande – ande Lumut terlebih dahulu.” Akan tetapi Ande – ande Lumut tidak mau karena walaupun cantik tapi sudah bekasnya Yuyu Kangkang. Namun, hanya Klenting Kuning yang diinginkan Ande – ande Lumut, karena Klenting Kuning tidak mau dicium Yuyu Kangkang. Setelah itu, Ande – ande Lumut menerima Klenting Kuning menjadi istrinya. Semua orang tidak tahu bahwa Klenting Kuning adalah Putri Sekartaji, putri Raja Kediri Jaya Negara yang menyamar mencari Pangeran Panji Asmarabangun, calon suaminya yang hilang. Setelah itu, mereka menjadi pasangan pengantin yang tidak bisa dipisahkan. Pernikahannya menggunakan bahasa Jawa yang lugu. Akhirnya Klenting Kuning menjadi pendamping hidupnya Ande – ande Lumut. Dan sekarang Ande – ande Lumut menjadi Raja menggantikan kerajaan ayahnya. Pangeran dan Klenting Kuning hidup bahagia selamanya.

DONGENG PUTRA ANGLING DARMO

Dongeng Angling Dharmo Angling Dharmo adalah raja dari kerajaan Malawapati yang berpermaisurikan Dewi Setyowati, putri dari guru Angling Dharmo yakni Begawan Maniksutra. Kakak Dewi Setyowati bernama Batik Madrim, bersumpah bahwa barang siapa yang hendak memperistri adiknya maka harus mengalahkannya. Angling Dharmo berhasil mengalahkan Batik Madrim dan diangkatmenjadi Patih kerajaan. Meski berwatak baik, Angling Dharmo mudah emosi dan mudah tergoda oleh wanita cantik. Suatu ketika, Angling Dharma mendapati sepasang burung jalak memadu kasih di atas pohon tepat di atas kepalanya. Ternyata dua jalak itu adalah jelmaan dari Sang Hyang Batara Guru dan istrinya Dewi Uma. Angling Dharma memanah mereka. Lallu Batara Guru marah dan mengutuk Angling Dharma akan berpisah dengan istrinya karena tak harmonis dalam bercinta. Angling Dharmo terhipnotis oleh kutukan itu dan tak harmonis dengan istrinya. Angling Dharmo pergi ke hutan untuk menenangkan pikirannya. Di dalam hutan ternyata ia melihat Naga Gini istri dari Naga Raja sedang berselingkuh dengan seekor ular tampar. Angling Dharma marah dan memanah ular tampar itu sampai mati, namun ternyata anak panah tersebut melukai ekor Naga Gini. Naga Gini mengadu pada Naga Raja dan memfitnah Angling Dharmo bahwa Angling Dharmo berniat untuk membunuhnya. Beruntung Angling Dharmo mampu untuk meyakinkan Naga Raja dengan meyakinkan bahwa ia menolong Naga Gini dari ular tampar. Karena rasa terima kasih Naga Raja Angling Dharmo mendapat ilmu Aji Gineng (ilmu menguasai bahasa binatang) dari Naga Raja, dengan syarat bahwa ia tidak boleh memberitahu siapapun mengenai ilmu ini. Ketika Angling Dharmo marah besar dan membuat setyowati kecewa berat dan memutuskan untuk bunuh diri dengan membakar dirinya. Demi menunjukkan cintanya, Angling Dharmo bersumpah untuk tidak menikah lagi. Sumpah itu didengar oleh Dewi Uma dan Dewi Ratih. Kedua dewi itu menguji sumppah Angling Dharmo dengan merubah wujudnya menjadi dua gadis yang sangat cantik dan menggoda Angling Dharmo. Runtuhlah sumpah itu karena menanggapi godaan itu. saat itulah kedua gadis itu merubah wujudnya kembali menjadi dewi kahyangan. Dewi Uma menghukumnya dengan mengembara meninggalkan istana untuk menebalkan imannya. Kerajaan dipimpin oleh Batik Madrim. Dalam pengembaraannya Angling Dharmo bertemu tiga orang gadis cantik yaitu Widati, Widata, dan Widianingsih. Ketiga gadis itu menyuruh Angling Dharmo untuk tetap tinggal. Selidik punya selidik ternyata tiga gadis itu adalah anak siluman dan Angling Dharmo dikutuk menjadi seekor burung belibis karena kalah pertarungan dengan ketiga siluman tersebut. Anling Dharmo dengan wujud burung belibis itu terbang sampai ke wilayah kerajaan Bojonegoro, dengan mudah ia ditangkap oleh Joko Gedug. Saat itu juga raja di kerajaan Bojonegoror yaitu darmawangsa sedang mengadakan sayembara. Barang siapa yang bisa mengungkap Bermana yang asli akan mendapat hadiah besar. Burung belibis itu membujuk Joko Gedug untuk mengikuti sayembara. Akhirnya Joko gedug mengikuti perintah burung belibis terbut dengan membawa kendi, dan berkata bahwa barang siapa yang bisa masuk kedalam kendi adalah Bermana yang asli. Salah satu Bermana dengan serakah dan kekuatannya berhasil masuk ke dalam kendi. Joko Gedug buru-buru langsung menutup kendi itu. rumor mengatakan bahwa yang masuk kedalam kendi itu adalah jelmaan dari jin bernama Wiratsangka. Jaka Gedug diberi jabatan Hakim Kerajaan. Putri Darmawangsa, Dewi Ambarawati tergoda melihat burung belibis itu. burung belibis yang tak lain adalah Angling Dharmo pada suatu malamberubah menjadi laki-laki tampan dan menggoda Ambarawati hingga mengandung. Kerajaan Bojonegoro menjadi gempar dan mengadakan sayembara untuk mencari tau siapa yang menghamili putrinya. Batik Madrim mengikuti sayembara itu sambil mencari rajanya. Batik Madrim Menyamar sebagai, Resi Yogiswara langsung menyerang belibis putih. Belibis putih berkata kepada Resi Yogiswara untuk menyerah saja, manyadari suara itu Resi Yogiswara langsung menyembahnya dan berkata bahwa ia adalah Batik Madrim yang mencari rajanya karena masa hukuman telah berakhir. Karena kesetiaan Batik Madrim kutukan dari tiga gadis itu akhirnya hilang. Angling Dharmo menikah dengan Ambarawati dan mempunyai anak Angling Kusuma. Angling Kusuma inilah yang kelak boleh menggantikan posisi dari kakeknya untuk memrintah kerajaan Bojonegoro

DONGENG PUTRA BUJANG KATAK

Dongeng Bujang Katak Pada jaman dahulu kala di sebuah dusun yang berada di Bangka Belitung hiduplah seorang nenek tua yang sangat miskin. Nenek tua itu bekerja dengan berladang pada ladang yang merupakan peninggalan orang tuanya. Nenek tua ini hidup sebatang kara dan saat orang orang sibuk bercocok tanam pada musim tanam si nenek yang tubuhnya juga sudah lemah lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat sembari ia kadang kadang menggarap ladangnya, dalam istirahatnya ia berkhayal ingin punya seorang anak. Ia berfikir jika memiliki seorang anak maka ia tidak akan selelah ini untuk menggarap ladangnya sendirian. Saat siang pun datang ia memilih pulang ke gubuk reotnya untuk benar benar beristirahat. Saat itu ia duduk duduk didepan gubuknya sembari matanya menerawang kembali memikirkan khayalannya yang juga disertai doa agar Tuhan mengabulkan pintanya untuk mempunyai seorang anak walaupun hanya berbentuk seperti katak. Tiga hari kemudian nenek tua tersebut merasa ada yang aneh dalam perutnya ,seperti ada benda yang bergerak gerak dan ternyata Tuhan mengabulkan doanya karena nenek tua itu sedang mengandung. Terdengarlah kabar itu oleh penduduk kampung yang berfikiran bagaimana bisa nenek tua yang tanpa suami itu bisa mengandung, mereka berfikir nenek tua itu sudah melakukan hal hal yang dilarang alias tidak senonoh. Nenek tua itu selalu menjadi bahan pembicaraan penduduk dengan tuduhan yang tidak tidak.Tapi ia hanya bersabar dan pada suatu malam terdengar teriakan dari dalam gubuk reot nenek tua yang ternyata ingin melahirkan. Berdatanganlah para warga namun belum sempat mereka masuk ke gubuk reot sudah terdengar tangisan bayi yang merupakan bayi nenek tua renta itu. Sang bayi lahir dalam bentuk tubuh yang mirip katak lalu menjadi bahan ejekan warga yang mengatakan bahwa nenek tua itu sudah berhubungan dengan katak hingga bayinya mirip seperti katak.Namun perempuan tua itu menceritakan kisahnya kepada warga perihal kelahiran putranya hingga akhirnya para warga kembali kerumahnya masing masing. Walaupun putranya lahir dalam keadaan seperti katak tapi perempuan tua itu tetap bersyukur kepada Tuhan dan berjanji merawat dan menyayangi anaknya sepenuh hati. Hari hari terus berlalu tanpa terasa putranya semakin dewasa dan penduduk kampung memanggilnya bujang katak karena badannya yang mirip katak.Bujang katak dalam kesehariannya sangatlah rajin dan tidak pernah keluar rumah kecuali membantu ibunya berladang. Ibunya tidak pernah menceritakan tentang asal usulnya lahir namun suatu hari bujang katak ingin ibunya menceritakan tentang keadaan negerinya tersebut maka berceritalah ibunya . Ibunya mengatakan bahwa negerinya ini dipimpin seorang Raja yang mempunya 7 puteri yang cantik cantik. Mendengar hal tersebut bujang katak langsung berkhayal andai ia bisa mempersunting salah satu dari mereka untuk menjadi pendamping hidupnya. Akhirnya bujang katak pun memberanikan diri mengungkapkan keinginannya pada ibunya.Alangkah terkejutnya ibu bujang katak saat mendengar keinginanya,karena mustahil baginya untuk mendapatka puteri raja dengan kedaan tubuhnya yang mirip katak. Tapi karena Bujang katak terus memohon maka sang ibu pun memberanikan diri untuk datang keistana Raja untuk menyampaikan niatnya. Maka keesokan harinya datanglah sang ibu ke istana raja untuk menyampaikan niatnya. Sesampainya disana karena tak berani langsung bicara pada Raja tentang keinginanya maka ibunya berpantun "Te...sekate menjadi gelang. Pe...Setempe nek madeh pesen Urang..." Sang raja mengerti maksud perempuan tua tersebut lalu memanggil ke 7 puterinya yang cantik cantik. Namun alangkah sedihnya nasib nenek tua yang bukannya mendapatkan perlakuan sopan malah diludahi satu persatu oleh puteri puteri raja itu kecuali si bungsu yang tak tega melihat perlakuan kakak kakak nya. Melihat kejadian itu nenek tua pun pulang dan menceritakan hal itu pada puteranya bujang katak. Bujang katak saat mendengar hal tersebut merasa sedih dan iba pada ibunya tapi ia tetap punya harapan dalam hati karena ia yakin puteri bungsu mau menerima lamarannya karena puteri bungsu tidak melakukan hal hal yang dilakukan oleh puteri puteri yang lainnya. Maka datanglah bujang katak berserta ibunya kembali ke istana Raja. Keesokan hari saat bujang katak dan ibunya kembali ke istana raja maka tertawalah raja dan para pengawalnya sembari mengejek bujang katak yang badannya mirip katak. Sembari kembali memanggilkan puteri puterinya dan hal yang sama dilakukan oleh puteri puteri raja yaitu meludahi bujang katak kecuali sang bungsu. Dalam hati sang bungsu ingin menerima pinangan bujang katak namun ia takut mengungkapkan itu pada ayahandanya. Sang Rajapun heran kenapa puteri bungsunya tidak meludahi bujang katak lalu mengerti apa maksud puterinya .Sang Raja akhirnya memberikan kesempatan pada bujang katak namun dengan mengajukan persyaratan yang tidak masuk akal dan sangat berat agar puterinya tidak bisa dipinang bujang katak yaitu dengan membuat jembatan emas dari gubuknya ke istana Raja dalam waktu tujuh hari tujuh malam. Setelah mendengar hal itu bujang katak pun menyetujuinya. Pulanglah bujang katak dan ibunya kembali ke gubuk.Ibunya bertanya pada puteranya bagaimana ia bisa mewujudkan syarat yang tak mungkin itu namun bujang katak berusaha meyakinkan bahwa jika Tuhan berkehendak maka tak ada yang tak mungkin. Pergilah bujang katak kesuatu tempat yang sepi untuk bertapa. Selama 6 hari 6 malam sudah ia lewati namun belum juga ada keajaiban. Di hari ketujuh keajaiban yang dinantikan itu datang, tubuhnya yang seperti katak tiba tiba menguning bersinar keemasan dan mengelupas. Bujang katak berubah menjadi pemuda yang tampan dan gagah. Lalu kulitnya yang mengelupas itu pun berubah menjadi emas dan saat ia kumpulkan berubah menjadi batangan batangan emas. Sungguh keajaiban yang luar bisa dan bujang katak sangat bersyukur pada Yang Maha Kuasa. Lalu malam itu juga ia mangajak ibunya itu menyusun batangan emas itu menjadi jembatan dari gubuknya hingga istana Raja. Saat pagi tiba sang Raja pun terkagum melihat jembatan yang dibuat bujang katak lalu memanggil bujang katak dan ibunya kembali ke istana. Ibu bujang katak beserta bujang katak kembali ke istana namun alangkah kagetnya Sang Raja melihat pemuda yang begitu tampan disebelah perempuan tua yang tak lain adalah ibu bujang katak.Sang raja lalu bertanya siapakah pemuda tampan itu dan pemuda itupun menjawab bahwa ia adalah bujang katak. Dipanggillah puteri bungsu raja dan puteri puteri lainya. Alangkah bahagianya putrei bungsu karena bujang katak adalah pilihan tepat untuknya dan langsung meminangnya. Kakak Kakak puteri bungsupun menyesal karena telah menolak dan meludahi bujang katak. Akhirnya pernikahan pun dilangsungkan dengan mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam. Kakak Kakak puteri bungsupun akhirnya menyuruh para pengawal untuk menangkap katak katak yang ada disawah karena mereka berfikir bahwa bujang katak berasal dari katak katak biasa di sawah. Mereka masing masing menyimpan satu katak dalam lemari berharap 7 hari kemudian berubah menjadi pria tampan.Namun alangkah terkejutnya mereka ketika membuka lemari bau busuk langsung menyebar seistana karena katak katak itu mati dan berulat. Keenam puteri tersebut berlari keluar kamar sambil muntah muntah karena bau busuk tersebut. Sang Raja yang mengetahui perbuatan ke enam puterinya akhirnya memberi hukuman untuk membersihkan kamar mereka masing masing. Sang Puteri bungsu hanya tersenyum melihat kelakuan kakak kakaknya . Waktu berlalu dan Sang Raja merasa semakin tua dan akhirnya menyerahkan Tahtanya kepada bujang Katak. Mereka hidup bahagia dalam istana. Bujang katak Ibunya Puteri bungsu dan keluarga Raja lainnya. Bujang katak menjadi Raja yang bijaksana dalam memimpin rakyatnya.

DONGENG AIR DANAU LIMBOTO

 DONGENG DANAU LIMBOTO
Dongeng Danau Limboto Dahulu, daerah Limboto merupakan hamparan laut yang luas. Ditengahnya terdapat dua buah gunung yang tinggi, yaitu gunung Boliohuto dan Gunung Tilongkabila. Pada suatu ketika, air laut surut, sehingga kawasan itu berubah menjadi daratan. Di beberapa tempat yang lain muncul sejumlah mata air tawar. Salah satu diantara mata air tawar tersebut mengeluarkan air yang sangat jernih dan sejuk. Mata air tersebut bernama Mata Air Tupalo. Tempat ini sering didatangi tujuh bidadari bersaudara dari kahyangan untuk mandi dan bermain sembur-semburan air. Suatu hari, ketika tujuh bidadari tersebut sedang asyik mandi dan bersenda gurau di sekitar mata air tupalo tersebut, seorang pemuda bernama Jilumoto melintas ditempat itu. Melihat ketujuh bidadari tersebut, Jilumoto segera bersembunyi di balik sebuah pohon. “aduhai… cantiknya bidadari-bidadari itu!” gumam Jilumoto dengan takjub. Ketika para bidadari itu sedang asyik bersenda gurau, perlahan-lahan ia berjalan menuju ke tempat sayap-sayap tersebut diletakkan. Setelah berhasil mengambil salah satu sayap tersebut, pemuda tampan itu kembali bersembunyi di balik pohon besar. Ketika hari menjelang sore, ketujuh bidadari tersebut selesai mandi dan bersiap-siap untuk pulang ke kahyangan. Setelah memakai kembali sayap merekea, mereka pun bersiap-siap terbang ke angkasa. Namun, salah satu sayap bidadari tersebut, pemuda tampan itu kembali tersembunyi di balik pohon besar. “hai, adik-adikku! Apakah kalian melihat sayap kakak?”. Rupanya, bidadari yang kehilangan sayap adalah bidadari tertua yang bernama mbu’i Bungale. Karena hari mulai gelap, keenam bidadari itu pergi meninggalkan sang kakak seorang diri di dekat mata air Tupalo. “ kakak jaga diri baik-baik!” seru bidadari yang bungsu. “adikku janagn tinggalkan kakak!” teriak mbu’I Bungale ketika melihat keenam adiknya sedang terbang keangkasa. Keenam adiknya tersebut tidak menghiraukan teriakannya. Tinggalah mbu’I Bungale seorang diri di tengah hutan. Tiba-tiba “ hai, bidadari cantik! Kenapa kamu bersedih begitu?” Tanya Jilumoto dengan berpura-pura tidak mengetahui kejadian sebenarnya. “ sayapku hilang, bang! Aku tidak bisa lagi kembali ke kahyangan.” Jawab Mbu’I Bungale. Mendengar jawaban itu, tanpa berpikir panjang Jilumoto segera mengajak Mbu’I Bungale untuk menikah. Bidadari yang malang itu pun bersedia menikah dengan Jilumoto. Setelah menikah mereka menemukan bukit yang terletak tidak jauh dari Mata air Tupalo. Di atas bukit tersebut mereka mendirikan rumah sederhana. Mereka menamai bukit itu Huntu lo Ti’opp atau Bukit Kapas. Pada suatu hari, mbu’I Bungale mendapat kiriman Bimelula, yaitu sebuah mustika sebesar telur itik dari kahyangan. Bimelula itu ia simpan di dekat mata air Tupalo dan menutupinya dengansehelai Tolu atau tudung. Beberapa hari kemudian, ada empat pelancong dari daerah timur yang melintas dan melihat mata air tersebut, salah seorang diantara mereka melihat ada tudung terletak di dekat mata air tupelo. “ hai kawan-kawan! Lihatlah benda itu! Bukankan itu tudung?” seru salah seorang dari pelancong itu. : benar kawan! Itu adlah tudung.” Kata seorang lainnya. Karena penasaran mereka segera mendekati tudung itu dan bermaksud untuk mengangkatnya, begitu mereka ingin menyentuh tudung itu, tiba-tiba badai dan topan sangat dahsyat datang menerjang, kemudian disusul hujan yang sangat deras. Keempat pelancong berlarian mencari tempata perlindungan agar terhindar dari marabahaya. Untungnya badai dan angina tersebut tidak berlangsung lama. Karena mereka masih penasaran ingin mengambil benda yang ditutupi tudung itu, merekapun bermaksud mengambil tudung itu, merea meludahi bagian atas tudung itu dengan sepah pinang yang sudah dimantrai. Mereka melihat sebuah benda bulat yang tak lain adalah Bimelula. Ketika mereka akan mengambil benda itu, tiba-tiba mbu’I bungale datang bersama suaminya Jilumoto. “ maaf tuan-tuan! Tolong jangan sentuh mustika itu! Izinkanlah kami untuk mengambilnya, karena benda itu milik kami.!” Pinta mbu’I bungale. “siap kalian berdua ini? Berani sekali mengaku sebagai pemilik mustika ini!” seru seorang pemimpin pelancong. “saya mbu’I bungale datang bersama suamiku, Jilumoto, ingin mengambil mustika itu” jawab mbu’I bungale dengan tenang. Namun keempat pelancong itu tetap memaksa ingin memiliki mustika tersebut. Mb’u’I bungale pun menantang mereka “ hai, aku ingatkan kalian semua! Kawasan mata air ini ditutrunkan tuhan oleh tuahn yang maha kuasa kepada orang-orang yang suka berbudi baik antarsesama makhluk di dunia ini. Bukan dberikan kepada orang-orang tamak dan rakus seperti kalian. Tapi jika memang benar kalian pemilik dan penguasa ditempat ini, perluaslah mata air ini! keluarkan seluruh kemampuan kalian, aku siap untuk menantang kalian! Seru mbu’I bungale. Keempat pelancong itupun bersedia menerima tantangan mbu’I Bungale. Si pemimpin pelancong segera membaca mantra dan mengeluarkan seluruh kemampuannya. “ wahai mata air kami! Meluas dan membesarlah,” demikian bunyi mantranya, namun tak sedikitpun menunjukkan adanya tanda-tanda air tersebut akan meluas setelah mantra itu dibacakan berkali-kali. Lama kelamaan mereka pun kehabisan tenaga. “hai, kenapa kalian berhenti! Tunjukkanlah kepada kami bahwa mata air itu milik kalian! Atau jangan-jangan kalian sudah menyerah!” seru mbu’I bungale. “diam kau, hai perempuan cerewet! Jangan hanya pandai bicara!” sergah pemimpin pelancong itu balik menantang mbu’I bungale. “ Jika kamu pemilik mata air ini, buktikan pula kepada kami!” setelah mendengar itu, mbu’I bungale duduk bersila di samping suaminya seraya bersedekap. Mulutnya pun komat-komit membaca doa. “hai, air kehidupan, mata air sakti, mata air yang memiliki berkah. Melebar dan meluaslah wahai mata air para bidadari… membesarlah.. !!” demikian doa mbu’I bungale. Usai berdoa, mbu’I bungal segera mengajak suaminya dan memerintahkan keempat pelancong tersebut untuk naik ke atas pohon yang paling tinggi, karena sebentar lagi kawasan itu akan tenggelam. Doanya pun dikabulkan. Beberapa saat kemudian , perut bumi tiba-tiba bergemuruh, tanah bergetar dan menggelegar. Perlahan-lahan mata air itu melebar dan meluas, kemudian menyemburkan air yang sangat deras. Dalam waktu sekejap tempat itu tergenang air. Keempat pelancong tersebut takjub melihat keajaiban itu dari atas pohon kapuk. Semakin lama genangan air itu semakin tinggi hampir mencapai tempat keempat pelancong yang berada di atas pohon kapuk itu. Mereka pun ketakutan dan meminta maaf kepada mbu’I bungale. Mbu’I Bungale adalah bidadari yang pemaaf. Dengan segera ia memohon kepada tuhan agar semburan mata air tupalo dikembalikan seperti semula. Tak berapa lama kemudian semburan air pada mata air tersebut kembali seperti semula. Mereka pun turun dari pohon. Mbu’I bungale segera mengambil tudung dan mustika BImelula. Ajaibnya ketika ia meletakkan di atas tangannya mustika yang menyerupai telur tersebut tiba-tiba menetas dan keluarlah seoang bayi perempuan yang sangat cantik. Wajahnya brcahaya bagaikan cahaya bulan, yang kemudiian diberi nama Tolango Hula yang ebrarti cahaya bulan. Tolango hula yang kelak menjadi raja limboto. Setelah itu mbu’I bunngale dan suaminya segera membawa anaknya keruamah beserta empat pelancong itu. Namun tiba-tiba mbu’I bungale melihat lima buah benda terapung-apung ditengah danau yang ternyata merupakan buah jeruk yang sama seperti yang ada di kahyangan. Untuk lebih meyakinkan dirinya, ia bermaksud memeriksa pepohonan yang tumbuh disekitar danau. Akhirnya mbu’I Bungale menemukan beberapa pohon jeruk yang sedang berbuah lebat setelah beberapa saat dia memeriksa. Kemudian ia memanggil suaminya untuk mengamati pohon tersebut. Suaminya pun segera mendekati pohon jeruk itu sambil menggendong bayi mereka. Setelah memegang dan mengamatinya, ia pun yakin bahwa pohon dan buah jeruk itu berasala dari kahyangan. “kamu benar, Dinda! Pohon jeruk ini seperti yang ada di kahyangan.” Kata jilumoto. Beberapa saat kemudian mbu’I bungale baru menyadari bahwa keberadaan pohon jeruk di sekitar danau itu merupakan anugerah dari tuhan yang mahakuasa. Untuk mengenang peristiwa yag baru saja terjadi di daerah itu, Mbu’I bungale dan suaminya menamakan danau itu Bulalo lo limu o tutu, yang artinya danau dari jeruk yang berasal dari kahyangan. Lama-kelamaan, masyarakat setempat menyebutnya dengan Bulalo Lo Limutu atau lebih dikenal dengan sebutan Danau Limboto.

DONGENG PUTRI KEONG EMAS

DONGENG PUTRI KEONG EMAS
Dongeng Keong Mas Pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Daha. Di kerajaan itu hidup dua orang putri yang begitu cantik. Putri itu bernama Dewi Galuh dan Candra Kirana. Kedua putri Raja tersebut hidup serba kecukupan dan juga sangat bahagia. Suatu hari, datang seorang pangeran dari Kerajaan Kahuripan. Pangeran itu sangat tampan ia bernama Raden Inu Kertapati. Pangeran itu datang ke kerajaan Daha dengan maksud ingin melamar Candra Kirana. Kedatangan pangeranpun sangat disambut baik oleh Raja yang akhirnya Candra Kirana dan Pangeran Inu pun bertunangan. Namun Dewi Galuh iri atas pertunangan mereka karena ia piker Pangeran Inu lebih pantas untuk dirinya. Dengan begitu Dewi Galuhpun pergi ke nenek sihir untuk meminta supaya Candra Kirana itu di sihir menjadi sesuatu hal yang menjijikan dan raden Inu menjauhinya. Nenek sihir langsung mengabulkan keinginan Dewi Galuh dan menyihir Candra Kirana menjadi Keong Emas dan membuang Keong emas itu ke sungai. Suatu hari, ada seorang nenek yang sedang mencari ikan dengan jala, dan keong emas pun tersangkut di Jalanya si nenek. Keong emaspun di bawa oleh sang Nenek ke rumahnya dan di simpan di tempayan. Keesokan harinya sang Nenek mencari ikan lagi, namun tak satupun ikan yang di dapatnya dan akhirnya si Nenek memutuskan untuk pulang saja. Ketika sang Nenek tiba di rumah, tiba-tiba ia kaget karena sudah tersedia makanan yang sangat enak di mejanya. Sang Nenekpun heran dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri siapa yang mengirim semua makanan itu. Kejadian it uterus berulang ketika sang Nenek pergi dari rumahnya, suatu hari sang Nenek ingin tahu dan mengintip siapa sebenarnya yang mengirim masakan itu. Secara tida-tiba sang nenekpun kaget karena Keong emas yang di tempayannya itu berubah menjadi seorang gadis yang begitu cantik. Lalu gadis itu langsung masak dan menyiapkannya di meja, karena sang Nenek sangat penasaran, sang Nenek pun menghampiri dan menegur putri yang cantik itu. “Siapa kamu wahai putri yang cantik? Dan dari manakah asalmu?”. Tanya sang Nenek “Aku seorang Putri dari Kerajaan Daha Nek, aku disihir menjadi Keong emas oleh seorang Nenek Sihir atas perintah saudariku karena ia iri padaku”. Jelasnya candra Kirana Setelahnya ia menjelaskan asal-usul dirinya, iapun berubah kembali menjadi Keong emas. Sang nenekpun begitu heran. Sementara itu, Pangeran Inu tak mau diam saja ketika ia mengetahui kalau Candra Kirana hilang. Iapun dengan segera mencari tahu keberadaannya dengan menyamar menjadi rakyat biasa. Nenek sihir yang jahat itupun mengetahui tujuannya pangeran Inu dan akhirnya si Nenek sihir menyamar menjadi burung gagak. Raden Inu Kertapati kaget ketika ia melihat burung gagak yang bisa berbicara dan juga mengetahui tujuannya. Sang Pangeran menganggap kalau burung itu sakti dan menuruti kemauannya, padahal Raden Inu diberikan jalan yang salah oleh si burung gagak itu. Di tengah-tengah perjalanan sang Pangeranpun bertemu dengan seorang kakek yang sedang kelaparan, sang Raden pun memberinya ia makan. Sang Kakek tua itu ternyata orang yang sangat sakti sehingga ia menolong sang Pangeran dari burung gagak tersebut dengan memukul burung itu dengan tongkatnya sehingga sang burung berubah menjadi asap. Sang Pangeranpun menceritakan perjalannya kepada sang kakek, dan sang kakek menyuruh Raden untuk pergi ke Desa Dadapan. Setelah menghabiskan waktu beberapa hari, sampailah ia di Desa Dadapan tersebut dan mendekati sebuah gubuk dengan niatan ingin meminta seteguk air karena perbekalannya sudah habis. Ketika ia melihat dari balik jendela, ia sangat terkejut sekali, ternyata di dalam gubuk itu ada Candra Kirana yang sedang memasak. Karena pertemuannya itu Candra Kiranapun akhirnya trelepas dari sihir dan mereka pun akhirnya kembali ke istana dengan membawa sang nenek yang baik hati itu juga. Candra Kiranapun menceritakan semua perbuatan Dewi Galuh kepada baginda Kertamarta. Sang Bagindapun meminta maaf atas kejadian itu kepada putrinya Candra kirana dan sang putripun demikian. Sementara itu Dewi Galuh mendapat hukuman atas perbuatannya itu, namun karena ia takut mendapatkan hukuman itu akhirnya Dewi Galuhpun melarikan diri ke hutan. Pangeran Inu Kertapati dan Putri Candra Kiranapun akhirnya menikah dengan pesta yang begitu meriah hingga akhirnya mereka hidup bahagia.