Rabu, 23 Maret 2016

DONGENG MISTIS RUMAH HANTU




Dongeng Hantu Rumah Kosong
Pada suatu hari di daerah Magelang Jawa Tengah ada cerita masyarakat yang menjadi perbincangan publik dan sudah menyebar kemana-mana. Cerita ini mengenai misteri sebuah hantu yang ada di rumah kosong dan menakuti masyarakat yang ada di daerah situ. Hingga cerita tersebar luas dan akhirnya sampai saat ini baru bisa terpecahkan.
Bermula dari sebuah keluarga yang membeli rumah kosong tersebut, yang konon katanya rumah itu di bangun di atas kuburan. Keluarga itu merupakan keluarga pindahan yang belum tau asal mula rumah tersebut. Keluarga itu langsung membeli rumah tersebut dengan harga murah.
Keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak ini awalnya baik-baik saja tinggal di rumah tersebut. Namun akhirnya setelah beberapa bulan mulai ada keanehan yang nampak di rumah tersebut seperti suara-suara aneh dan bayangan tidak jelas.
Suatu ketika keluarga tersebut di rampok dan permpok itu membunuh semua anggota keluarga tersebut, bahkan memperkosa sang istri dan anak perempuannya. Mayat dari keluarga tersebut berada di dalam rumah dengan darah yang berceceran dan bekas pemerkosaan serta banyak bagian rumah yang rusak.
Dari kejadia ini rumah tersebut semakin angker dan banyak kejadian aneh yang terjadi. Tadinya masyarakat tidak berani membersihkan bekas-bekas kejadian pembunuhan, hanya polisi yang mengevakuasi korban tetapi rumah tersebut masih dalam kondisi yang tidak karuan.
Hari demi hari di lewati rumah tersebut yang ada di tepi jalan itu sudah memehan banyak korban dengan penampakan yang ada. Suatu malam ada dua orang hansip yang jaga malam dan mendengar ada suara aneh yang terdengar dari rumah tersebut. Walaupun tidak ada warga masyarakat yang berani mendekati rumah tersebut dan kedua hansip itu tadinya takut, Namun akhirnya kedua hansip iitu memberanikan diri untuk melihat kondisi rumah tersbut.
Saat sampai di depan rumah tersebut kedua hansip di kagetkan dengan sesosok pocong yang berdiri di dekat tiang rumah serta kutilanak yang duduk di kursi yang ada di depan rumah tersebut.
Kedua hansip tersebut langsung lari ketakutan dan langsung berteriak sekeras mungkin untuk membangunkan warga desa. Akhirnya warga desa terbangun dan bersama-sama menuju rumah tersebut.
Walau awalnya takut namun pak lurah di dampingi pak Ustadz serta beberapa tokoh desa yang maju duluan. Memang terjadi keanehan karena ada suara tangisan yang terdengar dari dalam rumah tersebut seperti meminta tolong serta bayangan-bayangan kurang jelas yang memecahkan suasana.
Akhirnya di pagi harinya Pak Ustadz menyuruh warga desa untuk membersihkan seluruh bagian rumah tersebut dari bekas pembunuhan dan pemerkosaan serta kotoran-kotoran lainnya.Setelah selesai di sore harinya di adakan pengajian bersama di rumah tersebut untuk menenangkan arwah yang ada di rumah itu.
Pada hari selanjutnya rumah yang sekarang tidak ada pemiliknya itu akhirnya bisa kembali tenang dan tidak ada hal-hal aneh yang terjadi di sana. Warga desa pun bisa kembali beraktifitas normal dan tidak takut lagi melintas di sekitar rumah tersebut.
Itulah cerita yang terjadi di daerah saya, yang merupakan pengalaman pribadi yang saya alami sendiri serta tambahan informasi-informasi dari orang lain. Demikian cerita dari saya semoga bisa menjadi bahan bacaan yang bermanfaat.





Bandung, 14 September 2015

Sandy Kurniawan
14.04.162

DONGENG PUTRA JAKA POLENG




DONGENG JAKA POLENG

Laksito adalah seorang pemuda tampan dan berbadan tegap. Dia bekerja sebagai tukang pelihara kuda milik Bupati Brebes. Kanjeng Bupati suka akan hasil kerja Laksito yang rajin dan selalu bersih.
Pada suatu pagi yang cerah, seperti biasa Laksito pergi ke sawah untuk mencari rumput.
“Bi…nyong ning sawah ndisit! (Bi…saya ke sawah dulu!)”. Teriak Laksito berpamitan pada bi Ojah, tukang masak Kanjeng Bupati.
“Ya cah bagus, ati-ati yak…(Ya anak ganteng, hati-hati yah…)”. Jawab Bibi sambil melakukan sesuatu di dapur tanpa menoleh ke Laksito. Sambil membawa arit dan karung, Laksito berjalan menyusuri pematang-pematang sawah mencari rumput-rumput yang lebat dan hijau. Setelah sampai disebuah tanah lapang, dia bergumam.
“Ehm, ning kene kyeeh sukete ijo-ijo nemen, pasti si genta dokoh mangane. (Ehm, di sini niih rumputnya hijau-hijau banget, pasti si genta lahap makannya)”.
Kemudian Laksito mulai mengambil kuda-kuda untuk membabat semua rumput yang ada di depannya. Sesekali Laksito mengusap keringat yang ada di dahi dengan punggung tangannya. Dia terus membabat rumput tanpa kenal lelah.
Setelah satu karung sudah penuh, Laksito seperti biasa beristirahat dibawah pohon yang rindang. Ditenggaknya air kendi yang dibawa dari rumah. Keringat bercucuran membasahi raut muka dan tubuhnya. Laksito setengah berbaring sambil mengipas-ngipaskan sebatang daun yang jatuh dari pohon.
Saat Laksito hendak memejamkan mata, dia melihat ada seekor ular poleng dengan bermahkota intan. Laksito jadi penasaran untuk mengikuti ular tersebut. Laksito berjalan pelan-pelan agar tidak terlihat oleh ular tersebut. Ular tersebut kemudian berhenti disebuah semak-semak. Laksito ikut berhenti. Matanya sangat serius memandangi ular poleng yang sedang melakukan pelepasan kulit.
Setelah beberapa menit, ular tersebut berhasil melepaskan kulit. Laksito mendekati tempat tersebut setelah ular itu pergi. Kemudian Laksito mengambil bekas kulit ular poleng itu. Laksito kembali ke tempat semula untuk melanjutkan pekerjaannya. Dua karung harus ia penuhi.
“Uhh, akhire kebek juga, balik ah, wis ngelih (Uhh, akhirnya penuh juga, pulang ah, sudah lapar).” Gumam Laksito sembari mengikat kedua karung yang berisi rumput tersebut.
Laksito beristirahat sebentar, kemudian pulang.
……………………ooo…………………….
“Bi, aku ngelih bi, pan mangan (Bi, aku lapar bi, mau makan)” Seru Laksito.
“Lho To, kowen ning ndi! (Lho To, kamu di mana!)”. Teriak Bi Ojah karena terkejut.
“Nyong neng iringane Bibi! (Saya di samping Bibi!)” Kata Laksito heran.
“Aja guyon toh To… Bibi mboten weruh kowe neng kene…(Jangan bercanda dong To…Bibi tidak melihat kamu ada di sini)”. Kata bibi agak ketakutan.
“ Nyong neng kene Bi..(Aku di sini Bi…)”. Kata Laksito dengan memegang tangan Bibi Ojah. Bibi Ojah kaget buka kepalang ketika dia merasakan ada tangan yang memegang tangannya tapi tidak terlihat. Bi Ojah langsung teriak masuk ke padepokan Kanjeng Bupati untuk mengadu.
Selang beberapa menit, Bi Ojah kembali ke dapur bersama Kanjeng Bupati.
“Neng endi Bi…?” (di mana bi…). Tanya Kanjeng Bupati penasaran atas cerita Bi Ojah.
“Ampun Kanjeng, suarane neng kene Gusti.” (Ampun Kanjeng, suaranya tadi di sini). Bi Ojah mencoba meyakinkan Kanjeng Bupati.
“Laksito! Kowen neng ndi?” (Laksito! Kamu di mana?). Teriak Kanjeng Bupati.
“Ampun Gusti Kanjeng, hamba neng kene, neng iringane Gusti.” (Ampun Tuan, saya di sini, di samping tuan). Jawab Laksito.
“Lho lho lho, ko kowen ora katon?” (Lho lho lho, kok kamu tidak kelihatan?) seru Kanjeng terperanjat sangat terkejut.
“Ampun Gusti, hamba ora ngerti ”.( Ampun Gusti, hamba tidak mengerti) Jawab Laksito bingung.
Sejenak Kanjeng Gusti Bupati merenung dan kemudian bertanya pada Laksito.
“ana kejadian apa sing kowen alami sedurung kyeeh?”.( ada kejadian apa yang kamu alami sebelum ini?) Tanya Gusti Bupati. Laksito terdiam sejenak mencoba berfikir.
“Oh iya Gusti, tadi , sewaktu hamba mencari rumput di sawah, hamba melihat ular poleng yang kepalanya ada  intan mengkilat  akan nglungsumi (berganti kulit). Lalu  hamba meperhatikan dan hamba mengambil kulit ular poleng tersebut”. Cerita Laksito atas kejadian tadi di sawah.
“Oh…seperti itu, lalu kulit ular poleng itu sekarang dimana?” Tanya Gusti Kanjeng.
“Di saku hamba”. Jawab Laksito.
“Coba kamu keluarkan kemudian di taruh diatas meja”. Pinta Gusti.
“Iya Gusti.” Laksito menuruti.
Benar juga, setelah kulit tersebut dikeluarkan dan diletakkan di meja, seketika tubuh Laksito terlihat. Ini membuat Bi Ojah yang sedari tadi diam, langsung terperanjat.
“Wah Laksito, kowen wis katon ( Wah Laksito, kamu sudah kelihatan)”. Teriak Bi Ojah.
Laksito tersenyum lega. Kanjeng Gusti Bupati mengangguk mengerti.
“To, kulit ular itu aku simpan”. Kata Gusti sambil telunjuknya menunjuk kulit ular tersebut memberi isyarat kepada Laksito untuk diambilkan dan kemudian diserahkan ke Gusti Bupati.
Dengan halus Laksito menolaknya.
“Ampun Gusti, kulit ular ini punya hamba”.
“Untuk apa  To, tidak ada gunanaya kulit ular itu digunakan kamu.” Bujuk Gusti Bupati.
“Ampun Gusti, karena yang menemukan kulit ular ini aku, jadi aku yang lebih berhak memiliki benda ini ”. Jawab Laksito.
“Tidak ada gunanya sama kamu, cepat berikan  kepadaku !”. Teriak Gusti memaksa Laksito.
“Ampun Gusti, hamba tidak bisa”. Kekeh Laksito.
Kemudian terjadilah perebutan antara Gusti Bupati dan Laksito. Karena Laksito takut benda itu akan jatuh ke tangan Gusti Bupati, Laksito buru-buru memasukkan benda itu ke dalam mulutnya, dan tanpa disengaja benda tersebut tertelan.
Gusti Bupati hanya bisa menahan emosinya, saat melihat benda itu tertelan. Perlahan-lahan tubuh Laksito menghilang.
“Maafkan hamba Gusti, hamba sudah berani melawan dengan  Gusti”. Kata Laksito lirih.
Bupati menghela nafas panjang.
“Aku menyesal  sudah memaksa kamu Laksito, sebenarnya itu memang haknya kamu Laksito,  tapi aku memaksa, jadi akhirnya seperti ini, aku menyesal, maafkan aku Laksito.”Sesal Gusti Bupati.
Lalu Gusti Bupati melanjutkan perkataannya; “Ini mungkin sudah takdirnya kamu Laksito, kamu wujudnya sudah tidak ada. Aku minta sama kamu, tolong kamu jaga rakyatku, yaitu rakyat Brebes. Karena kamu masih Jejaka dan telah memakan kulit ular poleng, jadi sekarang kamu saya namakan Jaka Poleng.

DONGENG PUTRA JAKA TARUB





DONGENG JAKA TARUB
Di suatu desa, ada seorang janda tua yang mempunyai anak laki-laki yang memilki wajah tampan dan gagah perkasa. Anak laki-laki itu namanya Jaka Tarub. Pada suatu hari, Jaka Tarub pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar seperti biasanya. Pada saat ditengah-tengah perjalanan, Jaka Tarub mendengar suara perempuan yang sedang bersenda gurau. Karena rasa penasaran, Jaka Tarub akhirnya mencari sumber dari suara tersebut. Saat ditemukan, ternyata suara itu berasal dari danau yang memiliki pemandangan yang sangat indah. Di danau tersebut ada tujuh orang perempuan yang sedang mandi dan memiliki wajah yang cantik-cantik. Jaka Tarub mengintip dibalik pohon besar. Pada saat mengintip, Jaka Tarub melihat ada selendang milik tujuh orang perempuan tadi, dan Jaka Tarub mengambil salah satu dari selendang tersebut.
Selesai mandi, tujuh orang perempuan tadi langsung keluar dari danau dan memakai selendang masing-masing. Pada saat semua memakai selendang, ada salah satu dari perempuan tadi yang kehilangan selendangnya. Karena hari semakin malam, enam orang perempuan yang memakai selendang tadi terbang ke langit, sedangkan satu orang perempuan yang kehilangan selendang tadi tidak ikut terbang ke langit. Pada saat itu Jaka Tarub sadar kalau ternyata tujuh orang perempuan tadi adalah bidadari.
Perempuan yang kehilangan selendang tadi namanya Nawang Wulan. Karena tidak bisa kembali ke langit, Nawang Wulan menangis. Mengetahui hal tersebut, Jaka Tarub mendekatinya dan menawari bantuan. Jaka Tarub memberikan selendang namun bukan yang aslinya. Nawang Wulan akhirnya mau menerima bantuan dari Jaka Tarub dan bersedia untuk tinggal di rumah Jaka Tarub. Setelah sekian lama tinggal serumah, mereka berdua akhirnya menikah dan kehidupan rumah tangga mereka pun tercukupi dan makmur. Setelah sekian menikah, mereka di karuniai seorang anak dan kehidupan rumah tangga mereka pun semakin harmonis.
Sekian lama menikah, Jaka Tarub merasa curiga terhadap istrinya karena setiap hari bisa makan nasi, namun gentong tempat persediaan beras mereka selalu penuh, sedangkan Jaka Tarub juga tidak mempunyai sawah. Pada saat Jaka Tarub bertanya, Nawang Wulan tidak mengatakan yang sebenarnya. Suatu ketika, Nawang Wulan hendak pergi ke pasar. Dia berpesan kepada suaminya untuk menjaga anaknya dan jangan membuka panci yang dipakai menanak nasi. Karena rasa penasaran yang begitu tinggi, Jaka Tarub tidak memperdulikan pesan dari istrinya. Jaka Tarub nekat membuka panci yang dipakai menanak nasi tersebut. Begitu dibuka, Jaka Tarub sangat terkejut karena didalam panci tersebut hanya ada sebutir beras.
Jaka Tarub menanyakan keanehan tersebut kepada istrinya. Mengetahui kejadian tersebut, Nawang Wulan marah karena dia sudah tidak bisa menggunakan kesaktiannya lagi dan harus memasak seperti manusia biasa pada umunya. Persediaan beras mereka pun semakin lama semakin menipis, sedangkan waktu panen masih lama. Pada saat persediaan beras di gentong tadi sudah semakin habis, tiba-tiba Nawang Wulan melihat ada sebuah selendang. Nawang Wulan langsung mengambil selendang tersebut. Pada saat memegang selendang itu, Nawang Wulan teringat kalau selendang itu adalah selendang miliknya yang hilang pada waktu itu dan yang menyebabkan dirinya tidak bisa kembali ke kayangan. Nawang Wulan berpikir bahwa selama ini yang mengambil selendangnya adalah suaminya sendiri.
Nawang Wulan langsung memakai selendangnya dan berpamitan kepada suaminya bahwa dia akan kembali ke langit. Nawang Wulan berpesan kepada Jaka Tarub agar merawat anak mereka dengan baik. Jaka Tarub tidak bisa melepaskan istrinya. Nawang Wulan kemudian berpesan lagi kepada Jaka Tarub kalau dia kangen sama Nawang Wulan, Jaka Tarub disuruh memandangi bulan purnama. Karena melalui bulan purnama tersebut, Nawang Wulan bisa menghibur suaminya. Akhirnya tiba waktunya bagi Nawang Wulan untuk kembali ke langit,  sedangkan Jaka Tarub hidup bersama anaknya di bumi. Setiap bulan purnama datang, Jaka Tarub selalu keluar untuk melihat bulan yang bisa menghibur hatinya.

BUDAYA ADAT KARANG KAMULYAN




BUDAYA KARANG KAMULYAN

Pagi itu sinar mentari begitu tajam menerpa setiap celah pepohonan yang rimbun dan menerangi jalanan dan dinding bangunan kerajaan yang nampak kokoh ini merupaka sebuah kerajaan yang berdiri yang lebih tua daripada Majapahit yang waktu itu masih belum berdiri, masyarakat yang tentram penuh kedamaian tercipta di daerah ini yang merupakan pusat pemerintahaan kerajaan Galuh dekat CIAMIS yang disebut dengan “KARANG KAMULYAN” yang berarti Tempat yang mulia, yang banyak disinggahi dan dijadikan sumber kejayaan negeri galuh pada waktu itu.

Kerajaan galuh ini sangat luas kekuasaannya membentang dari Ujung Kulon,Ujung Barat Jawa sampai ke Ujung Galuh yaitu saat ini adalah muara sungai berantas Surabaya. Raja yang memerintah pada waktu itu adalah Prabu Adimulya Sanghyang Cipta Permana Dikusumah, masyarakat begitu makmur dan sejahtera tidak ada permasalahan yang sangat rumit karena setiap permasalahan pasti di pecahkan dan di tengahi oleh sang prabu dengan sangat bijaksananya sehingga sangat di cintai oleh masyarakat galuh, sang prabu memiliki dua permaisuri yang pertama adalah Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Setelah beberapa waktu sang Prabu mendapatkan petunjuk bahwa dia harus melakukan Tapa Brata dan meninggalkan istana namun hatinya bimbang siapa yang harus menggantikannya sebagai raja selama dia pergi bertapa, akhirnya kembali mendapat petunjuk dan melihat dari kesaktiannya bahwa dia harus memanggil Patihnya ke istana yaitu patih Aria Kebonan, maka sang prabu memerintahkan prajuritnya agar memberitahukan bahwa dia ingin bertemu di istana.

Setelah beberapa waktu nampak Patih Aria Kebonan dengan langkah tegapnya menuju pendopo istana untuk menemui sang prabu yang tadi berkata melalui prajurit ingin bertemu di pendopo istana, sekaligus dia juga ingin melaporkan tentang keadaan  kerajaan . ketika sesampainya di pendopo istana dia duduk bersila sambil menunggu sangprabu datang, ia memandang kesebagian penjuru istana nampak para pelayan tengah sibuk mondar mandir dan para prajurit yang sedang menjalankan tugas pengamanan, sesekali ia di hormati dan disapa oleh para prajurit yang melihat dia duduk disana, disela-sela pandangannya itu tanpa sadar dia terbawa bujuk rayu setan sehingga dia mempunyai pikiran betapa enaknya menjadi seorang raja apapun akan dipenuhi takan ditolaknya, ketika pikirannya semakin melambung dengan hayalannya tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara yang memanggilnya dan berkata  “ Aria Kebonan, apakah benar kau ingin menjadi raja ..?”… sang Prabu mengetahui karena di anugrahi kesaktian yang cukup tinggi. Aria kebonan merasa tercengang dan kaget mendengar perkataan raja sehingga membuyarkan apa yang sedang ia renungkan tadi, dia terdiam sejenak mukanya tertunduk tak berani sedikitpun menengadah melihat muka sang prabu dan

berkata “ Tidak yang Mulya , saya tidak berani dan takan bisa .”

“ Jangan Berbohoong,  Arya Kebonan ..Aku tahu itu..” raja sedikit keras nadanya karena Aria Kebonan sedikit berbohong,

“Maaf , Yang Mulya.. saya hanya berfikir sejenak saja “.., “Yah aku akan membuat engkau menjadi raja selama aku pergi Bertapa , engkau akan menjadi raja  dan memerintah dengan benar …tapi kamu tidak boleh tidur dengan kedua istriku, Dewi Pangrenyep dan Dewi Naganingrum sebagai istrimu “

“Ba,,baik Yang  Mulya” perkataannya sedikit tertahan karena dia tidak berani berfikir yang macam-macam sehingga sang prabu mengetahui kembali apa yang dibicarakan dalam hatinya. Sang prabu berkata kembali seraya memegang kedua pundak Aria Kebonan agar bangkit dari duduknya ,” Aku akan merubah kamu menjadi seorang Pria yang gagah dan berwibawa dengan penampilan menyerupai ku .. beritahu kepada semua orang dan masyarakat bahwa aku telah muda kembali dengan kesaktianku dan kamu akan bergelar menjadi Prabu Brama Wijaya, sementara aku akan pergi bertapa ketempat rahasia yang tak seorangpun mengetahui. Dengan demikian kau akan menjadi Raja”…

Setelah sang Prabu merubah penampilan dan bentuk sang Arya Kebonan maka meninggalkan istana untuk bertapa, sedangkan Arya kebonan melakukan titah sang prabu untuk mengaku dirinya yang lebih muda karena kesaktiannya, dan berganti nama menjadi Prabu Brama Wijaya, masyarakat mempercayai hal tersebut karena memang sang prabu telah terkenal dengan kesaktiannya. Hanya ada yang tidak percaya dia adalah Batara Lengser yang mengetahui perjanjian antara Raja dan patih tersebut karena dia tak sengaja mendengarkan ucapan kedua Raja dan Patih tersebut, Prabu Brama Wijaya menjadi sangat bangga bahkan menghina Batara Lengser yang tidak mampu berbuat apa-apa, dan memperlakukan para permaisuri dengan kasar, kedua permaisuri tersebut sebetulnya telah mengetahui sehingga dia berpura-bura ketika dihadapan para masyarakatnya. Kejadian tersebut terus berlangsung sehingga keadaan istana menjadi kurang harnonis .

Waktu terus bergulir Prabu Brama Wijaya semakin berulah dengan kekuasaannya sehingga benar-benar semua dijadikan budaknya, dia lupa kan perjanjian dia kepada sang Raja karena telah dibutakan dengan tahta dan jabatan yang selam ini ia inginkan, suatu malam kedua Permaisuri mendapatkan petunjuk lewat mimpinya bahwa ada Cahaya seperti bulan menghampiri mereka. Mereka melaporkan hal ini itu kepada Prabu Brama Wijaya, sesaat setelah bercerita maka munculah Batara lengser dan mengusulkan untuk mengundang seorang pertapa yang disebut Ajar Sukaresi yang tidak lain adalah sang Prabu Permana Dikusumah yang waktu itu akan bertapa untuk menjelaskan mimpi yang bisa dikatakan aneh tersebut. Prabu Brama Wijaya setuju dan memanggil petapa tersebut dating keistananya untuk menjelaskan arti mimpi tersebut, ketika berhadapan dengan sang Prabu dia tidak menyadari bahwa yang dihadapannya itu adalah raja yang sah yaitu Prabu Permana Dikusumah, lalu ia bertanay “ Hai petapa .. apa arti dari mimpi istri-istri ku ini.?” Sang petapa tersenyum dan berkata ..”Kedua Permaisuri mengharapkan seorang anak yang mulia”…sang Prabu Brama Wijaya sedikit terkejut lalu ada rasa ingin tahu seberapa jauh pertapa ini berani berbohong padanya lalu ia bertanya “ apakah anak-anak mereka perempuan atau laki-laki?”..maka kembali pertapa ini berkata ‘ semuanya anak laki-laki Yang Mulia”.. sebenarnya sang Prabu Brama Wijaya tidak ingin kekuasaannya jatuh kepada anak yang dikandung oleh kedua istri Prabu Permana Dikusumah , maka dengan cepat dia mengambil sebuah keris dan menghujamkan kepada tubuh sang petapa tersebut tapi gagal yang ada keris tersebut bengkok tak sedikitpun terluka, maka sang petapa tersebut berkata “apakah sang Prabu menginginkan kematian saya..” dengan mengankat tangannya yang memegang keris yang tadi tidak mempan di tubuhnya sang pertapa berkata kembali “ jika begitu saya akan mati di depan Yang Mulia”.. maka sesaat itu tembuslah tubuhnya oleh keris tersebut yang tadi tak sedikitpun melukainya, dengan masih keadaan kesal dan merasa dipermalukan oleh pertapa bahwa ilmunya masih rendah.. dengan marahnya dia melempar tubuh sang petapa yang tiada lain Prabu Adimulya Shangyang Cipta Permana Dikusumah tersebut kehutan, dan setelah di lempar kehutan ia menjelma menjadi seekor naga yang disebut Nagawiru, sesuatu memang sangat aneh dan ajaib, kedua Permaisuri itu benar-benar hamil.

Dan tak lama kemudian Dewi Pangrenyep melahirkan seorang Putra yang bernama Hariang Banga, suatu hari sang Prabu Brama Wijaya melihat keadaan Dewi Naganingrum yang tengah hamil tua.. dalam hatinya merasa ada sesuatu yang akan terjadi, maka ketika dia beristirahat dan bermimpi anak yang didalam kandungan Dewi Naganingrum tersebut berkata bahwa “Brama Wijaya kau telah melupakan semua janji-janjimu, maka tunggulah kehancuranmu dan kekuasaanmu takan lama “.. peristiwa ini benar-benar sangat mengganggu pikirannya sehingga dia ingin mencari cara menyingkirkan anak tersebut yang masih didalam kandungan. Maka ia menghasut dewi Pangrenyep bahwa kalau lahir anak itu ke istana ini maka tidak lain lagi bahwa bisa mengancam tahta anaknya Hariang Banga untuk jadi raja karena anak yang lahir dari Dewi Naganingrum lebih berhak menjadi raja. Dengan hasutan sang raja maka Dewi pangrenyep menyusun rencana ketika kelahiran sang Dewi Naganingrum anaknya akan ditukar dengan wujud binatang sehingga bisa di usir dari istana tersebut, sebelum melahirkan Dewi Naganingrum di suruh di tutup matanya dengan alas an takut banyak keluar darah dan dihawatirkan menganggu kesehatann san Dewi ,.. ketika Sang dewi terkulai  lemas setelah melahirkan dia tidak sadar akan yang dilakukan oleh Dewi Pangrenyep.. dia memasukan anknya kedalam keranjang dan dihanyutkan ke sungai Citanduy, sedangkan dia membawa seekor anak anjing dan diletakan di pangkuan dewi naganingrum, setelah mengetahui tersebut dewi naganingrum sangat terkejut dan sangat terpukul dia merasa bukan anknya .., ini tidak mungkin terjadi.. tapi apa dikata sang Prabu dan Dewi pangrenyep membuat berita kebohongan kepada masyarakt bahwa dewi naganingrum melahrkan seekor anak anjing, tapi sebagian masyarakat tidak ada yang percaya.

Brama Wijaya memerintahkan hukuman mati kepada dewi naganingrum karena telah memalukan istana, yang mendapat titah sang prabu adalah batara lengser yang harus mengeksekusinya di hutan ,.. maka dengan siapnya batara lengser membawa dewi kehutan , tapi setibanya dihutan ia membangun sebuah rumah untuk dewi naganingrum dan kembali keistana dengan bukti baju berdarah bahwa sudah membunug dewi naganingrum, yang aslinya itu adalah darah hewan, sang prabu sangat senang dengan apa yang dilaporkan oleh batara lengser. Waktu  bergulir anak sang dewi yang dibuang kesungai Citanduy diketemukan oleh seorang nenek dan kakek-kakek penangkap ikan , mereka merawatnya seperti anaknya sendiri, waktu terus berputar tidak terasa anak tersebut sudah tumbuh menjadi anak yang gagah dan ruapawan , pada suatu saat ia sedang bermain dan melihat seekor burung yang tengah bertengger di atas ranting dan seekor monyet yang sedang asik memakan buah pisang.. ia bertanya “  Burung apa itu dan monyet apa itu ayah..?”.. maka sang kakek menjawab “itu adalah burung Ciung dan Monyet itu adalah Wanara “ maka sang anak itu berkata “kalau begitu sekarang aku adalah CIUNG WANARA”..

Setelah beranjak menjadi seorang remaja ia bertanya” mengapa aku tidak seperti kebanyakan anak-anak yang lain memangnya siapa aku” kakek dan nenek tersebut menceritakan bahwa ciung wanara di temukan di atas keranjang yang hanyut dari negeri galuh, maka ciung wanara bermaksud mencari siapa dia dan diman orang tuanya, sang kakek yang mengurusnya memberikan sebuah telur yang dalam petunjuknya agar ciung wanara pergi kehutan dan menetaskannya di hutan terserah dengan cara apa,. Mendengar perintahnya itu maka ciung wanara pergi kehutan mencari unggas jenis apa yang harus menetaskan telur tersebut , maka didalam hutan tersebut dia bertemu jelmaan Prabu Permana Dikusumah yaitu Nagawiru dalam wujud ular yang bisa berkata dan menawarkan untuk menetaskan telur tersebut .

Beberapa waktu kemudian dengan cepatnya telur tersebut menetas menjadi anak ayam yang berbulu indah dan tegap, anak ayam tersebut tumbuh dengan baik dan sehat, maka ciung wanara memasukan anak tersebut kedalam keranjang dan melanjutkan perjalanannya menuju galuh. Di ibukota galuh , sambung ayam merupakan sebuah olahraga besar, baik raja dan rakyatnya menyukainya raja Brama wijaya memilikiayam jago yang besar dan tidak terkalahkan bernama si Jeling. Dalam kesombongannya , ia menyatakan bahwa ia akan mengabulkan keinginan apapun kepada pemilik ayam yang bisa mengalahkan ayamnya si Jeling.

Saat tiba di Galuh anak ayam Ciung Wanara sudah tumbuh menjadi ayam petarung yang hebat dan kuat. Sementara ciung wanara sedang mencari pemilik keranjang yang waktu ia masih bayi dimasukan kedalam keranjang tersebut, ia ikut bagian dalam turnamen sambung ayam tersebut yang dilakukan dikerajaan. Ayamnya tidak pernah kalah , kabar tentang anak muda yang ayam jantannya selalu menang disambung ayam akhirnya mencapi telinga sang Prabu Brama Wijaya yang kemudian memerintahkan Batara lengser  untuk menemukan anak tersebut . batara lengser ahirnya mengetahui bahwa anak muda tersebut adalah anak dari dewi naganingrum yang telah lama hilang setelah ciung wanara menunjukan keranjang yang dibawanya, maka batara lengser menceritakan siapa dia dan bagaiman sikap sang raja pada ibunya waktu itu, maka sang batara lengser mengajari ciung jika menang ayamnya mintalah sebagian kerajaannya untuk ciung wanara.

Keesokan paginya  Ciung Wanara muncul didepan sang Prabu Brama Wijaya dan menceritakan apa yang telah di usulkan lengser. Raja setuju karena dia merasa yakin akan kemenangan ayamnya , dalam pertarungan berdarah ini akhirnya ayam Ciung Wanara memenangkan pertarungan sehingga sang Prabu harus menepati janjinya karena telah disaksikan oleh orang banyak dan para penduduknya.
Sekarang  Ciung wanara menjadi raja sebagian dari kekuasaan Prabu Brama Wijaya . Ciung wanara mengatur siasat untuk menangkap sang Prabu dan Dewi Pangrenyep agar Terbongkar keburukannnya bahwa telah berbuat semena-mena dan menjadi raja yang tidak adil kepada masyarakatnya. Suatu hari Prabu Brama Wijaya diundang oleh Ciung  untuk dating memeriksa bangunan yang dibuatnya.. yang sebenarnya diperuntukan untuk memenjarkan Prabu Brama Wijaya dan Dewi Pangrenyep. Dengan sedikit strategi  akhirnya dengan enaknya Prabu dan Dewi pangrenyep memasuki ruangan tersebut dan seketika itu ditutuplah rapat-rapat ruangan tersebut , sang prabu berteriak dan meminta penjaga membukakan pintu ruangan tersebut namun tidak ada yang mendengarkan karena memang selama ini para prajurit sudah mengetahu kebusukan rajanya sendiri.

Lain tempat putra dewi pangrenyep Hariang Banga, merasa sangat terpukul akan kabar ditangkap ibunya , maka ia melancarkan pemberontakan dengan mengumpulkan banyak baladtentara untuk menyerang adiknya Ciung wanara, Hariang Banga merupakan pangeran yang kuat dan tangguh, pertempuranpun tidak bisa di elakan lagi antara adik dan kakak terus bertempur , sehingga Ciung Wanara berhasil mendorongnya ke daerah tepian sungai Berebes, namun tetap peperangan tida bisa dikatakan ada yang menang atau kalah.

Didalam kemelut peperangan ini dikisahkan munculah Prabu Adimulya Sanghyang Cipta Permana Dikusumah beserta istrinya Dewi Naganingrum bersama hadir  dan didampingi Batara Lengser melerai perseteruan itu dan menjelaskan kepada masyarakat apa yang sebenarnya terjadi  dengan suara lantangnya …

“Hariang Banga dan kau Ciung Wanara !”… “Hentikan Peperangan ini..kalian berdua adalah saudara dan kalian adalah anak-anaku yang akan memerintah negeri ini,.. Ciung Wanara kau digaluh .. dan kau Hariang Banga  kau di Timur sungai berebes buatlah Negara baru” dengan penjelasan dari ayahnya maka berhentilah peperangan tersebut, Hariang Banga membuat negeri baru bersama pengikutnya yanga merupakan Cikal bakal berdirinya kerajaan di jawa seperti Majapahit dan banyak lagi, sedangkan Prabu Brama Wijaya beserta Dewi Pangrenyep menjalani sisa hukumannya karena mereka memang telah bersalah.

Kini kerajaan galuh kembali menjadi tenang diatas pemerintahan Ciung Wanara yang bergelar Prabu Jayaprakasa Mandaleswara Salakabuana dan Hariang Banga yang memerintah di daerah Jawa dengan Gelar Jaka Susuruh, cahaya kembali menyelimuti kerajaan Galuh yang mempunyai pusatnya di daerah KARANG KAMULYAN , seakan rembulan yang menyinari dimalam hari kini benar benar terjadi , ketentraman dan kebahagian masyarakat Galuh kembali tercipta yang sekian lama dirindukan .

Ciung wanara memerintah antar tahun 739-783 Masehi sekitar 44 tahun dengan wilayah dari Banyumas sampai Citarum Krawang. Dikawasan Karang Kamulyan yang berdiri kurang lebih 25 Ha meninggalkan sisa-sisa kejayaan dan  peradaban jaman batu besar atau Megalitikum yang ditandai dengan adanya menhir dan dolmen  yang biasa disebut batu yang menyerupai pelataran seperti candi , dan dikuatkan dengan sebuah mata air atau sumur sebagai sumber penghidupan waktu itu , yang diberi nama sumur CIKAHURIPAN yang mempunyai arti air kehidupan , dan sumur ini akan tetap ada airnya walaupun kemarau lama tanpa berkurang dan tanpa bertambah.

Dengan cerita ini bisa kita ketahui bahwa tradisi orang sunda menuakan orang jawa telah terbuka bahwa asal muasalnya kerajaan yang berdiri di daerah jawa seperti MAJAPAHIT merupakan pengembangan dari jawa barat yaitu orang suku sunda, yang berada di kerajaan Galuh , karena kerajaan Galuh merupakan kerajaan yang ada di Jawa barat sebelum Majapahit berdiri. Yang dibawa oleh kakaknya Ciung Wanara yaitu Hariang Banga  alias Jaka Susuruh kedaerah Jawa bagian Timur.


Sampai sat ini cagar budaya KARANG KAMULIAN dengan nama terkenalnya  CIUNG WANARA tetap terkenal  di antara tempat wisata dikota Ciamis selepas masa kelamnya ketika waktu itu, sekarang memberikan keberkahaan bagi para pedagang disekitar area Cagar budaya ini.