Jumat, 29 April 2016

DONGENG SEJARAH KOTA PROBOLINGGO



DONGENG SEJARAH KOTA PROBOLINGGO
Pada zaman Pemerintahan Prabu Sri Nata Hayam Wuruk raja Majapahit yang ke IV (1350-1389), Probolinggo dikenal dengan nama “ Banger “, nama sungai yang mengalir ditengah daerah Banger ini.

Sejalan dengan perkembangan Politik kenegaraan/kekuasaan di Zaman Kerajaan Majapahit, pemerintahan di Banger Juga mengalami perubahan-perubahan/perkembangan seirama dengan perkembangan Zaman. Pada saat Minakjinggo, Raja Blambangan berkuasa, banger yang merupakan perbatasan antara Majapahit dan Blambangan dikuasai pula oleh Minakjinggo.
Bahkan Banger menjadi kancah perang saudara antara Blambangan dan Majapahit yang dikenal dengan “ Perang Paregreg “.Adapun Nama Banger ini diberikan karena airnya berbau amis/Banger karena darah Menak Jinggo yang dipenggal kepalanya oleh Raden Damarwulan.

Banger, pada masa Pemerintah VOC tahun 1746 mengangkat Kyai Djoyolelono sebagai Bupati Pertama di Banger, dengan gelar Tumenggung.

Karena Politik adu domba maka pada tahun 1768 Bupati Banger meninggalkan jabatannya dan mengembara /lelono dan sebagai penggantinya adalah Kyai Djoyolelono menurut cerita Kabupatennya di Benteng Lama. Masa Pemerintahan Tumenggung Joyonegoro Daerah Banger amat makmur penduduknya tambah banyak, yang kemudian Beliau mendirikan Masjid Jami’ lebh kurang tahun 1770 kemudian nama Banger oleh Tumenggung Joyonegoro diganti menjadi PROBOLINGGO yang artinya : Probo = Sinar, Linggo=Tugu, badan, tanda, peringatan, tongkat.
Jadi Probolinggo adalah Sinar yang berbentuk tugu, gada, tongkat (mungkin yang dimaksud adalah meteor/bintang jatuh), Setelah wafat Kanjeng Jimat dimakamkan di Pesarean belakang Masjid Jami’ dan karena disenangi masyarakat beliau mendapat sebutan “ Kanjeng djimat.



DONGENG SEJARAH PULAU BANGKA



DONGENG SEJARAH PULAU BANGKA
Pulau Bangka adalah pulau besar yang di kelilingi oleh banyak pulau-pulau kecil, menyimpan banyak cerita sejarah dan peradaban yang besar sejak zaman dahulu. Letaknya yang strategis dengan kekayaan alam yang melimpah sejak pertama kali mampu direkam oleh catatan sejarah membuktikan bahwa pulau Bangka adalah pulau yang bernilai historisitas tinggi.
Sebagai bagian dari sejarah yang besar, runtutan peristiwa yang pernah terjadi yang berkaitan dengan daerah ini juga menjadi perdebatan. Tidak saja perdebatan berkaitan dengan sejarah asal mula secara geografis, tetapi juga interaksi masyarakat didalamnya yang diperdebatkan oleh para peneliti dan tetua masyarakat didalamnya. Salah satunya adalah sejarah tentang asala usul Kota Kapur. Ditemukannya bukti sejarah berupa prasasti Kota Kapur yang berangka tahun 686 Masehi memulai perdebatan tersebut secara ilmiah. Prasasti yang ditemukan di sungai menduk ( daerah Bangka Barat ) tersebut berisikan 240 kata berbahasa sansekerta ( Achmad Sahabuddin, dkk 2003 dalam buku Kepulauan Bangka Belitung ) yang berisi tentang peringatan kepada Masyarakat diwilayah Kerajaan Sriwijaya tentang larangan untuk melakukan pemberontakan. Peringatan tersebut jelas dibuat oleh penguasa kerajaan Sriwijaya pada masa itu sehingga diperkirakan bahwa pulau Bangka pada masa itu telah menjadi pusat aktivitas yang ramai.
Dalam Prasasti Kota Kapur, sama sekali tidak di sebutkan kata Bangka. Namun para ahli sejarah banyak menghubungkan Bahasa Sansekerta yang digunakan pada prasasti Kota Kapur dengan kata Vanca yang juga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti Timah ( pendapat Ibid ). Dengan melihat kandungan timah yang ada dipulau ini, maka penggunaan kata vanca yang kemudian mengalami perubahan kata menjadi Bangka tampaknya bisa diterima dengan nalar.
Versi lain menyebutkan bahwa kata Bangka berasal dari kata Bangkai ( Pendapat Mary F. Somers Heidhues 1992 dalam helbig ) yang menunjukkan bahwa Pulau Bangka adalah pulau tempat pembuangan bangkai pada masa penjajahan. Meski demikian, asal usul kata ini tidak memiliki bukti ilmiah sehingga analisis versi kota kapur diatas lebih bisa diterima oleh masyarakat kebanyakan.
Sebuah majalah pada tahun 1846 yang bernama Tijdschrift voor Nederlandsch Indie memuat tulisan bahwa daerah yang disebut Banca adalah pulau yang dulunya bernama Chinapata atau China-Batto (Chinapata diduga adalah daerah yang dulu pernah dilaporkan oleh seorang pelaut bernama Jans Huyghensvan Linschoteen pada tahun 1595 di Amsterdam ). Dulu daerah yang disebut Banca mencakup Palembang dan meluas ke arah Barat yag kemudian disebut Bangka hulu dan kemudian berubah dialeg menjadi Bengkulu sekarang ini. Ke arah Sumatra Timur, terdapat daerah yang bernama Bangka yang berhadapan dengan Bagan siapi api (ditulis oleh Sutedjo Sujitno dalam Sejarah Timah Indonesia, 1996 ). Meski demikian, keyakinan banyak orang tentang kemungkinan ini tidak nampak terlalu besar sehingga belakangan banyak orang yang bahkan tidak pernah mendengar cerita ini.
Dalam cerita asal usul pulau bangka ini, saya juga mengambil beberapa referensi, yaitu Bangka pada masa Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, kesultanan Palembang, Pulau Bangka dan Penjajah, serta Awal penambangan timah.

A. MASA KERAJAN SRIWIJAYA
Pada masa kerajaan Sriwijaya, pulau Bangka adalah salah satu jalur yang digunakan pada masa tersebut sebagai jalur pelayaran mereka dalam hal basis kekuatan. Kerajaan Sriijaya sendiri tumbuh dan berkembang sekitar tahun 392 Masehi, sebagai kerajaan Maritim yang menganut Agama Budha, tentunya dibawah kekuasaan Syailendra

B. MASA KERAJAAN MAJAPAHIT
Pada Masa Kerajaan Majapahit tahun 1293, Pulau Bangka sempat dijadikan sebagai basis pertahanan dengan maksud memantau tingkat kekuasaan Sriwijaya yang semakin melemah pada  saat itu. Dibawah pimpinan Hayam wuruk, yang kala itu kekuasannya mencakup hampir seluruh kepulauan nusantara, memanfaatkan Bangka sebagai pusat pemantauan kekuatan terhadap Sriwijaya, namun pada masa Sriwijaya dan Majapahit, potensi sumber daya alam tidak terlalu di expose, karena kemungkinan besar, pada masa dua kerajaan itu tidak mengetahui tentang besarnya potensi sumber daya alam yang ada di Pulau Bangka, sehingga kemudian ditinggalkan dan menjadi sarang perompak yang ganas. Diperkirakan sekitar abad XV. Berdasarkan pendapat Ibid, pada awal 1600-an, terdapat pasukan yang datang dari minangkabau, yang kala itu dipimpin oleh Sultan Johor, merubah kondisi Pulau Bangka, terutama dalam bidang keamanan dan keagamaan. Walaupun, pada awalnya, pasukan Panglima perang tuan sarah dan raja alam Harimau Garang hanya bermaksud menumpas para perompak yang mendiami pulau Bangka pada waktu itu, namun lama kelamaan mereka mengembangkan Islam. Jadi bisa disimpulkan bahwa Islam mulai masuk ke pulau Bangka pada awal 1600-an.

C.  MASA KESULTANAN PALEMBANG
Hampir bersamaan dengan masuknya Belanda ke Indonesia pada awal tahun 1600-an, Pulau Bangka mulai dikuasai oleh Kerajaan Banten dengan mengangkat Bupati Nusantara untuk memerintah Bangka dengan pusat kekuasaaan di Bangka Kota. Sultan Abdurrachman yang memerintah Kesultanan Palembang ( 1662-1706 ) pada masa itu meminang Puteri Bupati Nusantara di Bangka Kota dan ketika Bupati nusantara wafat kemudian kekuasaan tersebut beralih ke kekuasaan Kesultanan Palembang. Sepeninggal Sultan Abdurrachman, keturunan Sultan pecah dalam perselisihan dan mengakibatkan putera Sultan yang bernama Ratu Muhammmad Badaruddin meninggalkan Palembang ( Pendapat Ibid ). Tahun 1735, Kesultanan Palembang mengadakan perjanjian dengan penguasa Hindia Belanda tentang penjualan timah. Isi perjanjian tersebut menyebutkan bahwa Belanda memonopoli perdagangan timah di Bangka. ( Fachir Haitami, dkk, 2000 )

D. PULAU BANGKA DAN PENJAJAH
Belanda pertama kali mendarat di Nusantara tepatnya di Banten Pulau Jawa pada tahun 1596 dibawah pimpinan Cornelis de Houtman. Cukup lama setelah itu Belanda baru melirik Pulau Bangka sebagai salah satu daerah potensial penghasil timah. Ketika itu daerah ini masuk pada kekuasaan Kesultanan Palembang (Pendapat Ibid ). Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya, bahwa antara Kesultanan Palembang dengan Hindia Belanda telah mengadakan perjanjian tentang pengolahan hasil alam di Pulau Bangka, dan hasilnya adalah Belanda memonopoli Timah dan sebagai gantinya, Belanda akan melindungi Kesultanan Palembang. Sebuah catatan kontrak ini diadakan pada tanggal 10 juli 1668, sebagaimana disebutkan dalam buku Kepulauan Bangka Belitungdengan editor Achmad Sahabuddin, dkk ( 2003 ). Setelah tahun 1722, hubunga antara Kesultanan Palembang dengan pihak Belanda memburuk dan situasi ini dimanfaatkan oleh Inggris dan Prancis mengalahkan Belanda. Pada waktu itu, pihak Inggris dan Prancis masing-masing dipimpin oleh Lord Minto dan Thomas stanford Raffles, sementara Kesultanan Palembang ditinggal wafat oleh Sultan Mahmud Badaruddin yang kemudian digantikan oleh anaknya yang bergelar Sultan Mahmud Badaruddin II. Masuknya Inggris mendapat perlawanan keras dari Kesultanan Palembang, dan pada akhirnya dimenangkan oleh pihak Inggris. Dan dengan terpaksa, Kesultanan Palembang kemudian mengeluarkan pernyataan yang intinya menyerahkan kekuasaan atas Pulau Bangka dan Belitung kepada Inggris. Inggris memulai penguasaan terhadap Timah pada tahun 1812-1816, yang pada saat itu sempat mengganti nama Bangka dengan The Duke Of York dengan ibukota Mentok yang diganti dengan nama Minto. Nama Minto sendiri diambil dari Nama Lord Minto. Namun, pada tahun 1814, terjadi penandatanganan Traktat London yang mengakibatkan Inggris harus menyerahkan atau mengembalikan daerah yang telah direbut dari Belanda sebelumnya, yaitu teptnya pada tanggal 17 april 1827.

E.   AWAL PENAMBANGAN TIMAH
Penemuan timah pertama kali di Pulau Bangka memiliki beberapa versi, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.    Versi tahun 1707
Horsfield dalam Heidhues mengatakan bahwa timah dengan mudah terlihat ketika penduduk setempat melakukan pembakaran ladang-ladang untuk ditanami oleh penduduk setempat. Logam timah tampak meleleh ketika penduduk melakukan pembakaran. ( Pendapat Ibid )
2.    Versi tahun 1709
Orang yang di anggap memperkenalkan penambangan timah di Pulau Bangka adalah orang-orang Johor yang memiliki garis keturunan Cina yang beragama Islam dan juga merupakan kerabat Kesultanan Palembang
3.    Versi tahun 1711
Pada tahun ini juga disebutkan bahwa adanya kedatangan seorang Cina bernama Oen Asing ( Boen Asiong ) yang melakukan penambangan timah di Kampung Belo Mentok, orang ini pula yang melakukan berbagai macam gerakan pembaruan dalam penambangan timah, memperkenalkan penambangan timah dengan penggunaan mesin, teknik perapian untuk membakar timah yang lebih efisien dan melakukan standarisasi bentuk dan berat timah. ( pendapat Ibid ).





Sabtu, 23 April 2016

DONGENG AIR DANAU LINDU



DONGENG DANAU LINDU
Dikisahkan bahwa suatu hari kapal yang membawa Sawerigading sepulang dari perjalanan ke tanah China untuk mengawini tunangannya We Cudai berkunjung ke laut kaili. Saat itu di tanah kaili terdapat beberapa kerajaan lokal yang berdaulat mulai dari Banawa, Bangga hingga Sigi. Setelah berkunjung ke Ganti, ibu kota kerajaan Banawa, Sawerigading berlayar ke arah selatan menuju pantai negeri sigi-pulu, dalam wilayah kerajaan sigi. Perahu Sawerigading berlabuh dipantai Uwe mebere, yang sekarang ini bernama Ranaromba. Kerajaan sigi dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ngginayo atau Ngilinayo yang berparas cantik dan namun belum menikah. Sawerigading terpikat oleh kecantikannya dan langsung mengajukan pinangannya untuk menjadikannya permaisuri, untuk memenuhi permintaanya Ngginayo mensyaratkan agar ayam aduan sawerigading yang bernama Baka Cimpolong terlebih dahulu mengalahkan ayam aduan raja sigi yang bernama Calabai, syarat itu disetujui Sawerigading , sehingga disepakatilah suatu waktu untuk menggelar upacara adu ayam sekembali dari kunjungan sawerigading kepantai barat, sambil di persiapkan arena (wala-wala) adu ayam.Dipantai barat perahu Sawerigading berlabuh dipantai kerajaan Bangga, yang dipimpin oleh raja Wambulangi seorang perempuan yang bergelar Magau Bangga.dengan magau Bangga Sawerigading mengikat perjanjian persahabatan.

Setelah kunjungan ke bangga Saweri Gading kembali ke Sigi. Dalam perjalanan itu Sawerigading singgah di sebuah pulau kecil Bugintanga (pulau tengah), untuk menambatkan perahunya ia menancapkan sebatang tonggak panjang (Tokong –bgs-) ketika meninggalkan pulau itu Sawerigading tidak mencabut Tonggak itu, sehingga bertumbuhlah dan sampai kini dipercaya oleh penduduk sebagai kebangga atau bululanga yang terletak di kampung kaleke.    
Di Sigi persiapan pertarungan sudah diselesaikan, sebuah gelanggang (wala-wala) sudah di sediakan bagi baka cipolong dan calabai, para penduduk juga sudah mendengarkan dan bersiap untuk menyaksikan pertarungan yang akan digelar kesekan paginya, namun diluardugaan, satu malam sebelum upacara dimulai, tersiar kabar, yang mengharuskan pertarungan itu dibatalkan.

Anjing Sawerigading yang digelar La Bolong (si Hitam -bgs-) diam-diam turun dari perahu, untuk berjalan-jalan di dataran Sigi. Tanpa di sadarinya ia berjalan terlalu jauh ke selatan hingga kemudian terperangkap kedalam sebuah lubang yang besar tempat kediaman se ekor Lindu (belut) yang sangat besar. Karena merasa terganggu dengan kedatangan anjing La Bolong yang tiba-tiba itu maka si Lindu menjadi marah dan menyerang La Bolong sehingga terjadilah pertarungan yang amat sengit antara keduanya. Sedemikian dahsyatnya pertarungan itu sehingga seolah-olah menimbulkan gempa yang menggetarkan bumi, penduduk pun menjadi panik dan ketakutan dibuatnya. Pada satu kesempatan La Bolong berhasil menyergap Lindu itu dengan taring-taringnya, kemudian dengan cengkeraman mulutnya ia menyentakan dan menarik sang Lindu hingga tercabut dari lubangnya. Sejenak kemudian La Bolong menyeret dan melarikan belut yang meronta-ronta itu ke arah utara.   
Sementara itu, lubang tempat tinggal Lindu yang telah menjadi kosong dengan cepat terisi air, Sehingga lama kelamaan menjadi penuh dan meluap-luap, menggenangi daerah sekitarnya sampai akhirnya membentuk sebuah danau yang saat ini dikenal sebagai danau Lindu. 

Demikian riwayat danau Lindu yang dikutip dari legenda Sawerigading, sebagaimana penuturan Matulada dalam bukunya sejarah dan kebudayaan To Kaili. Dibandingkan dengan penuturan Paulus Tampilangi, salah seorang tokoh Lindu pada tahun 2001, mitos pembentukan danau Lindu sedikit berbeda, meskipun alur ceritanya memiliki beberapa kemiripan sbb,    Di kisahkan, pada jaman dahulu kala dataran disekitar Lindu belum menjadi tempat tinggal manusia karena pada umumnya masyarakat pada saat itu memilih untuk tinggal di lereng-lereng gunung, maupun punggung-punggung bukit dalam kelompok-kelompok kecil yang terpencar-pencar, di Lantawongu, Katapia, Watureo, Sindimalei Lindu Tongoa dan Sandipo.
       
Beberapa jarak dibawah kaki gunung mapun bukit-bukit itu terdapat dataran, yang digenangi air sehingga membentuklah suatu rawa yang sangat luas. Di rawa itu hidup seekor Lindu atau belut yang sangat besar ukurannya. Selain besar Lindu, dikisahkan bahwa Lindu itu sangat buas. Ia menyerang dan memangsa hewan apa saja bahkan manusia yang dijumpainya disekitar rawa. Itulah sebab tidak seorangpun yang masyarakat pada saat itu yang berani datang apalagi bermukim tepian rawa.
       
Lindu itu hidup bak raja di daerah rawa yang maha luas itu, tidak henti-hentinya ia memangsai hewan-hewan hutan yang datang untuk minum dipinggiran rawa, tidak jarang manusia yang tersesat kedaerah rawapun dijadikannya santapannya, sehingga lama kelamaan jumlah anggota masyarakat yang menjadi mangsa Lindu menjadi banyak dan terus menerus bertambah banyak, sehingga mengakibatkan keresahan di kalangan masyarakat Lindu. 
Keresahan yang menumpuk mulai menimbulkan ketakutan yang menghantui seluruh masyarakat pada saat itu. Keadaan ini mendorong totua maradika, ngata dan todea berkumpulah di suatu tempat untuk menyelenggarakan musyawarah (Mo Libu), dalam musyawarah itu para tokoh merundingkan cara untuk membunuh Lindu yang jahat itu. 
Dikisahkan bahwa jalannya musyawarah berlangsung alot, silang pandapat terjadi antara para tokoh yang menghendaki agar setiap pemukiman mengirimkan sepuluh orang terkuatnya untuk membunuh lindu itu dengan para Tokoh yang mengusulkan untuk meminta bantuan ke keluarga mereka di Kerajaan Sigi, dengan pertimbangan hamparan rawa sangat luas bagi mereka, sehingga akan sulit untuk mengetahui dimana tepatnya lindu berada. Apalagi Lindu selalu berpindah dari satu tempat ketempat dalam mencari mangsanya, sehingga usul untuk meminta bantuan kesigilah yang diterima. Para pemuka bahwa percaya bantuan dari Kerajaan Sigi akan cepat menyelesaikan masalah.
       
Kerajaan Sigi pada waktu itu dipimpin oleh seorang raja perempuan yang bernama Bunga Manila , seorang raja yang terkeanl arif dan bijaksana, konon kabarnya ratu Bunga manila merupakan penjelmaan daun “tovavako”. Para pemuka di Lindu mengira saat itu Bunga Manila memiliki anjing pemburu yang terkenal berani, tangkas, kuat dan ganas yang bernama Liliwana atau penjelajah rimba. Menyusul keputusan itu, diberangkatkanlah beberapa orang menyampaikan ke kerajaan Sigi.   
Di kerajaan Sigi, Ratu Bunga Manila, merasa sedih dan terharu begitu mengetahui kemalangan yang menimpa suadara-saudaranya di Lindu. Terlebih lagi ketika ia mengetahui maksud kedatangan keluarganya dari Lindu untuk memintai bantuannya mengirimkan Liliwana untuk menumpas sang Lindu, sementara ia tidak pernah memiliki anjing pemburu seperti dimaksudkan masyarakat Lindu itu.      
Akan tetapi untung sekali, beberapa orang disekitar istana Bunga Manila yang turut mendengarkan percakapan itu mengaku pernah mendengar dan mengetahui perihal anjing perkasa yang bernama Liliwana itu. Disampaikannya Liliwana adalah anjing milik seorang raja di dari kerajaan Luwu di Sulawesi bagian Selatan. Mendengarkan hal ini Ratu Bunga Manila segera mengirimkan utusan ke kerajaan Luwu hal ini dilakukannya demi membantu saudara-saudaranya di Lindu.      

Pada saat itu antara kerajaan sigi dengan kerajaan Luwu berikut kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi selatan telah terjalin hubungan yang baik. Hubungan itu antara lain terjalin melalui kerjasama di bidang perdagangan. Sebelum memberangkatkan utusannya Raja Sigi terlebih dahulu menyampaikan bahwa di selatan terdapat enam buah kerajaan, yang di ilustrasikan dengan ; “Payung ri Wulu, Somba ri Gua, Mangkau ri Bone, Datu ri Sopeng, Ade ri Sidrap dan Aung ri Wajo”.     
Penyampaian ini dilakukan Raja Sigi agar supaya para utusan nantinya dapat menyampaikan pesan dengan baik-baik, santun dan berhati-hati, karena mereka akan berhadapan dengan raja-raja yang arif. Setelah memperoleh wejangan, berangkatlah utusan Raja Sigi yang terdiri dari tujuh orang. Dalam perjalanannya ke tujuh utusan pertama-tama menuju ke kerajaan Luwu. Di kerajaan ini para Utusan diterima dengan baik sekali, oleh Payung ri Wulu, mereka dijamu dengan baik mengingat hubungan yang baik antara kerajaan Sigi dan Luwu. Setelah melewati perjamuan di lingkungan istana, Payung ri Luwu memanggil utusan dari Raja Sigi itu untuk membicarakan maksud kedatangan mereka, ia menayakan berita apa yang hendak disampaikan oleh Raja Sigi kepadanya. Salah seorang utusan kemudian menceritakan apa yang terjadi dengan saudara mereka di Lindu sekaligus menyatakan maksud raja Sigi untuk meminjam Liliwana, anjaing pemburu yang kabarnya merupakan peliharaan Raja Luwu.   
Raja Luwu membenarkan berita itu, ia juga bersedia meminjamkan Liliwana kepada Raja Sigi, demi persahabatan yang sudah terjalin, sembari berpesan agar anjing pemburu itu diperlakukan sebaik-baiknya, seperti halnya memperlakukan anak sendiri.
Singkat cerita, utusan Raja Sigi segera pulang. Karena keadaan yang sangat mendesak lama waktu perjalanan dari Luwu ke Sigi yang biasa ditempuh selama tujuh hari dapat di lalui dalam satu hari. Setibanya di Sigi, Liliwana diistirahatkan dua hari, setelah itu barulah si anjing pemburu yang perkasa meneruskan perjalanan ke dataran Lindu. Tiba di Lindu, anjing pemburu yang gagah berani ini tidak menyia-nyiakan waktu, dengan indera penciumannya yang tajam, ia segera melacak keberadaan si Lindu. Dalam waktu yang singkat Liliwana segera menemukan buruannya, sejenak kemudian terjadilah pertarungan yang seru antara Liliwana dan Lindu. Dalam perkelahian yang sengit itu kedua hewan saling menyerang, menggigit dan bergumul. Suatu waktu Liliwana terlilit dan berada di bawah, tetapi disaat yang lain, Lindu yang berada di bawah. Demikianlah terjadi berulang kali dalam waktu yang lama.      
Pertarungan antara Lindu dan Liliwana disaksikan oleh masyarakat yang dari tujuh pemukiman yang berada di perbukitan dan pegunungan disekeliling rawa. Mereka menyaksikan pertarungan itu dengan perasaan was-was dan khawatir, tidak sedikit yang meneteskan air mata karena tegangnya, mereka sangat khawatir kalau-kalau Liliwana tidak dapat mengalahkan si Lindu, karena dapat dibayangkan bagaimana akibatnya bila ternyata sang Lindu keluar sebagai pemenang.      
Namun untunglah, pada suatu kesempatan Liliwana berhasil menggigit kepala Lindu itu dengan kuatnya, taring-taringnya yang tajam menghunjam kedalam daging hingga tengkorak Lindu, dan mencengkeramnya dengan kuat. Si Lindu menggelatarkan badannya yang besar, meronta-ronta, sambil memukul-mukulkan badannya mengipasi tumbuhan dan pepohonan yang ada dipermukaan rawa yang berlumpur, namun cengkeraman Liliwana terlalu kuat, sehingga ia tak kuasa meloloskan diri, sehingga lama kelamaan Lindu menjadi lemah dan akhirnya menemui ajalnya. Liliwana keluar sebagai pemenang.      
Kemenangan Liliwana disambut dengan penuh suka cita oleh seluruh penduduk lindu mereka bersorak dan bersyukur, sambil mengucapkan terima kasih didalam hati kepada Liliwana, anjing pemburu yang perkasa.     
Sejak itu, masyarakat Lindu menguak lembaran baru dalam hidupnya, mereka mulai membuka pemukiman baru di sekitar rawa, diatas tanah-tanah yang landai, diseputar rawa, tanpa ada rasa takut terhadap serangan Lindu. Ditempat ini mereka dapat mencetak sawah dan membuka perkebunan yang luas. Apalagi tanah disekitar rawa merupakan tanah yang subur, karena di bentuk melalui pelapisan humus yang dibawa aliran sungai yang berhulu di gunung-gunung disekelilingnya.     
Sementara itu, akibat pertarungan yang maha dahsyat antara Lindu dan Liliwana, permukaan rawa yang luas menjadi terkuak, membentuk sebidang danau yang besar. Orang-orang yang tinggal di sekitarnya menamakannya sebagai Rano Lindu atau Danau Lindu. Meskipun mengandung beberapa perbedaan, namun pada intinya kedua versi cerita rakyat diatas meyakini bahwa pembentukan danau Lindu, diawali dengan terjadinya pertarungan antara seekor Lindu dengan se ekor anjing pemburu.   

Jika dikaitkan secara ilmiah menurut Whitten (1987) yang menghubungkan dengan analisa binatang moluska, menyatakan bahwa Danau Lindu terbentuk pada masa kira-kira antara 5 sampai 1.6 juta tahun yang lalu. Cerita versi kedua lebih mendekati nyata.
Kedua riwayat juga mengkaitkan riwayat pembentukan danau Lindu dengan kerajaan sigi dan bangsawan-bangsawan dari sulawesi selatan, yaitu Sawerigading dari Bone dan Payung Ri Luwu dari kerajaan Luwu, melalui intermediasi raja perempuan Sigi. Keterkaitan itu dijalinkan melalui kepemilikan mereka terhadap anjing pemburu yang perkasa (Liliwana versi Tampilangi atau La Bolong versi Matulada).
Sawerigading adalah tokoh legendaris dalam cerita rakyat tanah kaili. Tokoh ini dihubungkan dengan kedudukan kerajaan Bone, sebagai kerajaan bugis di Sulawesi selatan yang mempunyai hubungan persaudaraan dengan kerajaan-kerajaan di tanah kaili. Dapat diperkirakan bahwa hubungan-hubungan yang akrab antara kerjaan Bone dengan kerajaan-kerajaan di Tana kaili berlangsung pada abad ke-17. adapun tokoh sawerigading di sulawesi selatan tersebut terdapat dalam epos la-galigo, dipandang sebagai peletak dasar dan cikal bakal raja-raja bugis, khusunya dikerajaan Luwu yang terletak di sebelah utara kerajaan Bone. (Matulada, 1976, et al.,)
       
Menurut Matulada (et al.,) ada beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai alat identifikasi etnologis, untuk suatu kelompok manusia dalam suatu komunitas tertentu untuk membedakannya dari kelompok-kelompok lainnya. Biasanya digunakan beberapa kedaan khusus dari kelompok itu sebagai alat identifikasi yang dimaksud seperti ; dialek, ciri kebudayaan, nama tempat, keadaan alam tertentu dan sebagainya, keadaan itulah yang kemudian menjadi identitas atau sebutannya.Matulada (et al.,) juga mencontohkan bentuk pengelompokan yang dimaksud, misalnya berdasarkan bahasa, terdapat sebutan orang bugis atau orang jawa, kepada suatu kaum dikarenakan mereka berbahasa bugis maupun bahasa jawa; demikian halnya, berdasarkan dialeknya, sebagaimana Adriani dan Kruijt dalam Matulada (et al.,) mengelompokan dialek-dialek dalam kalangan yang disebutnya Toraja, dengan menggunakan kata sangkal seperti ; tae, rai, ledo, daá dan lain-lain. Selajutnya, berdasarkan ciri kebudayaan yang melekat pada suatu kaum Matulada, mencontohkan penamaan yang terjadi pada “to panambe” , yaitu masyarakat yang bermata pencaharian hidup dengan menggunakan alat penangkap ikan yang disebut “panambe”, sedangkan untuk suatu kelompok atau kaum yang diidentifikasikan menurut nama tempatnya, dicontohkan To Palu, To (ri) palu, ialah orang atau kaum yang bermukim di palu.Menggunakan pendekatan serupa itu, nampaknya identifikasi atau sebutan bagi Toi Lindu didasarkan pada nama tempat mereka bermukim saat ini, yaitu dataran di sekitar danau Lindu, sehingga masyarakat yang bermukim disekelilingnya di kenal sebagai To Lindu atau orang yang bermukim di dataran Lindu.  

To Lindu, merupakan sub kultur atau sub etnik Kaili. Matulada, 1976 mengelompokan beberapa kelompok etnis yang dapat dikategorikan sebagai bagian dari etnis Kaili, yang dalam pernyataan-pernyataan kulturalnya saat itu dapat disebut sesuai dengan nama tempat pemukimannya. Sebagai berikut ; 1) To palu, 2) To Biromaru, 3) To Dolo, 4) To Sigi, 5) To Pakuli, To Bangga, To Baluase, To Sibalaya, To Sidondo, 6) To Lindu, 7) To Banggakoro, 8. To Tamungkulowi dan To Baku, 9) To Kulawi, 10) To Tawaeli, 11) To Susu, To Balinggi, To Dolago, 12) To Petimpe 13) To Raranggonau, 14) To Parigi.  

Matulada mengakui bahwa dalam kalangan sub etnik tersebut acapkali terjadi penggolongan yang lebih kecil lagi, dengan ciri-ciri khusus, yang kelihatannya lebih dekat kepada kelompok kekerabatan, yang menunjukan sifat satuan geneologisnya. Kekhususan yang dimaksud dapat pula meliputi ceritera asal usul maupun dialek, yang merupakan pernyataan kulturalnya.
Hal demikian dapat dijumpai pada To Lindu. untuk menegaskan identitasnya, To Lindu memiliki sejumlah cerita rakyat (Folk Tale), mitos, tokoh-tokoh legendaris yang menjadi suatu pengikat solidaritas bagi anggota masyarakat yang terhisap kedalam sub etnis Lindu. 
Bahasa To Lindu digunakan To Lindu berdialek Tado. Dialek ini merupakan salah satu jenis dialek yang tergolong delam rumpun bahasa kaili sebagaimana Unde, Ledo, Tara, Daá dan lain-lain. Penggunaan dialeg ini juga membedakan To Lindu dengan kelompok-kelompok masyarakat lainnya dalam rumpun kaili, termasuk To Kulawi yang berbahasa Uma maupun Moma maupun Ompa. Dibandingkan dengan Pemakaian dialek lain dalam rumpun bahasa kaili, pemakaian dialek Tado kemungkinan merupakan populasi terkecil. Selain To Lindu, komunitas asli Sinduru di Desa Tuva, juga mengklaim diri sebagai pengguna dialek ini, meskipun dengan sedikit varian. Mereka menyebut dialek mereka sebagai dialek “Tado Mbei” , dalam cerita mengenai asal-usulnya, masyarakat Sinduru di Tuva, mengakui bahwa leluhur mereka dulunya berasal dari dataran Lindu, yang bermigrasi ke daerah barat dan membuka pemukiman pertamanya di Oda vatu, suatu tempat yang terletak di sebelah timur desa Tuva kecamatan Gumbasa saat ini. 

To lindu juga memiliki sejumlah cerita rakyat maupun mitos mengenai asal-usul mereka, maupun legeda-legenda mengenai ketokohan leluhur mereka, yang selain menimbulkan kebanggan pada diri mereka sebagai bagian dari To Lindu, juga menjadi pengikat solidaritas. Oleh Paul Cohen (2001, et al.,) menekankan bahwa mitos Mitos ini bukan berarti sesuatu yang salah atau tidak nyata. Sejarah sebagai mitos dimaksudkan sebagai sejarah yang dipakai untuk justifikasi tindakan masa kini.


DONGENG PUTRA LANCANG KUNING



DONGENG LANCANG KUNING

Sebutan Lancang adalah sebuah perahu dengan ukuran yang berbeda-beda, karena ada yang kecil dan ada pula yang besar, yang jelas lancang adalah alat perhubungan air pada masa lalu. Dalam masyarakat Riau lebih dikenal dengan lancang kuning yang merupakan suatu lambang kebesaran daerah Riau karena itu lancang kuning ditetapkan menjadi lambang dan nyanyi daerah Riau.

Adapun cerita lancang kuning adalah berasal dari sebuah kerajaan yang terdapat di bukit batu. Wilayah kabupatin bengkalis. Kerajaan ini di perintah oleh raja yang bernama datuk laksmana perkasa alim serta dibantu dua orang panglima yaitu panglima umar dan panglima hasan. Panglima umar adalah seorang panglima yang dipercayai datuk laksmana perkasa untuk menyelesaikan sesuatu jika terjadi persoalaan dalam kerajaan. Umpamanya jika terjadi perampokan di perairan, setiap tugas dapat diselesaikan dengan baik.

Pada suatu hari panglima umar menghadap datuk laksmana perkasa untuk menyampaikan hasrat hati yaitu untuk mempersunting zubaidah, seorang gadis negeri itu. Permohonan umar disambu dengan baik oleh datuk laksmana, dengan persetujuan datuk laksmana dilangsungkan pernikahan dan tanda kegembiraan diadakan pesta dan keramaian besar-besaran.
Rupanya keparcayaan yang diberikan dan perkawinan panglima umar dengan zubaidah menimbulkan rasa tidak senang bagi panglima hasan, timbul dendam. Hal ini timbul dikarenakan rupanya panglima hasan juga simpati dan mencintai zubaidah itu. Rupanya apa yang diinginkan itu telah di dahului panglima umar.

Untuk melepaskan rasa sakit hati panglima hasan mencari akal bagaimana agar zubaidah dapat dimilikinya, maka dengan akal busuknya panglima hasan menyuruh bomo menyampaikan kepada datuk laksmana bahwa dia bermimpi agar datuk laksmana membuat lancang kuning untuk mengamankan semua perairan dari lanun. Apa yang disampaikan pawang bomo diterima oleh datuk laksmana, sehingga lancang kuning dikerjakan siang malam setelah lancang kuning hampir selesai tersebar berita bahwa bathin sanggoro telah melarang para nelayan bukit batu untuk mencari ikan di tanjung jati.

Dengan adanya berita ini datuk laksmana memerintahkan agar panglima umar berangkat dan menemui bathin sanggoro, sungguh berat hati panglima umar untuk berangkat karena istrinya sedang hamil tua dan tak lama lagi ia akan melahirkan, tapi karena tugas yang sangat penting, semua perasaan itu ditahan, demi kerajaan yang tercinta.

Setelah berlayar beberapa hari sampailah panglima umar kepada bathin sanggoro dan di ceritakan semua berita yang tersebar di bukit batu. Mendengar cerita itu bathin sangoro terkejut, karena selama ini dia tidak pernah melarang nelayan bukit batu menangkap ikan di tanjung jati. Mendengar cerita bathin sanggoro panglima umar termenung dan berfikir, apakah karangan yang terjadi di balik peristiwa ini? Melihat keadaan ini lalu bathin sanggoro menganjurkan agar berita ini diselidiki dari mana asal muasalnya, dan di selidiki sewaktu perjalanan pulang.

Rupanya apa yang disampaikan bathin sanggoro dituruti panglima umar, sewaktu perjalanan pulang panglima berkeliling, guna mencari siapa yang membuat berita ini, sehingga tidak dirasakannya bahwa perjalanannya sudah satu bulan.

Malam ini tepat lima belas hari bulan purnama. Malam itu lancang kuning akan diluncurkan ke laut. Dibalai-balai telah banyak pemuka kerajaan dan penduduk negeri untuk menyaksikan peluncuran lancang kuning tersebut. Bermacam-macam hiburan rakyat dipertunjukkan. Semua penduduk negeri bergembira terkecualai zubaidah, karena suaminya panglima umar sudah satu bulan pergi dan sampai saat ini belum juga kembali dan karena itu ia tidak pergi menghadari acara peluncuran lancang kuning kelautan pada malam itu.

Setelah semua keparluan peluncuran lancang kuning di siapkan pawang domo memberikan petunjuk kepada datuk laksmana.acara peluncuran di mulai dengan tepung tawar pada dinding lancang kuning, kemudian di lanjutkan panglima hasan dan pemuka masyarakat lainnya. Selesai tepung tawar di lanjutkan dengan pengasapan dan baru lah semua yang hadir diperintahkan supaya berdiri disamping lancang kuning dan semua bunyi-bunyian di bunyikan dan semua yang telah memegang lancang kuning mendorong, tetapi alangkah anehnya, lancang kuning tersebut tidak bergerak sedikit pun hal ini dikerjakan berulang-ulang bahkan tenaga sudah di tambah, namun lancang kuning tidak juga bergerak. Hadirin yang hadir merasa heran dan bertanya-tanya, muka pawang domo merah padam.
Pawang domo segera bersembah kepada datuk laksmana dan berkata: ampunkan tuan ku yang mulia! Rupanya lancang kuning tidak bisa di luncurkan jika. . . . jika apa wak domo ? kata datuk laksmana, katakan lah! Jika lancang kunning ingin juga di luncurkan harus ada korban. Korban berapa ekor kerbau yang di perlukan wak domo? Tuan ku yang mulia, bukan kerbau. Wak domo menghampiri datuk laksmana dan membisikkan bahwa kurban yang di perlukan adalah perempuan hamil sulung datuk laksmana tertunduk dan termenung serta berkata kepada pawang domo bahwa agar perluncuran lancang kuning di undurkan saja.

Setelah sebagian orang pulang, panglima hasan pergi kerumah zubaidah dan di dapatinya zubaidah sedang duduk termenung. Zubaidah terkejutdengan kedatangan panglima hasan sambil berkata: mengapa lagi kau kesini panglima hasan? Berkata panglima hasan: zubaidah apa lagi yang kau tunggu zubaidah? Suami mu tidak akan kembali lagi, kerena itu biar akau yang menjadi ayah anak mu itu! Apa kata mu panglima pengkhianat ? biar saya mati dari pada saya bersuamikan kamu! Apa ? jawab panglima hasan. Jika kamu masih menolak permintaan ku, kamu akan saya jadikan gilingan lancang kuning yang akan di luncuran kelaut.

Karena zubaidah tetp menolak permintaan pangliama hasan, maka zubaidah di tarik dan matanya di tutup dengan di bantu oleh pengawalnya, setelah sampai di lancang kuning yang akan di luncurkan, panglima hasan mendorong tubuh zubaidah kebawah lancang kunung dan ketika itu juga panglima hasan memerintahkan supaya lancang kuning di dorong kelaut. Hanya di dorong oleh beberapa orang saja lancang kuning itu meluncur dengan mulus.
Setelah lancang kuning sampai di laut tampaklah darah dan daging zubaidah berserakan di tanah dan dan ketika itu turun lah hujan lebat petir dan angin kencang serta bertepatan waktu itu panglima umar merapat ke pelabuhan bukit batu.

Setelah perahu di tambatkan di pelabuhan panglima umar langsung kerumah untuk melihat istri dan anaknya yang telah di tinggalkan selama sebulan, tapi setelah sampai di rumah, rumahnya kosong, dipanggilnya zubaidah tetapi tidak ada jawaban. Hati panglima sudah mulai gelisah, maka dia berangkat kepelabuhan, di tengah jalan berpapasan dengan panglima hasan, langsung panglima umar bertanya kepadanya, dimana gerangan istri ku, panglima hasan menceritakan, istrinya zubaidah telah di jadikan gilingan lancang kuning oleh datuk laksmana.

Mendengar cerita panglima hasan tersebut panglima umar langsung pergi ketempat peluncuran lancang kuning, di dapatinya darah berserakan alangkah sedih hati panglima umar melihat tubuh istrinya itu, di sapunya darah yang ada yang di tanah itu serta di usapkan ke muka serta berkata bahwa dia akan membalas atas kematian istrinya itu kepada datuk laksmana, tetapi baru saja ia berjalan di lihatnya datuk laksmana berjalan kearahnya.

Setelah mereka bertemu pangliama umar langsung menyerang datuk laksmana dengan pedang yang panjang keperut datuk laksmana, tanpa ada pembicaraan sedikit pun, akhirnya datuk laksmana mati ditangan panglima umar, ketika itu juga datanglah pawang domo serta menceritakan segala kejadian yang sebenarnya, bahwa yang menjadikan zubaidah untuk gilingan lancang kuning adalah panglima hasan, tanpa mengulur waktu panglima umar pergi mencari panglima hasan.
Dari kejauhan panglima umar melihat panglima hasan sudah bersiap-siap untuk melarikan diri menuju lancang kuning tapi belum sempat melepaskan talinya panglima umar telah sampai, dengan pedang terhunus sambil berkata: nah. . . malam ini. . . engkau atau aku akan mati. Dengan di saksikan penduduk mereka berkelahi di atas lancang kuning. Dan akhirnya panglima hasan dapat di tikam panglima umar dan matinya jatuh kelaut.

Waktu itu lah panglima umar melihat ke pantai dan berkata kepada orang yang ada di pantai bahwa ia telah membunuh datuk laksmana karena perbuatan panglima hasan dan panglima hasan pun sudah mati di tangannya, kerna itu ia akan pergi dengan lancang kuning untuk selama-lamanya, dan ketika sampai di tanjung jati datanglah ombak besar dan angin topan sehingga lancang kuning tersebut karam dan ia bersama lancang kuning terkubur dalam laut tanjung jati serta kejayaan kerajaan negeri bukit batu berangsur-angsur mundur dan akhirnya tinggal setumpuk rumah saja lagi.